Denda Rp 1,1 Miliar untuk Penyelenggara Acara Komedian China atas Ubah Lirik Lagu Revolusioner
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Wuhan menjatuhkan denda total lebih dari 596 ribu yuan kepada penyelenggara dan pengelola venue acara Guo Degang karena mengubah lirik lagu 'Playing My Beloved Pipa'.
- Sanksi ini menegaskan sensitivitas pemerintah China terhadap konten yang dianggap merusak warisan budaya dan sentimen nasional, terutama lagu-lagu perjuangan.
- Kasus ini menjadi pengingat bagi pelaku industri hiburan global tentang kepatuhan ketat terhadap regulasi konten saat tampil di China.

Otoritas kebudayaan dan pariwisata Wuhan menjatuhkan denda total lebih dari 596 ribu yuan (sekitar Rp 1,1 miliar) kepada penyelenggara dan pengelola gedung pertunjukan atas insiden komedian terkenal Guo Degang yang mengubah lirik lagu revolusioner 'Playing My Beloved Pipa' dalam pentasnya akhir Juli lalu. Sanksi ini menjadi sinyal keras bahwa pemerintah China tidak memberi ruang bagi modifikasi karya bernuansa sejarah perjuangan.
Dalam pengumuman resmi Senin (7/9), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Wuhan menyatakan perusahaan penyelenggara asal Jiangsu, Jiangsu Zidiruicheng Sports Culture Development, melanggar regulasi administrasi pertunjukan komersial. Perusahaan tersebut didenda 486.874 yuan dan diharuskan menyetorkan keuntungan ilegal sebesar 48.687,40 yuan. Sementara itu, pengelola venue, Wuhan Zhongnan Theater Management, dikenai denda 110.000 yuan. Keduanya juga mendapat peringatan resmi dan perintah untuk memperbaiki prosedur pengawasan terhadap materi pertunjukan.
Pelanggaran yang dituduhkan mencakup perubahan konten yang telah disetujui, penyajian materi yang dianggap merugikan kepentingan nasional atau tradisi budaya, serta kegagalan menghentikan dan melaporkan pertunjukan semacam itu. Biro tersebut menegaskan bahwa Guo Degang telah 'mendistorsi dan mengubah' lagu tersebut, yang memicu 'dampak sosial negatif yang serius'. Namun, mereka belum merinci hukuman bagi sang komedian, hanya menyatakan individu yang terlibat akan 'ditindak tegas'.
Lagu 'Playing My Beloved Pipa' berasal dari film klasik tahun 1956 'Railway Guerrilla', yang mengisahkan perjuangan buruh kereta api dan petani melawan penjajahan Jepang. Lagu ini juga termasuk dalam daftar 100 lagu yang dipilih Partai Komunis China pada 2019 untuk memperingati 70 tahun berdirinya Republik Rakyat China. Bagi pemerintah, lagu-lagu perjuangan bukan sekadar karya seni, melainkan simbol kolektif yang harus dijaga kemurniannya.
Kasus ini bermula dari laporan seorang penonton yang merasa keberatan dengan modifikasi lirik yang dilakukan Guo Degang. Komedian berusia 53 tahun yang dikenal lewat seni xiangsheng (lawak tradisional) itu belum memberikan komentar publik. Akun Weibo miliknya dengan 72,4 juta pengikut juga tidak menunjukkan aktivitas sejak 9 Agustus, mengindikasikan ia mungkin menahan diri di tengah penyelidikan.
Bagi pelaku industri hiburan, kasus ini menjadi pengingat akan ketatnya kontrol konten di China. Setiap pertunjukan yang melibatkan materi bernuansa sejarah atau politik harus melalui proses persetujuan yang ketat. Perubahan kecil pun dapat berujung pada sanksi finansial dan reputasi, seperti yang dialami Guo Degang. Fenomena ini juga relevan bagi pasar Indonesia, di mana regulasi konten semakin diperketat, meski dengan konteks yang berbeda. Para promotor dan seniman yang kerap mengundang bintang internasional perlu mencermati kepatuhan terhadap aturan lokal, termasuk sensitivitas budaya dan sejarah, agar terhindar dari risiko serupa.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana nasib karier Guo Degang di panggung nasional China. Akankah ia menerima sanksi administratif lebih lanjut, atau justru kasus ini meredup seiring waktu? Yang jelas, pemerintah China menunjukkan konsistensi dalam menjaga narasi sejarah, dan pelaku industri harus menyesuaikan diri dengan realitas tersebut.



