Krisis Awal Musim, Fiorentina Kembali ke Pelukan Vanoli
Baca dalam 60 detik
- Paolo Vanoli dikabarkan sepakat secara lisan untuk kembali menukangi Fiorentina, hanya tiga bulan setelah didepak.
- Keputusan ini muncul setelah Fabio Grosso dipecat akibat tiga kekalahan beruntun di Serie A, meski klub sudah menggelontorkan dana besar.
- Kedatangan Vanoli diharapkan menjadi obat penenang bagi skuat yang tengah kehilangan arah, namun tantangan membangun kembali kepercayaan diri tim menjadi pekerjaan rumah utama.

Fiorentina dilaporkan telah mencapai kesepakatan lisan dengan Paolo Vanoli untuk kembali menukangi tim, hanya tiga bulan setelah pelatih asal Italia itu meninggalkan klub. Kabar ini beredar luas di media Italia, menyusul pemecatan Fabio Grosso yang hanya bertahan empat pertandingan kompetitif pada musim 2026-27.
Keputusan manajemen La Viola untuk memecat Grosso diambil setelah rentetan hasil buruk di awal musim. Meski sempat meraih kemenangan di Coppa Italia, tim asal Tuscany itu langsung tersungkur pada tiga laga perdana Serie A. Kekalahan telak 0-4 dari AS Roma, dipermalukan 0-3 oleh Frosinone di kandang sendiri, dan takluk 1-2 dari Torino di Stadio Franchi menjadi pemicu utama pergantian kursi pelatih.
Yang membuat situasi ini semakin pelik adalah besarnya investasi yang telah dikeluarkan klub pada bursa transfer musim panas. Lebih dari โฌ130 juta atau sekitar Rp2,2 triliun telah digelontorkan untuk memperkuat skuat, namun hasil di lapangan jauh dari harapan. Kegagalan Grosso mengoptimalkan materi pemain yang ada menjadi sorotan tajam para pengamat.
Nama Vanoli sebenarnya bukanlah wajah asing bagi Fiorentina. Pada November 2025, ia sempat ditunjuk sebagai pelatih caretaker menggantikan Stefano Pioli. Saat itu, ia berhasil menjalankan misi sulit untuk menyelamatkan tim dari degradasi di musim 2025-26. Namun, manajemen klub kala itu memilih untuk tidak memperpanjang kontraknya dan lebih memercayakan kursi pelatih kepada Grosso.
Keputusan tersebut kini tampak keliru. Kembalinya Vanoli, yang juga dikabarkan menjadi kandidat kuat bersama Thiago Motta, menunjukkan bahwa Fiorentina ingin mengulang resep sukses yang pernah ada. Fabrizio Romano, pakar transfer asal Italia, mengonfirmasi bahwa pelatih berusia 54 tahun itu telah mencapai kesepakatan lisan dengan manajemen klub.
Bagi pengamat sepak bola Italia, keputusan ini terbilang cukup mengejutkan namun masuk akal. Vanoli dianggap memiliki pemahaman mendalam tentang kultur klub dan mampu membangkitkan mentalitas pemain. Namun, pertanyaannya kini adalah apakah ia dapat langsung memperbaiki performa tim yang tengah terpuruk, terutama dengan jadwal padat yang menanti.
Konteks serupa juga relevan bagi sepak bola Indonesia. Fenomena klub yang berganti pelatih di awal musim akibat hasil buruk kerap terjadi, baik di Liga 1 maupun kompetisi lainnya. Investasi besar yang tidak diimbangi hasil sering kali menjadi bumerang bagi manajemen. Pelajaran yang bisa dipetik adalah pentingnya kesabaran dan kesinambungan proyek, alih-alih langsung mengambil keputusan drastis yang bisa mengganggu stabilitas tim.
Vanoli dihadapkan pada tugas berat untuk segera mengembalikan kepercayaan diri para pemain dan meraih hasil positif. Dengan dukungan penuh dari manajemen dan penggemar, ia diharapkan mampu membawa angin segar bagi Fiorentina. Namun, akankah ia mampu bertahan lebih lama dari periode sebelumnya? Atau justru menjadi siklus pergantian pelatih yang tak berkesudahan di klub sekelas Fiorentina?



