Letusan Anak Krakatau Ganggu Ribuan Penerbangan, KBRI Jakarta Imbau WNI dan WNA Daftar Ulang
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas vulkanik Anak Krakatau sejak Jumat memicu pembatalan 2.300 penerbangan dan berdampak pada lebih dari 270.000 penumpang di Indonesia.
- KBRI Singapura di Jakarta menyarankan warganya untuk melakukan registrasi elektronik ke Kementerian Luar Negeri guna memantau kondisi terkini dan memudahkan evakuasi jika diperlukan.
- Maskapai seperti Singapore Airlines dan Scoot membatalkan rute Singapura–Jakarta, sementara otoritas penerbangan masih mengevaluasi kelayakan operasional bandara.

Letusan Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat pekan lalu memicu kekacauan besar pada sektor penerbangan Indonesia. Kementerian Perhubungan mencatat lebih dari 270.000 penumpang terkena dampak penundaan, pengalihan rute, atau pembatalan yang melibatkan sekitar 2.300 penerbangan hingga Senin. Kondisi ini mendorong Kedutaan Besar Singapura di Jakarta mengeluarkan imbauan resmi agar warganya yang berada di Indonesia segera melakukan registrasi elektronik ke Kementerian Luar Negeri Singapura.
Abu vulkanik yang disemburkan Anak Krakatau tidak hanya menyelimuti wilayah sekitar Selat Sunda, tetapi juga mengganggu operasional Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta dan sejumlah bandara lain di Pulau Jawa serta Sumatra. Maskapai penerbangan, termasuk Singapore Airlines dan Scoot, terpaksa membatalkan rute Singapura–Jakarta. Situasi ini disebut masih cair oleh KBRI Singapura, dengan potensi gangguan lanjutan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Bagi warga Singapura yang berada di Indonesia, KBRI memberikan panduan keselamatan yang menekankan agar mereka mengurangi aktivitas di luar ruangan, tetap berada di dalam bangunan, dan memantau informasi resmi dari pemerintah Indonesia. Mereka juga diminta untuk menghubungi maskapai masing-masing guna mendapatkan pembaruan mengenai pembatalan atau penundaan jadwal, serta berkonsultasi dengan penyedia asuransi perjalanan untuk memahami cakupan perlindungan mereka.
Di sisi lain, otoritas Indonesia melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus memantau aktivitas gunung setinggi 157 meter tersebut. Masyarakat diimbau untuk tidak mendekati area dalam radius tertentu dan mematuhi arahan petugas di lapangan. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa abu vulkanik telah menyebar hingga ke wilayah Jawa Barat dan sekitarnya, memengaruhi kualitas udara dan aktivitas harian warga.
Bagi Indonesia, letusan ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur penerbangan terhadap bencana alam. Bandara Soekarno-Hatta, sebagai gerbang utama internasional, harus memiliki protokol darurat yang lebih adaptif untuk menghadapi situasi serupa. Koordinasi antara maskapai, otoritas bandara, dan pusat vulkanologi menjadi kunci untuk meminimalkan dampak ekonomi dan sosial yang lebih luas.
Menurut pengamat vulkanologi, erupsi Anak Krakatau yang terjadi secara menerus ini masih berpotensi berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Pola letusan yang tidak menentu membuat otoritas penerbangan harus mengambil keputusan cepat untuk keselamatan penumpang. Sementara itu, bagi para pelancong yang terjebak, fleksibilitas jadwal dan komunikasi yang transparan dari maskapai menjadi hal yang sangat penting.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa cepat bandara-bandara di Indonesia dapat pulih dan kembali normal. Pengalaman dari letusan Gunung Merapi pada 2010 menunjukkan bahwa pemulihan operasional penerbangan membutuhkan waktu setidaknya satu minggu setelah aktivitas vulkanik mereda. Jika pola yang sama terjadi, maka gangguan ini diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir pekan ini, menuntut kesiapan semua pihak untuk beradaptasi.



