Carly Rae Jepsen: Pernikahan dan Anak Bukan Rencana Awal, Kini Hidup Lebih Terasa
Baca dalam 60 detik
- Carly Rae Jepsen mengaku tidak pernah membayangkan akan menikah dan memiliki anak karena fokus pada karier musik.
- Setelah menikah dengan Cole M.G.N. dan dikaruniai seorang putra, ia merasa hidupnya lebih utuh meski diliputi ketakutan.
- Pelantun Call Me Maybe itu kini menemukan keseimbangan antara kesuksesan dan kehidupan pribadi yang ia sebut sebagai titik manis.

Penyanyi pop asal Kanada, Carly Rae Jepsen, mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah membayangkan akan menikah dan menjadi seorang ibu. Selama bertahun-tahun, ia menganggap peran tersebut hanyalah kemungkinan yang jauh dari prioritas hidupnya.
Dalam wawancara dengan The Guardian, perempuan berusia 40 tahun itu mengaku memiliki visi yang sangat jelas tentang karier musiknya. "Saya selalu punya visi yang sangat jelas untuk hidup saya; bahwa saya dalam misi untuk membuat musik, dan itu, untuk waktu yang sangat lama, menjadi prioritas saya. Hal yang sama dengan menikah," ujarnya.
Jepsen menikah dengan musisi Cole M.G.N., yang bernama asli Cole Marsden Greif-Neill, pada Oktober tahun lalu. Pasangan ini kemudian dikaruniai seorang anak laki-laki pada Maret. Namun, sebelum itu, ia mengaku hanya melihat pernikahan dan anak sebagai gagasan hipotetis yang dimiliki orang lain.
Ia bahkan sempat meromantisasi perannya sebagai seniman yang lebih tepat menjadi pengamat kehidupan daripada terlibat aktif membangun hubungan. "Semua hal itu adalah ide bagus yang hipotetis milik orang lain. Mungkin saya hampir meromantisasi gagasan bahwa, sebagai seniman, tugas saya lebih sebagai pengamat kehidupan daripada berpartisipasi secara liar," tuturnya.
Sejak menjadi orang tua, Jepsen mengaku tidak pernah merasa lebih bahagia sekaligus lebih ketakutan. "Tidak ada yang lebih rentan daripada memiliki anak. Ini seperti detak jantung yang bernapas di luar diri Anda. Saya tidak pernah merasa lebih bahagia dan lebih ketakutan โ tapi saya merasa sangat, sangat hidup," katanya.
Ia juga menyatakan bahwa di tahap hidupnya sekarang, ia lebih nyaman dengan hal-hal yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. "Pada tahap hidup saya ini, saya merasa jauh lebih nyaman dengan bagian-bagian yang tidak sepenuhnya saya kendalikan," tambahnya.
Dalam wawancara terpisah dengan The Hollywood Reporter, Jepsen mengungkapkan bahwa ia telah menemukan "titik manis" antara kesuksesan dan kehidupan pribadi. "Di mana saya berada sekarang dalam karier saya adalah titik manis. Saya bisa menjalani hidup, pergi ke toko kelontong, memiliki keluarga, tur musik yang saya cintai, dan memiliki penonton. Itu adalah hal seimbang yang sangat sulit diperoleh dan harus kami perjuangkan," jelasnya.
Merenungkan ketenarannya yang meledak 15 tahun lalu, Jepsen mengaku bisa memahami tekanan yang dialami selebritas yang hidup dalam sorotan terus-menerus. "Itu terjadi begitu cepat sehingga saya merasa mengerti bagaimana rasanya bagi sebagian orang yang hidup di ruang itu secara konsisten, dan hati saya tertuju pada mereka," ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya tidak pandai menyesuaikan diri dengan ketenaran mendadak. "Saya hanya tidak terlalu pandai dalam hal itu," akunya. Ia pun berusaha tetap membumi dan fokus pada musik. "Saat itu, semuanya terjadi cukup cepat. Jika saya jujur, saya mendengar suara kecil dari dalam diri saya yang berteriak agar saya berpegang pada alasan saya memulai," kenangnya.
Kisah Carly Rae Jepsen ini menyoroti bagaimana seorang seniman dapat menemukan keseimbangan antara ambisi karier dan kehidupan pribadi. Di tengah industri hiburan yang menuntut dedikasi tinggi, pengakuannya menjadi cermin bahwa kebahagiaan sering kali datang dari hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak direncanakan.
Bagi penggemar di Indonesia, perjalanan hidup Jepsen bisa menjadi inspirasi bahwa prioritas dapat berubah seiring waktu. Kesuksesan tidak harus mengorbankan kehidupan pribadi, dan sebaliknya, kehidupan pribadi tidak harus menghalangi pencapaian karier. Pertanyaannya, akankah semakin banyak musisi muda yang mengikuti jejak Jepsen dalam mencari keseimbangan serupa?



