IDAI Keluarkan 13 Protokol Darurat: Lindungi Anak dari Abu Vulkanik Anak Krakatau yang Kian Meluas
Baca dalam 60 detik
- IDAI merilis panduan komprehensif bagi orang tua di tengah erupsi Anak Krakatau yang belum mereda.
- Anak dengan asma atau alergi berisiko tinggi alami gagal napas akut akibat partikel abu yang tajam.
- Status Siaga Level III masih bertahan; warga Jabodetabek hingga Lampung diminta waspada terhadap kualitas udara.

Ketika Gunung Anak Krakatau masih menyemburkan material vulkanik sejak awal September lalu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bergerak cepat menerbitkan panduan darurat bagi orang tua di wilayah terdampak. Rekomendasi yang dirilis Senin ini menjawab kekhawatiran meluasnya sebaran abu yang telah mencapai Jabodetabek, Banten, Lampung, dan sebagian Jawa Barat.
Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa abu vulkanik bukanlah sekadar debu rumah tangga. Material ini terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik dengan permukaan tajam yang dapat menggores saluran pernapasan. Ketika terhirup, partikel halus tersebut memicu iritasi dan peradangan, diperparah oleh kandungan gas sulfur dioksida dan karbon monoksida yang ikut terbawa.
Dampaknya tidak main-main. Menurut Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, Wahyuni Indawati, anak dengan riwayat asma, alergi, atau penyakit paru kronis bisa mengalami serangan akut yang membahayakan nyawa. Bayi prematur dengan displasia bronkopulmonal serta anak dengan penyakit jantung bawaan juga masuk kategori paling rentan, sehingga penanganan preventif menjadi kunci utama.
Dalam situasi darurat seperti ini, IDAI menekankan bahwa keselamatan anak harus menjadi prioritas di atas segalanya. Oleh karena itu, organisasi profesi ini menyusun 13 langkah konkret yang dapat diterapkan orang tua di rumah, mulai dari evakuasi hingga deteksi dini gejala bahaya.
Salah satu poin penting yang disorot adalah larangan menyalakan kipas angin di dalam rumah. Piprim menjelaskan bahwa alat ini justru akan menerbangkan partikel abu yang sudah mengendap di furnitur atau lantai, sehingga meningkatkan risiko terhirup. Sebaliknya, AC sebaiknya diatur dalam mode resirkulasi udara dan ventilasi tertutup untuk mencegah masuknya polutan dari luar.
Untuk anak di atas dua tahun, penggunaan masker khusus menjadi keharusan. IDAI mengingatkan agar masker dipasang dengan benar dan anak diajari cara memakainya. Selain itu, pelindung mata berupa kacamata anak serta pakaian tertutup direkomendasikan untuk mengurangi kontak langsung dengan partikel abrasif pada kulit sensitif.
Ketika membersihkan rumah, anak-anak harus dijauhkan dari area kerja. Jika memungkinkan, gunakan kain basah atau basahi lantai terlebih dahulu agar debu tidak beterbangan. IDAI juga mengingatkan agar orang tua menyiapkan obat rutin bagi anak dengan riwayat asma atau alergi, serta menghindari paparan asap rokok dan asap dapur di dalam rumah.
Gejala awal seperti batuk, pilek, dan bersin memang umum terjadi. Namun, IDAI meminta orang tua segera membawa anak ke rumah sakit jika muncul tanda sesak napas, seperti peningkatan frekuensi napas, tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen yang diukur dengan oksimeter jari. "Jangan menunggu sampai gejala memburuk," tegas Piprim, "karena setiap tarikan napas anak adalah investasi masa depannya."
Badan Geologi Kementerian ESDM memperingatkan bahwa aktivitas vulkanik masih tinggi dan tren erupsi belum menunjukkan penurunan. Ini berarti masyarakat, khususnya orang tua di wilayah penyebaran abu, harus bersiap menghadapi kondisi ini dalam jangka menengah. Kewaspadaan tidak boleh kendur meski langit tampak cerah, karena partikel halus dapat bertahan di udara selama berjam-jam setelah letusan.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah seberapa lama status Siaga ini akan bertahan dan apakah infrastruktur kesehatan di daerah terdampak mampu menangani lonjakan kasus gangguan pernapasan anak. Dengan rekomendasi yang jelas dari IDAI, harapannya orang tua tidak lagi gamang mengambil langkah perlindungan. Namun, kepatuhan terhadap protokol ini akan menjadi ujian sesungguhnya di tengah masyarakat yang terbiasa menganggap abu vulkanik sebagai fenomena musiman.



