Teri Hatcher Pilih Pentas London di Tengah Peran Sebagai Pengasuh Orang Tua
Baca dalam 60 detik
- Aktris Teri Hatcher memutuskan menerima tawaran main musikal di London meski harus meninggalkan orang tuanya yang berusia 91 tahun dan membutuhkan perawatan intensif.
- Keputusan ini memaksanya menyeimbangkan karier dan tanggung jawab keluarga, sebuah dilema yang kerap dihadapi pekerja profesional, termasuk di Indonesia.
- Hatcher mengaku telah menyiapkan tim perawatan profesional dan mengandalkan FaceTime untuk tetap terhubung dengan orang tuanya selama di Inggris.

Artis senior Hollywood, Teri Hatcher, akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran tampil dalam pementasan musikal The Devil Wears Prada di London. Keputusan ini tidak mudah, karena ia harus meninggalkan kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia dan sangat membutuhkan perhatiannya sebagai pengasuh utama.
Hatcher, yang dikenal luas lewat serial Desperate Housewives, akan memerankan tokoh Miranda Priestly dalam adaptasi panggung dari film dan novel populer tersebut. Untuk sementara, ia akan pindah dari Los Angeles ke ibu kota Inggris demi menjalani peran barunya itu. Namun, di balik kegembiraan menyambut tantangan akting yang baru, ada pergulatan batin yang mendalam.
Dalam wawancara dengan majalah HELLO! edisi Inggris, Hatcher mengungkapkan bahwa ayahnya, Owen (91 tahun), menderita demensia, sementara kondisi ibunya, Esther, juga tidak baik. Keduanya tinggal di rumah yang tidak jauh dari kediamannya di Los Angeles. "Ketika tawaran ini datang, hal pertama yang saya pikirkan adalah: bisakah saya pergi dan bagaimana jadinya?" ujarnya.
Hatcher mengakui bahwa ayahnya sering lupa akan percakapan mereka karena penyakit yang dideritanya memengaruhi memori jangka pendek. Namun, ibunya masih ingat dan mereka berdua mendukungnya untuk terus menjalani hidup. "Saya tidak bisa berhenti hidup hanya karena harus merawat orang tua, tetapi ini memang sulit," katanya sambil menahan air mata.
Meski berat, Hatcher justru melihat peluang ini sebagai momentum untuk mengevaluasi diri. "Ini memaksa saya untuk melihat banyak hal, seperti ketika kita memilih untuk mengutamakan diri sendiri meski terasa sulit, dan berani menghadapi ketakutan bahwa kita tidak cukup baik," tuturnya. Ia merasa, sebagai perempuan berusia 61 tahun, pengalaman ini menjadi semacam evolusi spiritual yang ia butuhkan.
Untuk memastikan orang tuanya terurus selama ia di London, Hatcher telah bekerja sama dengan tim perawatan profesional selama beberapa bulan terakhir. Ia juga memiliki teman-teman dekat yang siap sedia jika dibutuhkan. "Syukurlah ada FaceTime! Saya sangat ingin membawa mereka ke London, tapi sepertinya itu terlalu rumit," katanya.
Kisah Hatcher ini mencerminkan dilema yang banyak dihadapi orang dewasa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Fenomena "sandwich generation"โdi mana seseorang harus menanggung biaya dan perawatan orang tua sekaligus anakโsemakin umum terjadi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi penduduk lanjut usia di Indonesia terus meningkat, mencapai 10,82% pada 2023. Hal ini menuntut adanya dukungan sosial dan kebijakan yang memadai bagi para pengasuh keluarga.
Di sisi lain, Hatcher juga membuka diri tentang kehidupan asmaranya yang sepi. Setelah bercerai dari Jon Tenney pada 2003, ia mengaku sudah tujuh tahun tidak berkencan. "Saya sangat single. Saya menjalani hidup dengan hati terbuka dan tidak akan pernah mengatakan tidak, tapi saya tidak berkencan," ujarnya sambil tertawa. Ia bercerita bahwa lingkaran pertemanannya sebagian besar sudah menikah, sehingga sulit menemukan orang baru. Bahkan saat festival Bottle Rock di Napa Valley, seorang teman pernah mengenalkannya pada seorang pria, tetapi pria itu tidak pernah menghubunginya.
Keputusan Hatcher untuk tetap mengambil peran di London menunjukkan bahwa seorang pengasuh keluarga pun bisa mengejar mimpi kariernya, asalkan ada perencanaan dan dukungan yang matang. Namun, pertanyaannya, apakah industri hiburan dan tempat kerja di Indonesia sudah cukup fleksibel untuk mengakomodasi kebutuhan para pekerja yang juga merawat orang tua? Ini menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.



