Oasis Umumkan Tur 2027: 11 Malam di Manchester, Knebworth, dan Tiket Berbasis Undian
Baca dalam 60 detik
- Oasis resmi menggelar tur stadion 2027 di Inggris, Irlandia, Eropa, dan AS, dengan pembuka lima malam di Celtic Park, Glasgow.
- Penjualan tiket hanya lewat registrasi undian, tanpa penjualan umum, untuk menghindari kekacauan seperti tur 2025.
- Harga tiket dipatok tetap £71,50–£266,60, dan penggemar Indonesia harus waspada biaya perjalanan serta penipuan calo.

Setelah berminggu-minggu memancing rasa penasaran lewat video-video simbolik, Oasis akhirnya membuka kartu: tur stadion bertajuk Oasis Live '27 akan menyambangi Inggris, Irlandia, Eropa, dan Amerika Serikat mulai Mei hingga September tahun depan. Pengumuman ini sekaligus mengakhiri spekulasi yang membuat basis penggemar Britpop global terus menanti.
Rangkaian konser dibuka dengan lima malam di Celtic Park, Glasgow, pada 21–29 Mei. Setelah itu, band yang digawangi Liam dan Noel Gallagher itu pulang ke Manchester untuk 11 pertunjukan di Etihad Stadium—sebuah residensi panjang yang jarang dilakukan band sekelas mereka. Pada Juli, mereka menyambangi Munich, Barcelona, Amsterdam, Paris, dan Roma, masing-masing dua malam.
Agustus menjadi giliran Amerika Serikat: tiga malam di Gillette Stadium, Boston, dan tiga malam di Allegiant Stadium, Las Vegas. September, Oasis menyeberang ke Slane Castle, Irlandia, untuk dua pertunjukan, sebelum menutup tur di Knebworth pada 19 September—lokasi konser legendaris mereka pada 1996. Empat malam di Knebworth menjadi puncak yang paling dinanti.
Yang tak kalah menarik, Oasis mengunci sistem penjualan tiket lewat undian. Penggemar harus mendaftar sebelum 17 September 2026 pukul 16.00 BST (22.00 WIB). Mereka yang beruntung akan menerima kode unik nontransfer untuk mengakses jendela pembelian yang telah ditentukan. Di Inggris, penjualan berlangsung 25–27 September dengan tiga sesi per hari. Tidak ada penjualan umum atau pra-penjualan lain—sebuah langkah yang disebut manajemen sebagai upaya "seadil dan semulus mungkin" setelah tur 2025 menuai kritik karena kacau.
Pendekatan ini jelas respons terhadap pengalaman pahit Oasis Live '25, ketika lonjakan permintaan membuat banyak penggemar gigit jari. Dengan harga tiket yang dipatok tetap, band berusaha meredam praktik dinamis yang kerap melambungkan harga. Namun, sistem undian tetap menyisakan pertanyaan: apakah benar-benar efektif menekan calo, atau justru memindahkan medan pertempuran ke pasar sekunder?
"Setelah periode refleksi, 'Kekuatan Budaya Pop Paling Merusak dalam Sejarah Inggris Modern' menyatakan diri siap dan akan kembali membangkitkan semangat rakyat. Mari saksikan kebugarannya. Sungguh pemandangan yang layak disaksikan."
Pernyataan tersebut merupakan sindiran terhadap kritik pedas jurnalis Simon Price, yang pernah menyebut Oasis sebagai "kekuatan budaya pop paling merusak". Nada menantang itu khas Gallagher bersaudara, sekaligus menegaskan bahwa reunisi ini bukan sekadar nostalgia. Richard Ashcroft akan menjadi artis pembuka di setiap pertunjukan.
Bagi penggemar di Indonesia, tur ini menawarkan daya tarik sekaligus tantangan. Tak ada tanggal di Asia, sehingga pilihan realistis adalah terbang ke Eropa atau AS. Biaya perjalanan, akomodasi, dan tiket yang harus didapat lewat undian membuat perencanaan menjadi rumit. Belum lagi risiko penipuan yang mengintai di grup media sosial, mengingat kode tiket bersifat nontransfer. Penggemar disarankan hanya mengandalkan situs resmi oasisinet.com dan tidak tergiur tawaran calo.
Dari sisi industri, tur ini diprediksi menggerakkan ekonomi kota-kota tuan rumah secara signifikan—mulai dari okupansi hotel, transportasi, hingga UMKM di sekitar stadion. Pemerintah kota Manchester, misalnya, bisa belajar dari gelombang wisatawan yang datang saat konser 2025. Efek berganda ini juga menjadi alasan mengapa residensi panjang di satu kota semakin diminati artis besar: mengurangi biaya logistik dan memaksimalkan dampak lokal.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya soal siapa yang beruntung mendapat kode, tetapi bagaimana model undian ini akan memengaruhi cara industri musik menjual tiket secara global. Jika sukses, bisa jadi standar baru. Jika gagal, kritik akan kembali mengarah pada sistem yang dianggap tidak adil. Oasis, seperti biasa, berada di pusat pusaran—entah sebagai penyelamat atau perusak, sesuai label yang mereka olok sendiri.



