Status Anak Krakatau Masih Siaga III: Gempa Vulkanik Tinggi, Sebaran Abu Capai 15 Kilometer
Baca dalam 60 detik
- Badan Geologi mencatat intensitas kegempaan Gunung Anak Krakatau masih tinggi hingga siang ini, dengan status siaga level III yang belum diturunkan.
- Sebaran abu vulkanik terpantau hingga ketinggian 15,2 kilometer, berpotensi mengganggu penerbangan dan aktivitas warga di sebagian Banten, Lampung, dan Bengkulu.
- Masyarakat dan maskapai penerbangan diminta mewaspadai potensi erupsi susulan serta hujan abu yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda masih bertengger di status siaga III hingga siang ini, Senin (7/9/2026), setelah Badan Geologi mencatat aktivitas kegempaan vulkanik yang tetap tinggi. Dalam enam jam terakhir, terekam puluhan gempa yang mengindikasikan pergerakan magma dan fluida di kedalaman gunung, menandakan potensi erupsi susulan belum mereda.
Berdasarkan laporan resmi yang dirilis melalui kanal media sosial Badan Geologi, periode pengamatan pukul 06.00โ12.00 WIB menunjukkan adanya 17 kali gempa frekuensi rendah, 23 kali gempa hybrid, serta 9 kali tremor. Kombinasi sinyal seismik tersebut, menurut para ahli, mencerminkan rekahan batuan baru dan pergerakan fluida yang masih aktif di dalam sistem gunung api. Kondisi ini menjadi dasar bagi Badan Geologi untuk mempertahankan status siaga, meski tidak ada erupsi besar dalam beberapa hari terakhir.
Yang menjadi perhatian utama bukan hanya kegempaan, melainkan sebaran abu vulkanik yang terbawa angin hingga jarak jauh. Analisis citra satelit Himawari-9 yang dilakukan PVMBG bersama VAAC Darwin pada pukul 15.00 WIB mengidentifikasi dua klaster debu vulkanik. Klaster pertama menyebar dari permukaan hingga ketinggian 4,5 kilometer mengarah ke barat dayaโbarat laut, menjangkau sebagian Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, serta perairan Samudra Hindia di sekitarnya.
Sementara itu, klaster kedua terpantau lebih tinggi, mencapai 15,2 kilometer, dan bergerak ke arah barat dayaโbarat menjauhi daratan Indonesia. Meski demikian, keberadaan abu di lapisan udara tersebut tetap berpotensi mengganggu jalur penerbangan komersial yang melintasi Selat Sunda, terutama rute domestik menuju Bandara Soekarno-Hatta dan internasional di kawasan itu.
Bagi warga di pesisir Lampung dan Banten, ancaman hujan abu menjadi risiko nyata yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan serta aktivitas pertanian dan perikanan. Badan Geologi melalui pos pengamatan di Pasauran (Banten) dan Kalianda (Lampung) terus melakukan pemantauan intensif, dengan seluruh data dianalisis secara berkala oleh tim ahli gunungapi. Masyarakat diimbau tidak mendekati kawasan kawah dalam radius yang telah ditetapkan serta menggunakan masker jika terjadi hujan abu.
Dari sisi kebijakan, status siaga III yang bertahan lebih dari sepekan menuntut koordinasi lintas instansi, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan otoritas penerbangan. Pengalaman erupsi 2018 yang memicu tsunami Selat Sunda masih menjadi pelajaran berharga, sehingga mitigasi berbasis data seismik dan satelit menjadi kunci. Pertanyaannya, akankah aktivitas vulkanik ini mereda dalam waktu dekat, atau justru meningkat menuju level yang lebih tinggi? Yang jelas, kewaspadaan tidak boleh kendur selama status siaga masih berlaku.



