Rybakina Bangkit dari Cedera, Satu Kemenangan Lagi dari Takhta Ranking WTA
Baca dalam 60 detik
- Elena Rybakina melaju ke perempat final US Open tanpa kehilangan satu set pun, hanya beberapa pekan setelah cedera pergelangan kaki memaksanya mundur dari Cincinnati.
- Kemenangan atas Naomi Osaka mengantarnya berhadapan dengan Zheng Qinwen; hasil positif akan menggeser Aryna Sabalenka dari posisi nomor satu dunia.
- Performa apik di Flushing Meadows ini menandai pencapaian terbaik Rybakina di turnamen tersebut dan menegaskan statusnya sebagai kandidat kuat gelar.

Elena Rybakina memastikan tempat di perempat final US Open setelah menumbangkan Naomi Osaka, Senin (9/9) waktu setempat, dan kini hanya butuh satu kemenangan lagi untuk merebut posisi nomor satu dunia dari Aryna Sabalenka. Petenis asal Kazakhstan itu tampil impresif sepanjang turnamen tanpa kehilangan satu set pun, sebuah pencapaian yang kontras dengan kondisi fisiknya yang diragukan menjelang ajang dimulai.
Rybakina tiba di New York dengan status cedera pergelangan kaki yang dialaminya saat mundur dari perempat final Cincinnati Open melawan Iga Swiatek pada Agustus lalu. Ia bahkan tidak bermain selama tujuh hari menjelang US Open dan hanya bisa menjalani latihan terbatas. Namun, petenis unggulan kedua itu mampu tampil gemilang, menghancurkan perlawanan Osaka yang merupakan dua kali juara turnamen ini di babak keempat.
Kemenangan tersebut mengantarkan Rybakina berhadapan dengan Zheng Qinwen, peraih medali emas Olimpiade Paris 2024. Jika mampu melewati Zheng, Rybakina dipastikan menggeser Sabalenka dari puncak klasemen WTA yang akan dirilis pekan depan. Ini menjadi peluang besar bagi Rybakina untuk mencapai peringkat tertinggi dalam kariernya, setelah sebelumnya konsisten berada di posisi tiga besar.
"Persiapan saya tidak terlalu baik. Saya tidak bermain selama tujuh hari dan tidak bisa banyak bergerak di gym, jadi kami harus benar-benar menjalaninya hari demi hari," ujar Rybakina dalam konferensi pers, seperti dikutip Channel News Asia. "Perkembangannya luar biasa. Saya senang semuanya berjalan baik. Kami bahkan tidak tahu apakah saya bisa bermain atau tidak. Saya punya tim yang hebat, dan dokter yang selalu siaga melalui telepon."
Pencapaian ini menjadi yang terbaik bagi Rybakina di US Open. Sebelumnya, ia tak pernah lolos melewati babak ketiga di Flushing Meadows. "Sekarang segalanya semakin baik," katanya. "Saya biasanya tidak tampil bagus di sini. Tahun ini terasa yang terbaik dari semua tahun saya bermain di sini. Saya suka New York, kota yang luar biasa. Mungkin hanya untuk dua atau tiga minggu, karena setelah itu mungkin terlalu ramai. Saya benar-benar menyukai penonton di sini dan menikmati bermain di stadion seperti ini."
Kebangkitan Rybakina di tengah cedera menjadi sorotan utama turnamen. Ia menunjukkan ketahanan mental dan fisik yang luar biasa, mengingat hanya beberapa pekan lalu ia harus meninggalkan lapangan di Cincinnati dengan rasa sakit. Perjalanannya di New York juga mengirim pesan jelas ke para pesaingnya: dalam kondisi tidak prima pun, ia tetap menjadi ancaman serius.
Bagi penggemar tenis Indonesia, performa Rybakina menjadi tontonan menarik. Ia adalah salah satu dari sedikit petenis non-unggulan yang konsisten tampil di papan atas, dan perjuangannya melawan cedera bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda di Tanah Air. Selain itu, persaingan memperebutkan posisi nomor satu dunia yang melibatkan Sabalenka, Swiatek, dan kini Rybakina menambah dramatisasi musim ini.
Laga perempat final melawan Zheng Qinwen diprediksi berlangsung sengit. Zheng, yang baru saja meraih emas Olimpiade, tampil percaya diri dan memiliki pukulan groundstroke yang kuat. Namun, Rybakina memiliki keunggulan dari segi pengalaman di turnamen Grand Slam, setelah menjuarai Wimbledon 2022 dan menjadi finalis Australian Open 2023. Pertandingan ini akan menjadi ujian sebenarnya bagi ketahanan fisik Rybakina.
Jika Rybakina berhasil melaju dan kemudian menjadi juara, ia akan mengukir sejarah sebagai petenis Kazakhstan pertama yang memuncaki ranking WTA. Namun, jalan masih panjang. Ia harus melewati Zheng, lalu berpotensi menghadapi unggulan lainnya di semifinal. Pertanyaannya, akankah tubuhnya mampu bertahan hingga akhir turnamen? Atau justru cedera lama akan kembali menghantuinya? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Rybakina telah membuktikan bahwa ia adalah pejuang sejati di lapangan.



