Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali Pagi Ini, PVMBG Perpanjang Radius Aman 3 Kilometer
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas vulkanik di Selat Sunda meningkat dengan dua letusan beruntun pada Selasa pagi, yang terekam seismograf dengan durasi hingga 15 detik.
- PVMBG mempertahankan larangan aktivitas dalam radius 3 km dari kawah, sementara BMKG memastikan abu vulkanik menjauh dari wilayah udara Indonesia.
- Erupsi ini menjadi pengingat akan dinamika Gunung Anak Krakatau yang terus aktif, menuntut kewaspadaan warga pesisir dan otoritas penerbangan.

Gunung Anak Krakatau kembali memperlihatkan aktivitasnya dengan dua erupsi beruntun pada Selasa (8/9/2026) pagi, mengguncang kawasan Selat Sunda meski visual letusan tak teramati. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat rentetan ini sebagai sinyal bahwa gunung yang berada di perairan Lampung–Banten itu masih dalam fase dinamis yang perlu diwaspadai.
Erupsi pertama terjadi pukul 05.08 WIB dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi 15 detik. Sekitar 26 menit berselang, pukul 05.34 WIB, gunung kembali bergetar dengan amplitudo 44 milimeter dan durasi lebih pendek, 10 detik. Dalam kedua kejadian itu, PVMBG mengaku tidak dapat mengamati tinggi kolom abu secara visual—kemungkinan karena tertutup awan atau kabut yang kerap menyelimuti puncak.
Meski tidak ada laporan korban atau kerusakan, otoritas tetap memasang batas aman. PVMBG mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak mendekati kawah dalam radius 3 kilometer. Imbauan ini bukan sekadar formalitas; sejarah mencatat letusan dahsyat pada 2018 yang memicu tsunami di Selat Sunda, menewaskan lebih dari 400 orang. Meski aktivitas saat ini jauh lebih rendah, potensi bahaya sekunder seperti awan panas atau tsunami akibat longsoran bawah laut tetap menjadi pertimbangan serius.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan kabar yang sedikit melegakan. Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 dan data VAAC Darwin pada pukul 04.00 WIB, sebaran abu vulkanik terdeteksi bergerak ke arah selatan–barat daya, menjauhi daratan utama Indonesia. Abu yang membumbung hingga ketinggian sekitar 1,8 kilometer itu mengarah ke Samudra Hindia, barat laut Banten, sehingga tidak mengganggu jalur penerbangan domestik maupun internasional yang melintasi wilayah tersebut.
Kepastian arah angin ini menjadi faktor kunci. Jika pola cuaca berubah, abu vulkanik bisa dengan cepat berbelok ke wilayah padat penduduk atau bandara terdekat, seperti Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang atau Radin Inten II di Lampung. Pengalaman pada erupsi-erupsi sebelumnya menunjukkan bahwa gangguan penerbangan sering kali terjadi justru ketika abu tipis namun tersebar luas di ketinggian jelajah pesawat.
Bagi warga pesisir yang selama ini hidup berdampingan dengan Gunung Anak Krakatau, erupsi pendek seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Gunung yang lahir dari letusan dahsyat Krakatau 1883 ini dikenal memiliki siklus erupsi yang hampir terus-menerus. Namun, setiap kejadian tetap menjadi pengingat bahwa pemantauan harus dilakukan tanpa henti, terutama karena gunung ini berada di jalur pelayaran padat dan dekat dengan kawasan wisata Anyer–Carita.
Yang perlu dicermati ke depan adalah apakah frekuensi erupsi ini akan meningkat dalam beberapa hari atau pekan ke depan. PVMBG belum menaikkan status dari Level II (Waspada), tetapi masyarakat diimbau untuk tetap memantau informasi resmi. Pertanyaannya, mampukah sistem peringatan dini yang ada saat ini memberikan respons cepat jika tiba-tiba terjadi erupsi besar yang memicu tsunami? Evaluasi menyeluruh terhadap kesiapsiagaan, termasuk jalur evakuasi di pesisir, menjadi pekerjaan rumah yang tak boleh ditunda.



