Luc Besson Kembali ke Akar Fiksi Ilmiah: Proyek Terbaru Diklaim 'Gila' dan Siap Mengguncang Layar Lebar
Baca dalam 60 detik
- Sutradara asal Prancis, Luc Besson, tengah menulis naskah film fiksi ilmiah yang ia sebut 'gila', sebuah proyek yang dijanjikan akan membawa penonton pada pengalaman sinematik yang intens.
- Besson menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) adalah alat yang harus dimanfaatkan, bukan ditakuti, dengan analogi seorang penjinak harimau yang mengendalikan binatang buas.
- Setelah sukses dengan film horor-romantis 'Dracula: A Love Tale', Besson kembali ke genre yang membesarkan namanya, menjanjikan inovasi visual yang lebih berani dari karya-karya sebelumnya.

Venesia, Italia โ Sutradara legendaris asal Prancis, Luc Besson, mengumumkan bahwa proyek berikutnya akan menjadi film fiksi ilmiah yang ia gambarkan sebagai sesuatu yang 'gila'. Dalam sebuah masterclass di Festival Film Venesia, pria berusia 67 tahun itu mengungkapkan kegembiraannya untuk kembali ke genre yang mengawali kariernya, sambil memberi isyarat bahwa penonton mungkin perlu 'tiket dan aspirin sekaligus' untuk menyaksikan karyanya.
Besson, yang dikenal lewat film-film seperti *The Fifth Element* dan *Leon: The Professional*, mengaku sedang dalam fase eksplorasi kreatif. "Saya semakin tua, jadi saya mencoba mengeksplorasi segalanya sekarang," ujarnya. Pernyataan ini muncul di tengah tren industri film yang didominasi oleh sekuel dan waralaba, membuat langkah Besson untuk kembali ke fiksi ilmiah orisinal menjadi angin segar bagi para penggemar genre ini.
Menariknya, Besson juga menyoroti evolusi teknologi efek visual yang dramatis. Ia membandingkan film pertamanya, *The Last Battle*, yang hanya menggunakan 182 efek khusus, dengan *Valerian and the City of a Thousand Planets* yang membutuhkan 4.000 efek. "Saya sangat bersemangat untuk mencoba sesuatu yang baru. Ini sepadan," tegasnya, mengindikasikan bahwa proyek barunya akan memanfaatkan teknologi mutakhir untuk menciptakan dunia yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Di luar proyek filmnya, Besson juga memberikan pandangannya tentang kecerdasan buatan (AI) yang sedang menjadi perdebatan hangat di industri kreatif. Ia menolak ketakutan berlebihan terhadap AI, menyebutnya sebagai 'alat' yang harus dikuasai sutradara. "Ini harimau, tapi kamu adalah pria dengan cambuk yang berbicara bahasa Jerman padanya," katanya dengan metafora yang khas. Pernyataan ini relevan bagi sineas Indonesia yang mulai mengeksplorasi AI dalam produksi film, mengingat diskusi serupa juga terjadi di industri perfilman Tanah Air.
Besson juga mengenang proses kreatif di balik film terakhirnya, *Dracula: A Love Tale*, yang dibintangi Caleb Landry Jones. Ia mengaku membuat film tersebut khusus untuk aktor yang dipujinya sebagai 'jenius'. "Bekerja dengan pria seperti dia, rasanya seperti memegang koktail di tangan saat Anda memanggil 'action'," ungkapnya. Kisah cinta yang ia angkat dari tokoh Dracula menunjukkan keberaniannya untuk mendobrak genre, sebuah pendekatan yang bisa menjadi inspirasi bagi sineas muda Indonesia untuk berani keluar dari zona nyaman.
Ketika ditanya tentang kemungkinan pensiun, Besson dengan tegas menyatakan, "Saya akan membuat film atau saya akan mati." Dedikasi total ini lahir dari pengalaman pertamanya di lokasi syuting yang membuatnya muntah, namun justru membentuk karakternya sebagai sineas yang pantang menyerah. Sikap ini sejalan dengan etos kerja banyak kreator di Indonesia yang sering menghadapi keterbatasan sumber daya namun tetap berjuang untuk mewujudkan visi artistik mereka.
Besson juga mengkritik industri film yang menurutnya dipenuhi karya yang tidak menarik. "Jika Anda tidak bergairah sebagai seniman, jika itu tidak ada dalam DNA Anda... Jangan lakukan itu," katanya. Ia mengakui bahwa integritas artistik seringkali berbenturan dengan tekanan komersial, namun ia memilih untuk tetap setia pada visinya. "Beberapa orang berkompromi dan mereka kaya, dan saya bahagia untuk mereka. Tapi itu bukan saya," pungkasnya.
Dengan pengumuman ini, publik dibuat penasaran: apakah Besson akan mampu mengulang keajaiban *The Fifth Element* dengan teknologi yang jauh lebih maju? Atau justru proyek ini akan menjadi eksperimen paling berani dalam kariernya? Satu hal yang pasti, dunia perfilman, termasuk Indonesia, akan menantikan gebrakan berikutnya dari sang maestro.



