Erupsi Semeru Masih Level III: BPBD Jatim Pastikan Aktivitas Warga Normal, tapi Zona Bahaya Tetap Dijaga
Baca dalam 60 detik
- Aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada awal September masih dalam kategori normal, tanpa laporan gangguan berarti pada kegiatan harian penduduk di Lumajang dan Malang.
- Status Siaga Level III yang dipertahankan PVMBG menuntut kewaspadaan atas potensi lahar dan material erupsi, khususnya di sektor tenggara Besuk Kobokan.
- BPBD Jatim mengingatkan agar rekomendasi resmi tetap dipatuhi, karena ancaman sekunder seperti banjir lahar dingin dapat muncul sewaktu-waktu.

Gunung Semeru, yang berada di perbatasan Lumajang dan Malang, kembali memperlihatkan aktivitas erupsi pada awal September. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur menegaskan bahwa kejadian ini belum berdampak nyata pada rutinitas warga, sekalipun status gunung tertinggi di Pulau Jawa itu masih bertahan di Level III alias Siaga.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menjelaskan bahwa erupsi Semeru sejatinya bukan fenomena luar biasa. Dalam beberapa tahun terakhir, gunung api ini memang dikenal aktif dengan siklus letusan yang hampir terus-menerus. Meski demikian, potensi bahaya yang menyertainya—terutama aliran lahar dan lontaran material pijar—tetap menjadi perhatian serius bagi otoritas dan masyarakat di sekitar kawasan penyangga.
"Erupsi Semeru adalah hal yang normal, tetapi kita tidak boleh lengah. Hingga hari ini belum ada gangguan signifikan, namun ancaman lahar dan material vulkanik masih mengintai," ujar Gatot saat dikonfirmasi pada Senin (7/9). Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa status Siaga bukan sekadar formalitas, melainkan peta risiko yang harus dihormati.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mengeluarkan rekomendasi yang menegaskan larangan beraktivitas di sejumlah titik rawan. Fokus utama adalah sektor tenggara yang membentang di sepanjang aliran Besuk Kobokan, sebuah wilayah yang kerap menjadi jalur luncuran lahar dingin saat hujan deras mengguyur puncak. Imbauan serupa juga menyasar area dalam radius tertentu yang dinilai rentan terhadap guguran awan panas.
Bagi warga yang tinggal di lereng Semeru, situasi ini bukanlah hal asing. Sebagian besar dari mereka telah terbiasa dengan ritme aktivitas gunung yang fluktuatif. Namun, pengalaman erupsi besar pada Desember 2021 lalu masih menyisakan pelajaran berharga. Saat itu, awan panas guguran menewaskan puluhan orang dan meluluhlantakkan permukiman di beberapa desa, menunjukkan bahwa kewaspadaan tidak boleh kendur meski aktivitas harian tampak normal.
Gatot menambahkan bahwa koordinasi antara BPBD, PVMBG, dan pemerintah kabupaten terus berjalan untuk memantau perkembangan. Masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan informasi dari mulut ke mulut, melainkan merujuk pada kanal resmi yang dikeluarkan instansi berwenang. Langkah ini penting untuk menghindari kepanikan yang tidak perlu sekaligus memastikan keselamatan kolektif.
Dari sisi kebencanaan, erupsi Semeru kali ini juga menjadi ujian bagi kesiapsiagaan infrastruktur dan sistem peringatan dini di Jawa Timur. Meski tidak ada korban jiwa maupun kerugian material yang dilaporkan, setiap kejadian vulkanik seharusnya dimanfaatkan sebagai momentum evaluasi. Apakah jalur evakuasi sudah memadai? Apakah sosialisasi risiko berjalan efektif hingga ke tingkat desa? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini layak mendapat jawaban konkret dari para pemangku kepentingan.
Ke depan, dinamika Semeru akan sangat dipengaruhi oleh curah hujan dan akumulasi material di puncak. Jika musim hujan tiba dengan intensitas tinggi, potensi lahar dingin di lembah-lembah sungai yang berhulu di gunung ini meningkat drastis. Masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai, terutama di Besuk Kobokan, perlu menyiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Apakah kesiapan mereka kali ini lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya? Hanya waktu dan tindakan nyata yang bisa menjawab.



