Chivu Siap Ukir Sejarah Baru Inter di Bernabéu: 'Kami Punya Kewajiban'
Baca dalam 60 detik
- Inter Milan membuka laga Liga Champions dengan ujian berat di kandang Real Madrid, Santiago Bernabéu, di mana mereka tak pernah menang selama 60 tahun terakhir.
- Pelatih Cristian Chivu menegaskan timnya tidak akan mengubah identitas permainan demi menaklukkan Los Blancos, meski menyadari misi tersebut penuh tantangan.
- Pertemuan ini juga menjadi ajang pembuktian bagi Inter yang telah dua kali mencapai final Liga Champions namun belum pernah meraih gelar sejak era Jose Mourinho.

Inter Milan mengawali petualangan Liga Champions musim ini dengan ujian paling berat: bertandang ke Santiago Bernabéu, markas Real Madrid, yang telah menjadi kutukan bagi Nerazzurri selama enam dekade. Pelatih Cristian Chivu menegaskan timnya tidak sekadar datang untuk berpartisipasi, melainkan bertekad menorehkan lembaran baru dalam sejarah klub.
Bagi Chivu, laga dini hari nanti bukanlah sekadar pertandingan pembuka. Ini adalah panggung untuk membuktikan bahwa Inter telah berkembang pesat di bawah arahannya, sekaligus melepaskan diri dari bayang-bayang kejayaan masa lalu yang diukir bersama Jose Mourinho pada 2010. Saat itu, Mourinho membawa Inter menaklukkan Eropa dengan treble winner, dan kini ia kembali duduk di bangku cadangan lawan.
“Kami punya kewajiban untuk menulis halaman-halaman penting dalam sejarah klub ini,” ujar Chivu dalam konferensi pers sebelum laga, seperti dikutip dari FCInter1908. “Dalam beberapa tahun terakhir, klub ini telah mencapai standar tinggi, dan kami harus melanjutkannya.”
Hubungan emosional antara Chivu dan Mourinho memang tak bisa dipungkiri. Chivu pernah menjadi bagian dari skuad treble winner 2010 dan mengakui Mourinho membantunya di masa-masa sulit. Namun, ia menolak anggapan bahwa filosofi kepelatihannya dibentuk oleh pria Portugal tersebut. “Saya tidak pernah meniru siapa pun. Saya punya ide sendiri tentang sepak bola, yang saya bangun sebagai pemain dan selama bertahun-tahun di sektor muda,” tegasnya.
Inter sendiri memiliki catatan buruk di Bernabéu. Mereka tak pernah meraih kemenangan di stadion tersebut sejak 60 tahun silam. Chivu menyadari betapa beratnya tantangan ini, tetapi ia tidak ingin timnya tampil di luar karakter. “Bermain di Bernabéu tidak pernah mudah bagi siapa pun. Banyak tim yang kesulitan menang di sini. Kami akan berusaha maksimal, tetapi tanpa mengubah siapa kami. Kami ingin tampil dominan dan menunjukkan bahwa kami telah berkembang,” katanya.
Chivu juga menyinggung rotasi pemain. Ia menegaskan bahwa yang terpenting bukanlah siapa yang tampil sejak menit awal, melainkan kontribusi seluruh skuad. “Tidak penting siapa yang menjadi starter, tetapi 16 pemain yang punya kesempatan berkontribusi dalam pertandingan. Apa yang terjadi dalam tiga laga liga pertama adalah buktinya,” jelasnya.
Persiapan Inter sedikit terganggu oleh jadwal padat. Pertandingan Serie A pada Sabtu lalu membuat waktu pemulihan pemain menjadi pendek. Chivu mengaku ingin memberi anak asuhnya satu hari istirahat tambahan, tetapi ia memahami tuntutan kalender. “Saya mungkin akan memilih satu hari istirahat lagi setelah pertandingan yang melelahkan dan indah pada Sabtu malam. Tapi ini jadwalnya, dan kami harus terbiasa,” tuturnya.
Menyoal format baru Liga Champions, Chivu mengingatkan bahwa tidak ada kemenangan yang dijamin. “Dalam dua edisi terakhir, kami semua memahami poin yang dibutuhkan untuk finis di delapan besar. Kami juga paham apa artinya tidak lolos. Play-off adalah pertandingan yang rumit; kemenangan di Liga Champions tidak pernah dijamin,” ujarnya.
Ketika ditanya mengenai pernyataan Mourinho yang menganggap Inter seharusnya sudah memenangkan Liga Champions dalam beberapa tahun terakhir, Chivu menjawab dengan nada retoris. “Pertanyaan yang harus diajukan kepadanya adalah apakah dia ingin Inter menang. Kami telah melaju jauh berkat kompetensi direksi dan kemampuan para pemain, yang selama delapan tahun terakhir menunjukkan hal-hal penting. Dengan ide dan kerja keras, melalui merit dan kemampuan, kami berada dalam situasi di mana banyak orang berpikir kami bisa melakukannya. Liga Champions itu kejam. Bahkan mereka yang memenangkannya harus melewati momen-momen tertentu dan membutuhkan sedikit keberuntungan. Kami hanya ingin bersaing,” paparnya.
Chivu juga menolak perbandingan antara timnya saat ini dengan skuad Inter era Mourinho yang sukses menaklukkan Eropa. “Saya tidak pernah membandingkan tim atau periode yang berbeda. Tim ini mencoba mencapai sesuatu dan telah melakukan hal-hal indah. Ini adalah kelompok pemain hebat yang ingin menulis halaman sejarah. Mereka telah bermain di dua final dan kalah, tetapi mencapai dua final tidak pernah mudah. Setiap tim hidup di zamannya masing-masing. Perbandingan tidak tepat untuk dilakukan, tetapi kami ingin menulis halaman penting,” ungkapnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menjadi tontonan menarik karena mempertemukan dua raksasa Eropa dengan gaya bermain kontras. Inter yang mengandalkan kolektivitas dan soliditas akan diuji oleh Real Madrid yang bertabur bintang. Hasil pertandingan ini juga bisa menjadi indikator awal kekuatan kedua tim di kompetisi paling bergengsi di Eropa tersebut.
Chivu menilai Real Madrid telah memulai musim dengan cukup baik meski kalah di laga terakhir. “Awal musim tidak pernah sederhana, dan masih terlalu dini. Ada pemain yang masih harus terbiasa dengan apa artinya bermain untuk Real Madrid, yang tidak pernah sederhana. Awalnya seimbang. Mereka kalah di pertandingan terakhir tetapi tidak pantas. Mereka punya pelatih penting yang tahu bagaimana melakukan hal-hal tertentu dan pemain level tertinggi,” katanya.
Mengenai apa yang ia pelajari dari Mourinho, Chivu mengaku banyak hal, terutama soal adaptasi dan mentalitas. “Dia sangat pandai beradaptasi dengan realitas yang dia wakili dan menyampaikan ide serta mentalitasnya. Dia adalah pemenang, tanpa keraguan. Dia tahu bagaimana menyampaikan hal-hal tertentu pada momen-momen tertentu. Hanya sedikit yang seperti dia. Dia telah menunjukkan di mana pun apa artinya menjadi pemenang. Saya yakin Real Madrid akan menjalani musim yang hebat,” pungkasnya.
Laga nanti bukanlah ajang nostalgia bagi Chivu. Ia ingin Inter membuktikan bahwa mereka telah melangkah jauh dan siap menciptakan sejarah baru. Namun, pertanyaannya, akankah Inter mampu memecah kutukan Bernabéu yang sudah berlangsung enam dekade? Atau justru Real Madrid yang akan menunjukkan kelasnya di hadapan publik sendiri? Jawabannya akan segera terungkap di lapangan.



