BMKG: Sepekan ke Depan, Sebagian Indonesia Masih Diselimuti Abu Vulkanik dan Asap Karhutla
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sejumlah wilayah Indonesia masih akan diselimuti abu vulkanik dan asap kebakaran hutan pada 8โ14 September 2026.
- Meski atmosfer kering akibat musim kemarau membatasi pertumbuhan awan hujan, hujan ringan hingga sedang tetap berpeluang turun di sebagian besar provinsi.
- Masyarakat di daerah terdampak diminta membatasi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker, serta menghemat air untuk mengantisipasi kekeringan dan karhutla.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca untuk periode 8โ14 September 2026: sejumlah wilayah di Indonesia masih akan diselimuti abu vulkanik dan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meskipun potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang tetap mengintai di sebagian besar provinsi.
Dalam rilis yang dipublikasikan Selasa (8/9/2026), BMKG menjelaskan bahwa sebaran partikel abu dan asap tersebut terjadi di tengah kondisi atmosfer yang masih relatif kering imbas musim kemarau. Akibatnya, pembentukan awan hujan secara signifikan berkurang, terutama di kawasan Indonesia bagian selatan. Namun, bukan berarti seluruh wilayah akan kering kerontangโsejumlah daerah justru berpotensi mengalami peningkatan hujan dengan intensitas sedang, terutama pada dua periode yang dipantau secara terpisah.
Untuk rentang 8โ10 September, hujan ringan hingga sedang diprakirakan mengguyur Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Selatan. Sementara itu, pada 11โ14 September, daftar wilayah bertambah mencakup Jambi, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Bali, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa Indonesia tengah berada di persimpangan antara musim kemarau yang masih berlangsung dan awal transisi menuju musim hujan. Bagi sektor pertanian dan perkebunan, curah hujan yang tidak merata berpotensi mengganggu siklus tanam, sementara bagi masyarakat perkotaan, kabut asap dapat memicu gangguan pernapasan. BMKG mencatat, hari tanpa hujan di sejumlah wilayah sudah masuk kategori panjang hingga ekstrem panjang, yang memperbesar risiko kekeringan dan meluasnya titik api.
Kepala BMKG dalam keterangan resminya mengimbau masyarakat yang tinggal di area terdampak abu vulkanik untuk membatasi aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa keluar, penggunaan masker dan kacamata pelindung menjadi keharusan guna mengurangi risiko iritasi saluran pernapasan dan mata. Imbauan serupa juga ditujukan kepada pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak cuaca panas dan udara yang lebih kering.
Lebih jauh, BMKG mendorong penghematan penggunaan air serta peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan. Langkah ini dinilai krusial mengingat sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya di selatan, masih akan mengalami kondisi tanpa hujan yang berkepanjangan. Para pengelola lahan dan perusahaan perkebunan pun diminta menahan diri dari praktik membakar lahan, yang kerap menjadi pemicu utama karhutla di musim kemarau.
Bagi warga di perkotaan seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya, kabut asap yang terbawa angin dapat menurunkan kualitas udara secara drastis. Data pemantau kualitas udara independen kerap menunjukkan lonjakan partikel halus (PM2.5) saat karhutla melanda Sumatra dan Kalimantan. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma, yang disarankan memantau informasi kualitas udara secara berkala.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah seberapa cepat transisi menuju musim hujan akan terjadi. Jika pola La Nina atau dinamika atmosfer lainnya mendukung, potensi hujan bisa lebih cepat merata dan membantu memadamkan titik api secara alami. Namun, jika kemarau berkepanjangan, bukan tidak mungkin karhutla akan meluas dan berdampak pada aktivitas penerbangan, pelayaran, serta kesehatan masyarakat lintas provinsi.



