Jepang Longgarkan Larangan Masuk untuk Atlet Korea Utara di Asian Games Aichi-Nagoya
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Jepang tengah mengkaji pengecualian sanksi bagi kontingen Korea Utara yang diperkirakan berjumlah 180 orang untuk Asian Games bulan ini.
- Langkah ini mengikuti preseden 2024 saat atlet sepak bola wanita Korut diizinkan masuk untuk kualifikasi Olimpiade Paris.
- Keputusan akhir akan menjadi ujian konsistensi Tokyo antara sanksi keamanan dan komitmen terhadap semangat olahraga internasional.

Pemerintah Jepang dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk memberikan izin masuk bagi atlet dan ofisial Korea Utara yang akan berlaga pada Asian Games Aichi-Nagoya yang dijadwalkan bergulir mulai 19 September hingga 4 Oktober. Langkah ini muncul di tengah kebijakan sanksi ketat yang selama ini membatasi pergerakan warga Korea Utara ke Negeri Sakura.
Sejak lama, Tokyo memberlakukan larangan masuk bagi warga Korea Utara sebagai bagian dari sanksi atas program nuklir dan rudal balistik Pyongyang. Namun, pengecualian kerap diberikan untuk ajang olahraga, mencerminkan upaya memisahkan diplomasi olahraga dari ketegangan politik. Jepang dan Korea Utara memang tidak memiliki hubungan diplomatik, menjadikan setiap interaksi sebagai langkah yang sarat makna.
Menurut sumber dari Asosiasi Umum Warga Korea di Jepang yang pro-Pyongyang, delegasi Korea Utara untuk pesta olahraga empat tahunan itu diperkirakan mencapai sekitar 180 orang. Jika terealisasi, ini akan menjadi salah satu kontingen terbesar yang pernah dikirim Pyongyang ke ajang olahraga di Jepang, menandakan peningkatan partisipasi meski di tengah isolasi internasional.
Korea Utara diprediksi menjadi ancaman serius di cabang angkat besi dan gulat, dengan sejumlah atletnya digadang-gadang sebagai kandidat peraih medali emas. Kekuatan mereka juga merambah sepak bola wanita; klub asal Pyongyang baru saja menjuarai Liga Champions Asia pada Mei lalu. Dua atlet berstatus warga Korea di Jepang juga dilaporkan akan memperkuat delegasi, menambah dimensi unik pada keikutsertaan kali ini.
Keputusan Jepang ini bukan tanpa preseden. Pada 2024, Tokyo memberikan izin serupa bagi atlet sepak bola wanita Korea Utara yang menjalani kualifikasi Olimpiade Paris. Namun, Korea Utara memilih tidak mengirimkan kontingen ke Olimpiade Tokyo 2021 yang digelar di tengah pandemi, sebuah keputusan yang kala itu memicu spekulasi soal alasan politik di baliknya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik dicermati mengingat posisi negara kita yang kerap menjadi tuan rumah ajang olahraga internasional dan memiliki hubungan historis dengan Korea Utara. Kebijakan Jepang menunjukkan bahwa sanksi politik tidak selalu menghalangi partisipasi olahraga, sebuah pelajaran yang relevan bagi kawasan Asia Tenggara yang semakin aktif dalam diplomasi olahraga. Selain itu, kehadiran kontingen Korea Utara di panggung Asia dapat membuka peluang dialog yang lebih luas, sesuatu yang selama ini sulit dilakukan melalui jalur diplomatik konvensional.
Meski demikian, keputusan final Jepang masih menggantung. Pemerintah Perdana Menteri Shigeru Ishiba harus menyeimbangkan tekanan dari kelompok konservatif yang menginginkan sikap tegas terhadap Pyongyang dengan harapan komunitas olahraga internasional yang mendukung inklusivitas. Pertanyaannya, akankah Tokyo konsisten dengan komitmennya pada nilai-nilai Olimpiade dan Asian Games, atau justru menjadikan ajang ini sebagai alat tekanan politik baru? Jawabannya akan menentukan apakah semangat sportivitas mampu menembus tembok sanksi yang selama ini kokoh berdiri.



