Aston Villa di Persimpangan: Emery Uji Nyali di Liga Champions Tanpa Mesin Gol Lama
Baca dalam 60 detik
- Villa belum mencetak gol dalam tiga laga Premier League, memaksa Emery mencari formula baru di lini depan.
- Kepergian Watkins dan Rogers memaksa rekrutan anyar seperti Jackson dan Mbaye untuk segera beradaptasi.
- Laga kontra Club Brugge di Liga Champions menjadi ujian awal apakah proyek rekonstruksi Villa berjalan sesuai rencana.

Aston Villa memasuki babak baru dengan luka yang belum mengering. Tiga laga Premier League tanpa gol, hanya satu tembakan mengarah ke gawang, dan kini mereka harus segera berbenah sebelum melakoni laga kedua Liga Champions melawan Club Brugge, Selasa (22/10) dini hari WIB. Ini bukan sekadar krisis kecil, melainkan buah dari perombakan besar-besaran yang dilakukan Unai Emery sepanjang musim panas.
Musim lalu, Villa butuh lima pertandingan untuk mencetak gol pertama di liga, namun akhirnya menutup musim dengan manis: menjuarai Europa League di Istanbul. Namun, sejak malam bersejarah itu, enam pemain inti dari starting XI final hengkang. Rekor pembelian Nicolas Jackson (ยฃ65 juta) didatangkan untuk menggantikan Ollie Watkins yang pindah ke Al-Hilal, sementara Ibrahim Mbaye dan Alejandro Garnacho diplot mengisi kekosongan yang ditinggalkan Morgan Rogers yang dilego ke Chelsea dengan nilai fantastis ยฃ117 juta.
Emery bukan pelatih yang asing dengan situasi ini. Ia pernah membangun ulang timnya di Villarreal dan Valencia. Namun, tantangan kali ini lebih berat karena ia harus meracik kembali lini serang yang kehilangan 46% kontribusi golnya. Watkins dan Rogers musim lalu menyumbang hampir separuh gol Villa di Premier League. Kini, beban itu dipikul Jackson, Mbaye, dan Garnacho yang masih dalam proses adaptasi.
Perbandingan statistik antara Jackson dan Watkins memang masih timpang. Dalam dua musim terakhir di Premier League, Jackson mencetak 14 dan 10 gol, sementara Watkins 19 dan 16 gol. Tingkat konversi Jackson juga lebih rendah (13,2% berbanding 19,1%), dan sentuhan di kotak penalti pun lebih sedikit. Namun, Emery percaya pada Jackson karena pernah bekerja sama dengannya di Villarreal. Pelatih asal Spanyol itu memberi debut Jackson di La Ceramica dan yakin pemain Senegal itu bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan Watkins.
Kepercayaan itu juga didasari performa Jackson saat dipinjamkan ke Bayern Munich musim lalu, di mana ia membantu klub Jerman itu juara Bundesliga dengan tingkat konversi 21,1%. Namun, Emery tahu bahwa mencetak gol bukan hanya soal striker. Ia butuh Mbaye dan Garnacho untuk menjadi pemasok bola. Mbaye, yang dibeli dari PSG seharga ยฃ47 juta, dan Garnacho yang dipinjam dari Chelsea, diharapkan mampu menggantikan peran Rogers dan Digne yang memberikan 12 assist musim lalu.
Sayangnya, keduanya belum menunjukkan tajinya. Garnacho bahkan harus bersaing dengan pemain akademi, George Hemmings, yang oleh Emery disebut "jelas pemain Premier League". Sementara Mbaye baru tampil sebagai pemain pengganti saat melawan Hull. Emery mengakui bahwa integrasi 10 pemain baru membutuhkan waktu, tetapi ia tidak punya banyak waktu. Pertemuan taktiknya yang bisa berlangsung 90 menit hingga dua jam menunjukkan betapa detailnya ia ingin para pemain memahami filosofinya.
Krisis ini juga menjadi sorotan bagi pengamat sepak bola Indonesia. Banyak pemain Asia Tenggara yang kini merambah Eropa, dan perjalanan Villa bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya kesabaran dalam membangun tim. Klub-klub Indonesia yang sering berganti pemain dan pelatih bisa belajar dari pendekatan Emery yang tetap tenang meski tekanan datang. "Kami harus sabar dan memahami bahwa kami sedang membangun ulang tim. Mereka harus memahami cara kami dan tuntutan kami, dengan tetap menjaga mentalitas yang telah kami bangun, tetapi dengan pemain yang berbeda," ujar Emery dalam konferensi pers, seperti dikutip BBC.
Emery menegaskan bahwa saat ini bukan waktunya berpikir jauh ke depan. Fokusnya hanya pada laga demi laga. "Kami harus fokus pada setiap pertandingan. Laga berikutnya adalah Liga Champions, sesuatu yang membuat kami bersemangat dan termotivasi karena kami pantas berada di sana. Sekarang saatnya bersaing di Brugge pada Selasa. Setelah itu, kami akan memikirkan laga berikutnya di kandang melawan Nottingham Forest," tambahnya.
Pertanyaan besarnya, apakah Emery mampu mengulang kesuksesannya musim lalu? Dengan skuad yang jauh berbeda, tantangan yang dihadapinya kini lebih berat. Namun, jika ada pelatih yang dikenal mampu membangun tim dari puing-puing, itu adalah Unai Emery. Laga di Brugge akan menjadi jawaban awal apakah proyek rekonstruksi Villa berjalan sesuai rencana atau justru menjadi awal dari musim yang suram.



