Lansia Jepang Kian Percaya Diri Berwirausaha: 20,5% Startup Baru Dikomandoi Usia 60 Tahun ke Atas
Baca dalam 60 detik
- Data Teikoku Databank mencatat rekor 20,5% perusahaan rintisan baru di Jepang pada 2025 dipimpin oleh pendiri berusia 60 tahun ke atas, naik 3,2 poin persen dari tahun sebelumnya.
- Fenomena ini didorong oleh meluasnya dukungan pemerintah daerah, mulai dari kompetisi rencana bisnis di Tokyo hingga subsidi hingga 2 juta yen di Prefektur Nara.
- Para pensiunan Jepang memanfaatkan jaringan dan pengalaman panjang mereka untuk membangun usaha yang berkelanjutan, bukan sekadar mengejar inovasi disruptif ala anak muda.

Tokyo — Geliat wirausaha di kalangan lansia Jepang kian menguat. Data terbaru dari Teikoku Databank Ltd. mencatat bahwa pada 2025, sebanyak 20,5 persen perusahaan baru di Negeri Sakura didirikan oleh individu berusia 60 tahun ke atas. Angka ini melonjak 3,2 poin persen dibanding tahun sebelumnya dan untuk pertama kalinya menembus batas psikologis 20 persen.
Fenomena ini tidak muncul dalam ruang hampa. Jepang, yang dikenal sebagai salah satu negara dengan populasi menua tercepat di dunia, kini menyaksikan pergeseran paradigma: masa pensiun bukan lagi akhir dari produktivitas, melainkan awal dari babak baru. Para lansia tidak hanya membuka usaha kecil-kecilan, tetapi juga memimpin perusahaan rintisan yang serius, memanfaatkan jaringan profesional yang telah mereka bangun selama puluhan tahun.
Pemerintah pusat dan daerah memainkan peran kunci. Tokyo Metropolitan Small and Medium Enterprise Support Center, misalnya, menggelar kompetisi rencana bisnis khusus untuk warga berusia 55 tahun ke atas. Sementara itu, Prefektur Nara menawarkan subsidi hingga 2 juta yen (sekitar Rp 210 juta) bagi wirausahawan senior yang ingin memulai usaha. Dukungan lain mencakup konsultasi gratis dengan pakar, acara networking, hingga bantuan administratif.
Mio Katagiri, presiden Ginza Second Life Corp., sebuah perusahaan yang khusus membantu wirausahawan senior, menilai hambatan untuk memulai bisnis kini jauh lebih rendah berkat dukungan pemerintah. "Dulu, sangat sulit bagi orang tua untuk membuka usaha. Sekarang, jalannya lebih terbuka," ujarnya. Ia menambahkan bahwa berbeda dengan pengusaha muda yang kerap mengejar inovasi disruptif, para senior justru didorong untuk memilih bidang usaha yang sesuai dengan kapasitas dan pengalaman mereka.
Kisah Chizuko Fukatsu menjadi ilustrasi nyata. Di usia 60-an, ia mendirikan Fukufuku-Ya LLC, sebuah perusahaan apparel yang menyasar perempuan berusia 80 tahun ke atas. Inspirasi bisnisnya lahir dari pengalaman pribadi: saat membelikan pakaian untuk ibunya yang tinggal di panti jompo, ia kesulitan menemukan produk yang sesuai selera dan kebutuhan ibunya. Setelah menyadari minimnya pilihan pakaian yang memadukan gaya dan fungsionalitas untuk kelompok usia tersebut, Fukatsu memutuskan untuk menciptakannya sendiri—meski ia tidak memiliki latar belakang di industri fashion.
Fukatsu mengaku harus belajar banyak hal dari nol, tetapi ia menekankan pentingnya kolaborasi. "Koneksi yang saya bangun melalui dukungan pemerintah daerah menjadi fondasi bisnis saya. Kuncinya adalah jangan mencoba melakukan semuanya sendiri," katanya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa ekosistem pendukung—bukan hanya modal—menjadi faktor krusial bagi kesuksesan wirausahawan senior.
Fenomena ini menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Dengan bonus demografi yang akan segera berakhir—Indonesia diproyeksikan mencapai puncak populasi usia produktif pada 2030-an—pelajaran dari Jepang menjadi relevan. Di Indonesia, kelompok usia 55 tahun ke atas sering kali terpinggirkan dalam ekosistem startup yang didominasi anak muda. Padahal, mereka memiliki modal sosial dan pengalaman industri yang tidak ternilai. Pemerintah daerah di Indonesia dapat meniru model Tokyo dan Nara dengan menyediakan program pendampingan, akses permodalan, dan ruang kolaborasi bagi wirausahawan senior. Tanpa itu, potensi besar mereka akan terus menganggur di tengah meningkatnya kebutuhan akan lapangan kerja kreatif.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah lansia bisa berwirausaha, melainkan bagaimana negara dapat menciptakan lingkungan yang memungkinkan mereka berkembang. Apakah Indonesia siap belajar dari Jepang sebelum gerbang bonus demografi tertutup? Waktu akan menunjukkan, tetapi jejak Fukatsu dan ribuan senior Jepang lainnya telah membuktikan bahwa usia hanyalah angka—selama ada kemauan dan dukungan yang tepat.



