Korban Dioxin Vietnam Akan Temui Penyintas Minamata: Solidaritas Lintas Generasi Melawan Racun Industri
Baca dalam 60 detik
- Nguyen Duc, penyintas dampak Agen Oranye, dijadwalkan bertemu korban penyakit Minamata di Jepang pada Oktober dan Desember mendatang.
- Pertemuan ini menjadi simbol perlawanan bersama terhadap polusi kimia, menghubungkan dua tragedi lingkungan bersejarah di Asia.
- Langkah ini diharapkan mendorong pengakuan yang lebih luas atas penderitaan korban dan memperkuat advokasi global akan keadilan lingkungan.

Seorang pria Vietnam yang lahir sebagai kembar siam akibat paparan Agen Oranye selama Perang Vietnam, Nguyen Duc (45), akan mengunjungi wilayah terdampak penyakit Minamata di Jepang pada akhir tahun ini. Kunjungan tersebut menjadi simbol solidaritas antara dua komunitas yang menderita akibat bencana lingkungan akibat ulah manusia, sekaligus upaya bersama untuk menyuarakan bahaya kontaminasi kimia di kancah global.
Duc dijadwalkan bertemu dengan Etsuzo Murayama (81), warga Izumi di Prefektur Kagoshima yang tidak kunjung diakui secara resmi sebagai pasien penyakit Minamata, pada bulan Oktober. Dua bulan berselang, ia akan melanjutkan perjalanan ke Prefektur Kumamoto untuk menemui Shinobu Sakamoto (70), penyintas Minamata yang terpapar sejak dalam kandungan dan telah lama menjadi juru bicara bagi penderitaan akibat penyakit tersebut.
Bagi Murayama, pertemuan ini bukan sekadar seremoni. "Bersama Duc, saya ingin menegaskan bahwa polusi merkuri adalah isu yang harus ditangani dunia," ujarnya, merujuk pada gangguan neurologis yang disebabkan oleh air yang terkontaminasi merkuri yang dibuang oleh pabrik kimia di Teluk Minamata pada 1950-an. Baginya, dukungan terhadap sesama korban polusi adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan yang masih berlangsung hingga kini.
Sakamoto, yang bertemu Duc di Vietnam pada Oktober lalu, menekankan bahwa dampak Agen Oranye masih terasa hingga hari ini. Ia berharap dapat meningkatkan kesadaran tentang penderitaan yang dialami rakyat Vietnam akibat zat beracun tersebut. "Saya ingin membantu mengangkat penderitaan yang disebabkan agen itu di Vietnam," katanya, menegaskan bahwa luka sejarah tidak boleh dilupakan.
Penyakit Minamata sendiri baru diakui secara resmi pada 1956, ketika otoritas kesehatan setempat menerima laporan dokter tentang kemunculan penyakit misterius. Pemerintah Jepang baru mengakuinya sebagai penyakit akibat polusi pada 1968, setelah ribuan warga terdampak dan belasan tahun perjuangan hukum. Sementara itu, Duc menjalani operasi pemisahan dari saudara kembarnya pada 1988, dibantu dokter Jepang, saat usianya tujuh tahun. Sejak itu, ia berulang kali mengunjungi Jepang untuk menyuarakan kerusakan lingkungan dan kesehatan akibat Agen Oranye, serta pentingnya perdamaian.
Kisah Duc dan para penyintas Minamata memiliki resonansi kuat bagi Indonesia, yang juga memiliki sejarah kelam polusi merkuri, seperti di Teluk Buyat, Sulawesi Utara, atau kasus pencemaran di sejumlah sungai akibat aktivitas tambang emas skala kecil. Kasus-kasus ini sering kali berujung pada minimnya pengakuan dan kompensasi bagi korban, mengingatkan pada perjuangan panjang para korban Minamata. Pertemuan Duc dengan para penyintas Jepang dapat menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya advokasi dan solidaritas dalam menuntut keadilan lingkungan.
Langkah Duc dan para penyintas Minamata untuk bersuara bersama menyoroti bahwa polusi kimia adalah masalah global yang menembus batas negara. Mereka tidak hanya berbagi pengalaman pahit, tetapi juga membangun jejaring perlawanan terhadap praktik industri yang mengabaikan kesehatan manusia dan lingkungan. Di tengah meningkatnya kesadaran akan krisis iklim dan polusi plastik, suara mereka menjadi pengingat bahwa dampak kerusakan lingkungan tidak pernah selesai dalam satu generasi.
Ke depan, apakah pertemuan ini akan mendorong pemerintah Jepang untuk lebih proaktif mengakui para korban yang belum terdaftar, seperti Murayama? Atau akankah kisah Duc menginspirasi gerakan serupa di negara-negara berkembang yang masih bergulat dengan warisan racun industri? Yang jelas, solidaritas yang dibangun Duc dan para penyintas Minamata adalah langkah kecil namun bermakna dalam perjuangan panjang melawan ketidakadilan lingkungan.



