Ulta Levenia dan Narasi HAARP: Dari Erupsi Gunung hingga Gejolak Geopolitik
Baca dalam 60 detik
- Deputi Bakom RI Ulta Levenia memicu perdebatan dengan mengaitkan erupsi enam gunung di Indonesia dengan proyek HAARP AS, sehari setelah kunjungan Presiden Prabowo ke Rusia.
- Klaim tersebut dibantah ahli kebencanaan yang menegaskan erupsi adalah proses geologi alami, bukan hasil rekayasa teknologi, dan menilai narasi itu sebagai disinformasi.
- Fenomena ini mengulang pola teori konspirasi global yang pernah melibatkan Hugo Chavez dan Dharma Pongrekun, menyoroti tantangan literasi sains di tengah derasnya arus informasi digital.

Deputi Badan Komunikasi Pemerintah RI, Ulta Levenia Nababan, mendadak menjadi pusat perhatian publik setelah pernyataannya yang mengaitkan rentetan erupsi gunung berapi di Indonesia dengan proyek penelitian atmosfer Amerika Serikat, HAARP. Dalam unggahan Instagram pribadinya, ia berspekulasi bahwa enam gunung yang meletus secara bersamaan berkaitan dengan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Vladivostok, Rusia, pekan lalu.
Ulta, yang juga dikenal sebagai aktivis dan pengamat intelijen, mengaku pendapatnya itu hanyalah spekulasi pribadi tanpa dukungan ilmiah. Namun, ia menilai momen kunjungan kenegaraan ke Rusia yang diikuti fenomena alam tersebut memunculkan pertanyaan di benak publik. Ia bahkan menyebut proyek HAARP, yang berbasis di Alaska, kerap menjadi bahan perbincangan di podcast-podcast luar negeri sebagai alat potensial pencipta bencana, mulai dari badai hingga gempa bumi.
Pernyataan Ulta tidak pelak memantik reaksi keras dari para ahli. Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) yang juga mantan Kepala Gempabumi BMKG, menilai narasi tersebut sebagai bentuk disinformasi yang mengabaikan prinsip-prinsip sains dasar. Menurutnya, aktivitas vulkanik di Indonesia adalah keniscayaan geologis, bukan hasil dari sebuah tombol kendali. Ia menegaskan bahwa setiap erupsi selalu didahului oleh sinyal-sinyal prekursor, seperti peningkatan seismisitas gempa vulkanik dan tremor, yang terekam jelas oleh peralatan monitoring.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Sebelum Ulta, sejumlah tokoh dunia pernah mengaitkan HAARP dengan bencana. Mantan Presiden Venezuela, Hugo Chavez, misalnya, sempat menuding proyek tersebut sebagai biang keladi gempa bumi Haiti pada 2010. Di dalam negeri, eks calon gubernur DKI Jakarta, Dharma Pongrekun, juga pernah menyebut HAARP sebagai pencipta fenomena El Nino yang memicu kekeringan panjang. Pola yang sama terus berulang: ketika bencana melanda, teori konspirasi tentang senjata cuaca atau rekayasa ionosfer kembali mengemuka.
Yang menarik, klaim Ulta muncul di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan derasnya arus informasi digital. Ia sendiri mengaitkan erupsi tersebut dengan kunjungan Presiden Prabowo ke Forum Ekonomi Timur di Rusia, sebuah momen yang sarat makna politik. Pertanyaannya, apakah spekulasi semacam ini hanya sekadar iseng di media sosial, atau justru mencerminkan kegelisahan publik yang lebih dalam terhadap ketidakpastian global dan minimnya pemahaman sains?
Bagi Indonesia, yang berada di Cincin Api Pasifik, isu ini bukan sekadar soal teori konspirasi. Literasi kebencanaan menjadi krusial. Ketika pejabat publik menyuarakan spekulasi tanpa dasar ilmiah, hal itu dapat memicu kepanikan dan mengganggu upaya mitigasi bencana yang seharusnya berbasis data. Para ahli mengingatkan bahwa masyarakat perlu lebih kritis terhadap informasi yang beredar, terutama yang mengaitkan fenomena alam dengan agenda politik atau teknologi asing.
Ke depan, pemerintah dan para ilmuwan perlu lebih gencar mengedukasi publik tentang sains kebencanaan. Pertanyaannya, mampukah narasi ilmiah memenangkan pertarungan melawan teori konspirasi yang lebih sensasional di media sosial? Atau justru spekulasi semacam ini akan terus menghantui setiap kali bencana melanda negeri ini?



