Bebe Rexha Keluhkan Body Shaming: 'Kami yang Berbadan Kurvy Langsung Terlihat Vulgar'
Baca dalam 60 detik
- Pelantun 'Meant to Be' itu mengaku lelah dengan komentar negatif netizen setiap kali mengenakan pakaian ketat, yang menurutnya otomatis membuatnya terlihat serba salah.
- Dalam unggahan di X, ia menyoroti standar ganda yang dialami perempuan bertubuh kurvy, seraya melontarkan gagasan tentang aplikasi khusus untuk perempuan dan komunitas LGBTQ+.
- Perjuangan Bebe melawan komentar tentang berat badannya bukanlah hal baru, mengingat ia pernah berbagi perjuangannya melawan PCOS dan kenaikan berat badan di masa lalu.

Penyanyi pop asal Amerika Serikat, Bebe Rexha, kembali angkat bicara soal perlakuan netizen yang kerap mengomentari penampilannya. Dalam sebuah unggahan di platform X (sebelumnya Twitter) pada akhir pekan lalu, pelantun "I'm Good (Blue)" itu mengaku jenuh dengan komentar-komentar yang menyasar tubuhnya setiap kali ia tampil mengenakan busana yang menonjolkan lekuk tubuh.
Bukan tanpa alasan, perempuan 37 tahun ini merasa bahwa perempuan dengan tubuh kurvy seperti dirinya selalu dinilai miring ketika memilih pakaian yang sedikit ketat. "Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan payudaraku. Ukurannya jadi begitu besar dan aku benci pria straight di kolom komentar yang hanya datang untuk itu. Tapi, di sisi lain, seorang perempuan tetap ingin tampil seksi," tulisnya, dikutip dari unggahan yang beredar.
Lebih lanjut, ia melontarkan gagasan yang cukup menarik perhatian: "Kita butuh aplikasi khusus untuk perempuan dan kaum gay." Menurutnya, ketika perempuan bertubuh kurvy mengenakan pakaian ketat, mereka otomatis terlihat vulgar. Pernyataan ini sontak memicu beragam reaksi dari warganet, termasuk dari seorang pengguna yang mengaku menyukai Bebe sebagai pribadi dan musiknya, bukan sekadar penampilannya. Bebe pun membalas dengan ucapan terima kasih.
"Aku merasa ketika perempuan dengan tubuh kurvy memakai sesuatu yang ketat, kami otomatis terlihat vulgar." โ Bebe Rexha
Ini bukan kali pertama Bebe menghadapi komentar negatif soal tubuhnya. Pada 2023, ia pernah mengungkapkan kenaikan berat badannya yang mencapai 30 pon akibat sindrom ovarium polikistik (PCOS) dalam wawancara dengan Jennifer Hudson. Saat itu, ia juga menulis di X bahwa melihat kolom pencarian yang dipenuhi komentar negatif sangat menyedihkan, meski ia mengakui kebenaran di balik komentar tersebut. "Aku selalu berjuang dengan berat badanku. Aku suka makan," ujarnya kala itu.
Fenomena body shaming yang dialami Bebe Rexha sebenarnya juga akrab di industri hiburan Tanah Air. Sejumlah musisi dan artis Indonesia kerap menerima komentar serupa ketika mereka tampil percaya diri dengan busana yang menonjolkan bentuk tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa standar kecantikan yang sempit masih menjadi momok, baik di industri musik global maupun lokal. Tekanan untuk tampil sempurna di depan publik sering kali mengabaikan kompleksitas kesehatan dan kenyamanan individu.
Menanggapi hal ini, psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Rose Mini, menilai bahwa komentar negatif tentang tubuh di media sosial dapat berdampak serius pada kesehatan mental seseorang. "Body shaming, terutama yang dialami publik figur, bisa memicu kecemasan, depresi, hingga gangguan makan. Penting bagi penggemar untuk lebih bijak dalam berkomentar dan menghargai karya, bukan penampilan fisik," ujarnya saat dihubungi LyndHub.
Di tengah hiruk-pikuk komentar negatif, Bebe tetap melangkah maju. Ia dijadwalkan tampil di Grammy Museum di Los Angeles pada 9 September mendatang. Acara tersebut akan menjadi ajang diskusi tentang album terbarunya, Dirty Blonde, proses kreatif, serta penampilan spesial. Grammy Museum sendiri menggambarkan Bebe sebagai "kekuatan global melalui identitas pop yang kuat dan tanpa permintaan maaf, katalog hit yang abadi, dan kemampuan langka untuk melampaui genre".
Ke depannya, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah industri hiburan dan para penggemarnya akan mampu menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi keberagaman bentuk tubuh? Atau justru standar ganda ini akan terus menghantui para perempuan yang berani tampil beda? Jawabannya mungkin terletak pada kesadaran kolektif kita untuk mulai menilai seseorang dari karya dan karakternya, bukan dari ukuran pakaiannya.



