Sarah Paulson dan Naomi Watts: Dari Rekan Kerja Jadi "Dua Anak Anjing" di Closing Night
Baca dalam 60 detik
- Sarah Paulson mengungkap kedekatan dengan Naomi Watts setelah syuting All's Fair dan Closing Night, menyebut hubungan mereka seperti saudara.
- Keduanya berperan sebagai kakak-beradik yang terpisah dalam debut penyutradaraan Cody Fern, yang tayang perdana di TIFF.
- Kedekatan ini membuka peluang kolaborasi lanjutan dan menyoroti dinamika perempuan paruh baya di Hollywood.

Sarah Paulson dan Naomi Watts kini bukan sekadar rekan kerja. Setelah terlibat dalam dua proyek berturut-turut, keduanya membangun ikatan yang oleh Paulson digambarkan sebagai hubungan kakak-beradik yang penuh tawa. "Kami seperti dua anak anjing di dalam kotak," ujarnya saat ditemui di studio People, Entertainment Weekly, dan Shutterstock di Toronto International Film Festival (TIFF), belum lama ini.
Kedekatan itu bermula dari serial drama hukum Hulu, All's Fair, yang tayang perdana tahun lalu. Dalam musim pertama, keduanya nyaris tidak memiliki adegan bersama. Namun, saat tur promosi, interaksi mereka justru berkembang pesat. "Kami selalu saling menggoda dan tertawa," tambah Paulson. Ia mengaku awalnya mengira Watts adalah sosok yang serius dan tekun, tetapi anggapan itu sirna setelah mereka bekerja sama. "Ternyata dia sangat konyol dan menyenangkan," katanya.
Kerja sama berlanjut ke film Closing Night, yang disutradarai Cody Fernโmantan lawan main Paulson di American Horror Story. Film ini menandai debut Fern sebagai sutradara layar lebar dan baru saja menggelar premiere dunianya di TIFF. Dalam film tersebut, Paulson memerankan Sandra Vale, seorang aktris terkenal yang mengundang keluarganya yang telah lama terpisah ke New York untuk pembukaan pertunjukan Broadway-nya. Watts berperan sebagai April, saudara perempuannya. Dianne Wiest melengkapi jajaran pemain sebagai ibu mereka, didampingi Odessa A'zion dan Toby Wallace.
Paulson mengungkapkan bahwa Watts sempat ragu menerima tawaran karena kendala logistik dan mengurus anak-anak. Namun, setelah membaca naskah yang ditulis Fern bersama Devon Bostick, Watts langsung jatuh cinta pada ceritanya. "Dia menulis kepada saya bahwa naskahnya indah dan dia ingin berbicara dengan Cody," kenang Paulson. "Dia berhasil mengatasinya karena memang menyukai naskahnya."
Bagi Paulson, peran-peran perempuan dalam film ini menawarkan kedalaman emosional yang jarang ditemui di Hollywood. "Sebagai perempuan paruh baya, ada tiga peran perempuan di film ini yang sangat kaya akan kemungkinan," ujarnya. "Anda akan bodoh jika tidak mau mengambilnya. Di mana lagi Anda menemukan materi seperti ini? Tidak ada."
"Kami benar-benar memiliki elemen persaudaraan, kami selalu saling menggoda dan tertawa. Saya merasa dia sangat mendebarkan untuk diajak berakting karena dia sangat terbuka dan memiliki banyak hal mengejutkan." โ Sarah Paulson
Kedekatan Paulson dan Watts bukan hanya cerita hangat di balik layar. Fenomena ini menyoroti bagaimana kolaborasi berulang di antara aktris senior dapat menciptakan dinamika kreatif yang memperkaya industri hiburan. Di tengah persaingan ketat, hubungan semacam ini juga membuka peluang proyek bersama di masa depan, sekaligus memberi contoh bahwa kerja sama lintas generasi dan pengalaman dapat menghasilkan karya yang resonan.
Bagi penonton Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi cermin bagaimana industri film nasional juga mulai melirik narasi perempuan dewasa yang kompleks. Dengan semakin banyaknya platform streaming yang menayangkan konten internasional, apresiasi terhadap peran-peran semacam ini berpotensi tumbuh. Akankah gelombang cerita perempuan paruh baya ini menginspirasi sineas Indonesia untuk mengeksplorasi tema serupa? Waktu yang akan menjawab, tetapi langkah Paulson dan Watts setidaknya telah membuka jalan.



