Richard Hammond: Ketakutan Cedera Otak 2006 Berujung Demensia
Baca dalam 60 detik
- Pembawa acara The Grand Tour, Richard Hammond, mengaku cemas setiap kehilangan barang karena trauma kecelakaan 2006 yang nyaris merenggut nyawanya.
- Dua dekade setelah koma selama dua minggu, Hammond khawatir dampak jangka panjang cedera otaknya akan memicu demensia, sebuah kekhawatiran yang juga relevan bagi banyak penyintas trauma kepala.
- Di tengah kekhawatiran itu, Hammond menemukan ketenangan baru melalui gaya hidup sehat dan hubungan asmara, menunjukkan bahwa pemulihan bisa berjalan beriringan dengan kecemasan.

Richard Hammond, presenter yang namanya melekat lewat acara otomotif The Grand Tour, kembali membuka luka lama. Dua dekade setelah insiden mengerikan yang membuatnya koma selama dua minggu, pria 56 tahun itu mengaku dihantui ketakutan bahwa cedera otak yang dideritanya akan menjadi pintu masuk menuju demensia. Pengakuan ini disampaikan Hammond dalam wawancara dengan The Sunday Times, membuka sisi rentan yang jarang terlihat dari seorang figur yang kerap tampil pemberani di layar kaca.
Kecelakaan yang dimaksud terjadi pada 2006, saat Hammond masih menjadi bagian dari tim Top Gear BBC. Ia mengendarai dragster bertenaga jet yang melaju sangat kencang, lalu kehilangan kendali dan mengalami benturan keras. Dampaknya, ia mengalami cedera otak serius dan harus menjalani perawatan intensif. Meski berhasil pulih secara fisik, Hammond mengakui bahwa bekas luka psikologis dan neurologis dari peristiwa itu tidak pernah benar-benar hilang. "Setiap kali saya kehilangan kunci, dan saya memang sering lupa, saya berpikir: 'Astaga, apakah ini karena cedera otak, atau hanya karena usia saya yang 56 tahun? Dan kita semua mengalaminya'," ujarnya.
Kekhawatiran Hammond bukan tanpa dasar. Penelitian medis menunjukkan bahwa cedera otak traumatis (TBI) dapat meningkatkan risiko demensia di kemudian hari, meskipun hubungan kausalnya masih terus diteliti. Bagi publik, pengakuan Hammond menjadi pengingat bahwa bahkan mereka yang tampak kuat dan sukses pun bisa menyimpan kecemasan mendalam tentang masa depan kesehatan mereka. Di Indonesia, kesadaran akan dampak jangka panjang cedera kepala juga semakin relevan, terutama di tengah tingginya angka kecelakaan lalu lintas yang sering mengakibatkan trauma kepala.
Selain kekhawatiran soal otak, Hammond juga masih bergulat dengan cedera fisik lain. Ia mengaku memiliki 13 peniti dan satu plat logam di lutut kirinya, akibat kecelakaan lain saat syuting The Grand Tour pada 2017. Operasi lanjutan mungkin diperlukan, tetapi ia berusaha menundanya selama mungkin. "Saya akan membawanya selamanya," katanya tentang 'warisan' dari kecelakaan-kecelakaan itu, sebuah pernyataan yang mencerminkan penerimaan atas konsekuensi jangka panjang dari profesinya yang berisiko tinggi.
Di tengah bayang-bayang kekhawatiran itu, Hammond menemukan secercah harapan. Kepindahannya ke Monmouthshire, Wales, dan dukungan dari kekasih barunya, Keira Glen, membawanya pada gaya hidup yang lebih sehat. Ia mengaku kini rutin bermain golf, berlari, dan bahkan berencana mengikuti triatlon kecil tahun depan. "Hubungan ini adalah hal terbaik yang terjadi pada saya," tuturnya. Keira pula yang membujuknya untuk mencoba berenang di air dingin, sebuah aktivitas yang awalnya ia hindari selama 40 tahun, tetapi ternyata sangat ia nikmati.
Hammond juga menemukan kebahagiaan sederhana dalam kehidupan barunya. Untuk pertama kalinya dalam 25 tahun, ia tinggal dekat dengan pusat kota. "Dalam 20 menit berjalan kaki, saya bisa berada di pusat kota menikmati kopi. Atau dalam satu jam 20 menit, saya bisa berada di puncak Gunung Sugar Loaf dengan pemandangan yang luar biasa," tuturnya. Pernyataan ini menunjukkan bagaimana perubahan lingkungan dan dukungan sosial dapat membantu seseorang menghadapi kecemasan yang berkepanjangan.
Kisah Hammond menggarisbawahi bahwa pemulihan dari trauma bukanlah garis lurus. Ada kemajuan, ada kemunduran, dan ada kekhawatiran yang menetap. Namun, dengan dukungan yang tepat dan kemauan untuk berubah, seseorang dapat menemukan keseimbangan baru. Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini bisa menjadi cermin bahwa kesehatan mental dan fisik sama pentingnya, dan bahwa berbicara tentang ketakutan adalah langkah pertama menuju penerimaan. Pertanyaannya, akankah publik figur lain berani membuka cerita serupa untuk mendorong kesadaran yang lebih luas?



