Banjir Bandang Himalaya: Nepal Berkabung, 1.380 Tewas dan 5.500 Hilang
Baca dalam 60 detik
- Nepal menggelar hari berkabung nasional setelah bencana lumpur di perbatasan Tibet menewaskan lebih dari seribu orang.
- Operasi penyelamatan masih berlangsung, dengan empat korban selamat berhasil dievakuasi dari reruntuhan dan terowongan.
- Bencana ini menyoroti kerentanan infrastruktur Himalaya terhadap perubahan iklim, relevan bagi kawasan Asia termasuk Indonesia.

Nepal memasuki hari berkabung terakhir pada Senin (7/9) untuk mengenang ribuan korban tewas akibat banjir bandang dahsyat di perbatasan dengan China, sementara tim penyelamat masih berjuang mencari korban selamat di tengah tumpukan lumpur dan puing. Bencana yang dipicu longsoran gletser pada 26 Agustus lalu telah menewaskan sedikitnya 1.380 orang dan lebih dari 5.500 lainnya dinyatakan hilang, menjadikannya salah satu bencana alam terburuk dalam sejarah negara Himalaya tersebut.
Pemerintah Nepal menetapkan hari berkabung nasional dengan mengibarkan bendera setengah tiang di seluruh kantor pemerintahan dan misi diplomatik di luar negeri, menandai hari ke-13 setelah musibah, yang dalam tradisi Hindu merupakan puncak ritual berkabung. Namun, tidak ada acara besar yang digelar karena fokus utama masih pada upaya pencarian dan penyelamatan korban. โTidak ada program pemerintah yang diselenggarakan karena operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di daerah terdampak,โ ujar Phanindra Paudel dari Pusat Operasi Darurat Nasional (NEOC) kepada Reuters.
Bencana ini bermula ketika gletser di Himalaya pecah, memicu longsoran besar lumpur dan bebatuan yang menghantam sungai di perbatasan Nepal-Tibet. Material longsor menenggelamkan permukiman, merusak jalan raya, dan menimbun infrastruktur vital. Di Nepal, operasi penyelamatan terkonsentrasi di sekitar pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang diyakini masih menyimpan potensi korban selamat. Juru bicara militer Nepal, Raja Ram Basnet, mengatakan timnya terus memeriksa terowongan dan bangunan yang runtuh. Dalam beberapa hari terakhir, empat orang berhasil dievakuasi hidup-hidup, termasuk seorang warga China yang ditarik keluar dari terowongan pada Sabtu, dua pekerja PLTA yang diselamatkan Jumat, dan seorang perempuan Nepal yang ditemukan di bawah reruntuhan rumahnya.
Di sisi China, otoritas setempat melaporkan penemuan 12 jenazah tambahan pada Minggu, seiring upaya pencarian yang masih berlangsung untuk ratusan orang hilang di wilayah Tibet. Sementara itu, Presiden Nepal Ram Chandra Paudel dijadwalkan meninjau langsung lokasi bencana pada Senin untuk menilai kerusakan, menurut staf kepresidenan. Perdana Menteri Balendra Shah juga mengungkapkan aksi heroik petugas keamanan di penjara distrik Nuwakot, salah satu daerah terparah, yang berhasil menyelamatkan 923 tahanan dengan memindahkan mereka ke bangunan lebih tinggi sebelum banjir menerjang. Namun, sekitar 50 tahanan lainnya sempat melarikan diri dengan merusak tembok penjara, meski akhirnya tertangkap kembali hanya 100 meter dari lokasi.
Bencana ini menjadi pengingat pahit akan dampak perubahan iklim di kawasan Hindu Kush Himalaya, yang kerap disebut sebagai โmenara air Asiaโ. Mencairnya gletser akibat pemanasan global meningkatkan risiko longsor dan banjir bandang, mengancam jutaan jiwa di Nepal, India, Bhutan, dan China. Bagi Indonesia, peristiwa ini relevan sebagai pelajaran tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang semakin ekstrem. Meski Indonesia tidak memiliki gletser, pola curah hujan yang berubah dan meningkatnya intensitas siklon tropis menuntut sistem peringatan dini yang lebih baik dan infrastruktur tahan iklim.
Para ahli memperkirakan bahwa kejadian seperti ini akan semakin sering terjadi seiring naiknya suhu global. Nepal, yang terletak di zona tektonik aktif, menghadapi tantangan ganda: gempa bumi dan bencana glasial. Pemerintah Nepal kini dihadapkan pada tugas berat untuk menyeimbangkan operasi penyelamatan, rehabilitasi korban, dan rekonstruksi jangka panjang di tengah medan yang sulit dan sumber daya yang terbatas. Pertanyaan yang menggantung: apakah negara-negara Asia, termasuk Indonesia, siap menghadapi skenario bencana serupa yang dipicu oleh perubahan iklim?



