Erupsi Anak Krakatau Mereda, Delapan Bandara Masih Ditutup dan 2.300 Penerbangan Terganggu
Baca dalam 60 detik
- Setelah erupsi 25 jam, Anak Krakatau masih berstatus aktif dengan semburan abu dan gempa kecil, memaksa delapan bandara di Indonesia tutup hingga Senin sore.
- Penutupan bandara, termasuk Soekarno-Hatta dan Halim, berdampak pada 268.539 penumpang dan memicu pembelajaran jarak jauh di empat provinsi untuk mengurangi risiko kesehatan akibat abu vulkanik.
- Para ahli memperingatkan potensi erupsi susulan masih tinggi, mengingat sejarah tsunami 2018 dan posisi Indonesia di Cincin Api Pasifik yang rawan bencana.

Jakarta, 7 September 2026 โ Meski intensitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai mereda, dampaknya masih terasa luas. Delapan bandara di Indonesia, termasuk dua bandara internasional di Jakarta, tetap ditutup hingga Senin pukul 18.00 WIB, sementara lebih dari 2.300 penerbangan batal dan 268.539 penumpang terdampak. Pemerintah pun mengalihkan pembelajaran sekolah di empat provinsi ke mode daring untuk melindungi siswa dari paparan abu vulkanik.
Badan Geologi mencatat erupsi beruntun selama 25 jam yang menghasilkan air mancur lava dan dentuman terdengar hingga 700 kilometer telah berakhir pada Minggu. Namun, aktivitas vulkanik belum sepenuhnya padam. Gunung berstatus Siaga dengan letusan sedang yang berselang, emisi abu gelap, dan gempa bumi lokal berskala kecil. Kondisi cuaca berawan menghalangi pengamatan visual secara langsung, sehingga pemantauan mengandalkan data seismik dan instrumental.
Penutupan bandara dipicu oleh hasil uji AirNav Indonesia yang mendeteksi keberadaan abu vulkanik di ruang udara Jakarta dan sejumlah kota lain. Delapan bandara yang ditutup meliputi empat bandara komersial yang dikelola BUMN InJourney Airports: Soekarno-Hatta dan Halim Perdanakusuma di Jakarta, Husein Sastranegara di Jawa Barat, serta Radin Inten di Lampung. Empat bandara lainnya juga ikut ditutup, meski tidak disebutkan secara rinci. Keputusan ini diambil demi keselamatan penerbangan, mengingat abu vulkanik dapat merusak mesin pesawat dan mengganggu visibilitas.
Dampak ekonomi dari penutupan ini tidak bisa dianggap remeh. Maskapai penerbangan harus menjadwalkan ulang ribuan penerbangan, sementara penumpang yang terjebak di bandara harus mencari alternatif transportasi darat atau laut. Sektor pariwisata dan bisnis yang bergantung pada konektivitas udara juga ikut merasakan imbasnya. Di sisi lain, pemerintah daerah di Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Lampung telah mengizinkan sekolah untuk beralih ke pembelajaran jarak jauh (PJJ). Langkah ini diambil untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat menghirup partikel abu yang melayang di udara.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam pernyataannya menggarisbawahi bahwa probabilitas erupsi susulan dalam beberapa hari ke depan masih tinggi. โBahaya utama meliputi lontaran material pijar (volcanic bombs), hujan abu lebat, dan potensi aliran lava jika aktivitas erupsi berkelanjutan kembali terjadi,โ ujarnya. Pernyataan ini menjadi peringatan bagi masyarakat di sekitar Selat Sunda untuk tetap waspada dan mematuhi rekomendasi jarak aman.
Anak Krakatau, yang namanya berarti โanak dari Krakatauโ, adalah gunung berapi yang lahir dari kaldera raksasa hasil letusan dahsyat Krakatau pada 1883. Letusan bersejarah itu tidak hanya memicu tsunami yang menewaskan puluhan ribu orang, tetapi juga menyebabkan penurunan suhu global selama bertahun-tahun. Anak Krakatau sendiri pernah memicu tsunami pada 2018 yang menewaskan sedikitnya 430 orang di pesisir Sumatra dan Jawa. Saat itu, sebagian besar lereng barat daya gunung runtuh dan memicu longsoran bawah laut yang menggeser volume air dalam jumlah besar.
Indonesia, yang terletak di Cincin Api Pasifik, memiliki lebih dari 120 gunung berapi aktif. Frekuensi erupsi yang tinggi menjadikan negeri ini salah satu laboratorium vulkanologi terbesar di dunia, sekaligus wilayah dengan risiko bencana alam yang signifikan. Kejadian ini kembali mengingatkan bahwa kesiapsiagaan dan sistem peringatan dini yang andal adalah kunci untuk meminimalkan korban jiwa dan kerugian ekonomi.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana Indonesia dapat menyeimbangkan keselamatan penerbangan dan aktivitas ekonomi di tengah ancaman vulkanik yang tak bisa diprediksi secara pasti. Akankah otoritas bandara mengadopsi teknologi deteksi abu yang lebih canggih, atau justru memperketat protokol penutupan? Yang jelas, koordinasi antara Badan Geologi, AirNav, dan operator bandara akan terus diuji dalam setiap episode erupsi berikutnya.



