Archie Gray, Kuda Hitam Tottenham yang Siap Menyalip Tonali dan Fernandes
Baca dalam 60 detik
- Investasi besar Tottenham di lini tengah belum berbuah manis, membuka peluang bagi Archie Gray untuk unjuk gigi.
- Gray, yang sempat dikaitkan dengan Newcastle, justru dipercaya menjadi kapten di laga pembuka dan dinilai punya potensi senilai ยฃ100 juta.
- Jika performa Tonali dan Fernandes tak kunjung membaik, bukan tidak mungkin Gray akan mengambil alih posisi inti di bawah arahan De Zerbi.

Jendela transfer musim panas lalu menjadi saksi ambisi besar Tottenham Hotspur yang menggelontorkan dana lebih dari ยฃ300 juta, termasuk rekor pembelian termahal dalam sejarah klub sebesar ยฃ100 juta untuk Sandro Tonali. Namun, di balik gemerlap rekrutan mahal itu, sorotan mulai beralih kepada seorang pemain muda yang justru bisa menjadi pembeda: Archie Gray.
Tonali, yang direkrut setelah bersaing ketat dengan Arsenal, Manchester City, dan Manchester United, diharapkan langsung menjadi motor permainan. Namun, penampilannya di awal musim belum meyakinkan. Ia sempat kewalahan menghadapi Mamadou Sangare di laga pembuka melawan Brentford dan melakukan kesalahan yang berujung gol saat bertemu mantan klubnya. Adapun Mateus Fernandes, rekrutan ยฃ85 juta, juga belum konsisten, kerap keluar-masuk skuad utama dan hanya mendapat menit bermain terbatas.
Di tengah performa yang belum stabil dari dua bintang anyar tersebut, muncullah nama Archie Gray. Pemain berusia 20 tahun ini justru dipercaya menjadi kapten tim pada laga perdana melawan Brentford, sebuah sinyal kepercayaan besar dari pelatih Roberto De Zerbi. Meski laga tersebut berakhir mengecewakan, Gray dinilai memiliki kualitas yang jauh melampaui penampilannya saat itu.
Gray, yang direkrut dari Leeds United, sejatinya adalah gelandang murni meski kerap dimainkan sebagai bek sayap atau bek tengah. Kemampuannya dalam memulai serangan dari lini tengah menjadi sorotan. Data pada Desember 2025 menunjukkan 5,8 persen umpan Gray bersifat progresif, lebih tinggi dibandingkan Joao Palhinha dan Rodrigo Bentancur yang hanya 4,2 persen. Ia juga tercatat sebagai gelandang Tottenham dengan jumlah carry progresif terbanyak per 90 menit.
Potensi Gray tidak luput dari perhatian para pengamat. Duncan Alexander dari The Athletic bahkan menyamakannya dengan Declan Rice muda, sementara scout Como, Ben Mattinson, menyebutnya sebagai pemain "calon bintang ยฃ100 juta". Perbandingan dengan Rice bukan tanpa alasan; keduanya sama-sama memulai karier di lini belakang sebelum akhirnya bersinar sebagai gelandang.
Konteks ini menarik untuk dicermati, terutama bagi penggemar sepak bola di Indonesia yang kerap menjadikan Premier League sebagai liga favorit. Kehadiran pemain muda seperti Gray mengingatkan bahwa investasi besar tidak selalu langsung berbuah hasil, tetapi justru memberi ruang bagi talenta muda untuk berkembang. Jika Gray mampu menembus tim utama secara reguler, ia bisa menjadi inspirasi bagi pesepak bola muda Indonesia yang bercita-cita menembus kompetisi Eropa.
De Zerbi sendiri dikabarkan tidak panik dengan performa Tonali dan Fernandes. Namun, dengan kualitas yang dimiliki Gray, bukan tidak mungkin pelatih asal Italia itu mulai memberikan lebih banyak menit bermain kepadanya. Persaingan di lini tengah Tottenham pun diprediksi akan semakin sengit, dan Gray bisa menjadi kuda hitam yang merebut tempat inti.
Pertanyaannya kini, akankah De Zerbi berani mengambil risiko dengan menurunkan Gray secara reguler di tengah tekanan meraih hasil positif? Atau justru Tonali dan Fernandes akan segera menemukan performa terbaiknya dan menutup peluang Gray? Musim ini akan menjadi jawaban yang menarik untuk disaksikan.



