Status Siaga Anak Krakatau Diperpanjang: Aktivitas Vulkanik Masih Tinggi, Radius Aman 3 Km
Baca dalam 60 detik
- Badan Geologi mempertahankan level III (Siaga) untuk Gunung Anak Krakatau hingga 7 September 2026, dengan larangan aktivitas dalam radius 3 km dari pusat erupsi.
- Rekaman seismik menunjukkan 93 gempa frekuensi rendah dan 98 gempa hybrid, menandakan suplai magma yang masih aktif meski erupsi menerus telah berhenti.
- Masyarakat pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan tidak mempercayai isu tsunami, sementara evaluasi status akan dilakukan berkala.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk mempertahankan status Level III (Siaga) bagi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, menyusul masih tingginya potensi letusan yang dapat mengancam keselamatan warga dan wisatawan di Lampung serta Banten. Keputusan ini diumumkan pada Senin (7/9/2026) setelah serangkaian pengamatan visual dan instrumental menunjukkan dinamika vulkanisme yang belum mereda sepenuhnya.
Dalam laporan terbaru yang dirilis pukul 06.00 WIB, gunung yang terletak di Provinsi Lampung ini masih memperlihatkan aktivitas erupsi strombolian—letusan dengan lontaran material pijar—meski kolom abu tidak teramati karena tertutup kabut. Cuaca di sekitar gunung dilaporkan cerah hingga mendung dengan angin bertiup lemah ke arah utara dan barat laut, sementara suhu udara berkisar antara 26 hingga 31 derajat Celsius. Data ini menunjukkan bahwa meskipun tidak ada letusan besar, energi vulkanik yang tersimpan masih cukup signifikan.
Rekaman seismik selama periode 6–7 September mencatat 3 gempa erupsi, 9 gempa hembusan, 93 gempa frekuensi rendah, 98 gempa hybrid atau fase banyak, serta 4 kali tremor menerus. Yang menarik, nilai RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) sempat meningkat pada 5 September lalu, tetapi kembali menurun keesokan harinya—mengindikasikan fluktuasi pasokan magma dari kedalaman. Sementara itu, data tiltmeter di Stasiun Tanjung menunjukkan kecenderungan inflasi sejak awal Agustus, yang bisa menjadi sinyal akumulasi tekanan di dalam tubuh gunung.
Episode erupsi menerus yang berlangsung selama 25 jam sejak 4 September pukul 23.07 WIB hingga 6 September dini hari telah berakhir, namun tiga letusan strombolian menyusul setelahnya. Para ahli menafsirkan kembalinya pola strombolian sebagai penanda bahwa episode erupsi berkepanjangan telah selesai, tetapi mereka tidak menutup kemungkinan terjadinya letusan susulan dalam waktu dekat. "Probabilitas letusan masih tinggi," demikian pernyataan resmi Badan Geologi, yang juga mengingatkan ancaman lontaran batu pijar, hujan abu lebat, serta potensi aliran lava bila erupsi menerus kembali terjadi.
Bagi masyarakat yang bermukim di pesisir Banten dan Lampung, rekomendasi resmi menekankan agar tidak mudah percaya pada isu tsunami yang kerap beredar. Badan Geologi menegaskan bahwa aktivitas saat ini tidak mengarah pada potensi tsunami, sehingga warga dapat beraktivitas seperti biasa dengan tetap mematuhi arahan BPBD setempat. Namun, bagi mereka yang berada dalam radius bahaya, larangan untuk mendaki atau mendekati kawah tetap berlaku demi keselamatan.
Dampak abu vulkanik juga menjadi perhatian, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar gunung. Masyarakat yang terdampak disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker untuk mencegah gangguan pernapasan. Imbauan ini relevan mengingat arah angin yang bertiup ke utara dan barat laut dapat membawa abu ke permukiman di Lampung bagian selatan maupun wilayah pesisir Banten.
Untuk memantau perkembangan terkini, Badan Geologi menyediakan saluran informasi melalui aplikasi Magma Indonesia, situs resmi PVMBG, serta media sosial. Pos pengamatan di Pasauran, Banten, juga dapat dihubungi untuk laporan langsung. Evaluasi status gunung akan dilakukan secara berkala, atau lebih cepat jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan. Dengan kondisi yang masih fluktuatif, pertanyaan yang mengemuka adalah: akankah Anak Krakatau kembali ke level waspada dalam waktu dekat, atau justru meningkat ke level awas? Masyarakat dan pemangku kebijakan diharapkan tetap waspada hingga ada keputusan resmi berikutnya.



