Osaka Tak Lagi Terobsesi Gelar Grand Slam: Keibuan Ubah Cara Pandang
Baca dalam 60 detik
- Naomi Osaka memandang kekalahan di AS Terbuka sebagai bagian dari perjalanan hidup yang lebih luas, bukan sekadar kegagalan karier.
- Sejak menjadi ibu, prioritas Osaka bergeser dari pencapaian di lapangan menuju kebahagiaan keluarga dan kesehatan mental.
- Sikap baru ini bisa memperpanjang kariernya dan menginspirasi atlet lain, termasuk di Indonesia, untuk menyeimbangkan hidup dan prestasi.

Naomi Osaka menegaskan bahwa kekalahannya di babak keempat AS Terbuka 2024 bukanlah akhir dari segalanya. Petenis Jepang berusia 28 tahun itu justru melihat pengalaman tersebut sebagai cermin perubahan besar dalam hidupnya, terutama setelah menjadi seorang ibu. Bagi Osaka, gelar Grand Slam kelima bukan lagi segalanya; kebahagiaan putrinya, Shai, kini menjadi prioritas utama yang mengubah cara pandangnya terhadap kesuksesan.
Kekalahan 6-1, 6-4 dari Elena Rybakina di Flushing Meadows, Senin (7/9) waktu setempat, memang memperpanjang penantiannya untuk kembali meraih gelar mayor. Terakhir kali ia menjuarai Grand Slam adalah di Australia Terbuka 2021, sebelum memutuskan rehat dari dunia tenis dan melahirkan Shai pada 2023. Namun, Osaka menegaskan bahwa jeda tersebut terasa tidak lama karena diisi dengan pengalaman hidup yang tak ternilai.
"Saya punya anak, Anda tahu? Banyak hal terjadi dalam waktu itu," ujarnya dalam konferensi pers setelah pertandingan. "Jika saya melihat kembali karier dan hal-hal yang telah saya capai, tidak ada yang saya sesali atau saya sedihkan." Pernyataan ini menunjukkan kedewasaan yang jarang terlihat dari atlet papan atas yang biasanya terobsesi pada kemenangan.
Perubahan perspektif ini tidak lepas dari perannya sebagai ibu. Osaka mengaku bahwa jika ia menang lagi, hal itu tidak akan mengubah hidupnya secara drastis seperti kemenangan pertamanya di AS Terbuka 2018. "Itu gila bahwa saya bisa mengatakan itu, karena saya ingat gelar pertama saya adalah pusaran besar. Saya pikir ini tidak akan terasa selama itu," katanya. Baginya, definisi sukses kini lebih luas: kesehatan putrinya, kebahagiaan keluarga, dan kesempatan untuk terus bermain di level tertinggi.
Kekalahan dari Rybakina, yang merupakan unggulan keempat, memang mengecewakan secara teknis. Osaka mengakui bahwa ia sedih karena tidak bisa melompat maksimal akibat cedera Achilles. "Hari ini, jika saya bilang saya sedih, saya hanya sedih karena tidak bisa mendorong kaki saya. Saya sedih karena tidak bisa melakukan apa yang saya targetkan," jelasnya. Namun, ia segera menambahkan, "Jika saya pikirkan hidup saya, anak saya sehat, semua orang di keluarga saya baik-baik saja. Saya punya kesempatan untuk bermain di slam ini. Saya mencapai sejauh yang saya bisa. Jadi, hanya akan naik dari sini."
Sikap Osaka ini relevan bagi atlet dan publik Indonesia yang kerap menempatkan prestasi sebagai satu-satunya ukuran kesuksesan. Di tengah tekanan mental yang dialami banyak atlet muda, pandangan Osaka bisa menjadi pelajaran berharga: bahwa karier dan kehidupan pribadi harus berjalan beriringan. Fenomena ini juga mengingatkan pada perjuangan atlet Indonesia seperti Greysia Polii yang sempat vakum karena cedera, namun kembali dengan semangat baru. Keseimbangan hidup justru bisa menjadi kunci performa jangka panjang.
Ke depan, tantangan Osaka adalah menjaga konsistensi fisik dan mental untuk bersaing di turnamen besar. Dengan pendekatan baru yang lebih rileks, mungkinkah ia justru akan tampil lebih lepas dan akhirnya mengakhiri puasa gelar? Atau akankah ia memilih untuk lebih fokus pada keluarga dan mengurangi beban turnamen? Jawabannya akan menarik untuk disimak, karena Osaka telah membuktikan bahwa ada kehidupan setelah tenis, dan tenis hanyalah salah satu bagian dari dirinya.



