Inter Milan Menatap Liga Champions dengan Ambisi, Bukan Obsesi
Baca dalam 60 detik
- Nerazzurri menegaskan target juara Liga Champions musim ini, namun menolak membebaninya sebagai obsesi.
- Rekor buruk kontra Real Madrid dan kegagalan di musim lalu menjadi ujian mental bagi skuad asuhan Simone Inzaghi.
- Pertandingan di Bernabeu akan menjadi barometer sejauh mana Inter mampu bersaing dengan elit Eropa.

Inter Milan memulai petualangan mereka di Liga Champions musim ini dengan modal ambisi yang kuat, tetapi tanpa beban obsesi. Kapten tim, Lautaro Martinez, menegaskan bahwa target menjadi juara adalah sebuah keinginan, bukan sesuatu yang menghantui pikiran pemain. Pernyataan ini muncul menjelang laga pembuka fase grup yang sarat gengsi melawan Real Madrid di Santiago Bernabeu, Rabu (8/9) dini hari WIB.
Bagi Inter, pertandingan melawan Los Blancos bukan sekadar laga pembuka. Ini adalah ujian nyata terhadap kapasitas mereka setelah dua kali gagal di partai puncak dalam tiga tahun terakhir. Kekalahan telak 0-5 dari Paris Saint-Germain di final 2025 masih membekas, menjadi kekalahan dengan margin terbesar dalam sejarah final turnamen. Kegagalan tersebut, ditambah tersingkir secara mengejutkan oleh Bodo/Glimt di babak play-off musim lalu, menunjukkan bahwa ada celah yang belum mampu ditambal Inter di panggung terbesar Eropa.
Catatan pertemuan dengan Real Madrid juga tidak berpihak pada Nerazzurri. Dalam tiga duel terakhir, Inter selalu kalah dan gagal mencetak gol. Terakhir kali mereka mampu membobol gawang Madrid di kompetisi Eropa terjadi bertahun-tahun silam. Situasi ini diperparah dengan tren negatif di Liga Champions musim lalu, di mana Inter menelan lima kekalahan dari enam laga terakhir mereka—jumlah kekalahan yang sama dengan yang mereka alami dalam 39 pertandingan sebelumnya.
Menariknya, laga ini mempertemukan dua sosok yang pernah bersama dalam kesuksesan Inter pada 2010. Jose Mourinho, arsitek treble winner saat itu, kini menukangi Real Madrid. Sementara Cristian Chivu, bek yang menjadi bagian dari skuad juara, kini duduk di kursi pelatih Inter. Pertemuan ini menambah bumbu tersendiri, namun bagi Martinez, fokus utama tetap pada permainan timnya sendiri.
Bagi pengamat sepak bola Italia, pernyataan Martinez mencerminkan upaya manajemen untuk meredam tekanan. Setelah investasi besar di bursa transfer, publik menuntut Inter kembali berjaya di Eropa. Namun, obsesi justru kerap menjadi bumerang. Dengan skuad yang kini lebih matang, Inter ingin membuktikan bahwa mereka bukan sekadar tim yang kuat di domestik, tetapi juga mampu bersaing dengan klub-klub raksasa seperti Madrid, Manchester City, atau PSG.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini juga menarik untuk disimak. Banyak pemain Indonesia yang menjadikan Inter sebagai klub favorit sejak era Roberto Baggio, Christian Vieri, atau Javier Zanetti. Keberhasilan Inter menembus final dua kali dalam tiga tahun terakhir menunjukkan konsistensi mereka di Eropa, meski gagal meraih gelar. Dukungan dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tetap mengalir deras, dan hal ini menjadi modal moral tersendiri bagi klub.
Pertanyaan besarnya, apakah Inter mampu memutus kutukan melawan Real Madrid dan memulai langkah mereka dengan percaya diri? Atau justru tekanan untuk segera merebut trofi yang sudah 16 tahun dinanti akan kembali menghambat performa mereka? Jawabannya akan mulai terlihat di Bernabeu, dan seluruh mata akan tertuju pada bagaimana Lautaro Martinez dan kawan-kawan menghadapi ujian pertama mereka.



