Waspada Abu Vulkanik: Kemenkes Tekankan Masker N95 dan Medis, Ini Alasannya
Baca dalam 60 detik
- Kemenkes mengeluarkan rekomendasi perlindungan pernapasan ganda di tengah peningkatan aktivitas sejumlah gunung api.
- Masker N95 dinilai paling efektif menyaring partikel halus, sementara masker medis menjadi opsi tambahan saat kondisi abu tidak terlalu pekat.
- Masyarakat diimbau tetap membatasi aktivitas luar ruangan karena abu vulkanik juga mengancam kesehatan mata dan kulit.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan warga yang tinggal di sekitar gunung api yang tengah bergejolak untuk tidak meremehkan ancaman abu vulkanik, seraya menegaskan bahwa masker N95 dan masker medis adalah dua lapis pertahanan utama yang direkomendasikan saat harus keluar rumah.
Imbauan ini muncul di tengah meningkatnya kegempaan dan letusan di sejumlah gunung api tanah air, yang membuat sebaran partikel abu menjangkau permukiman hingga puluhan kilometer dari kawah. Kemenkes menilai, partikel abu yang sangat halus tidak hanya mengganggu saluran napas, tetapi juga dapat memicu iritasi mata dan masalah kulit bila terpapar dalam waktu lama.
Dalam unggahan resminya, Kemenkes menjabarkan dua jenis masker yang disarankan. Masker N95 menjadi pilihan utama karena kemampuannya menyaring partikel berukuran mikro, termasuk abu vulkanik yang kerap lolos dari masker kain biasa. Masker ini direkomendasikan untuk aktivitas di luar ruangan ketika konsentrasi abu masih tinggi. Sementara itu, masker medis atau surgical mask disebut sebagai perlindungan tambahan yang tetap berguna, terutama ketika tingkat sebaran abu mulai menurun namun belum sepenuhnya aman.
Bagi masyarakat Indonesia yang tinggal di kawasan rawan erupsi, rekomendasi ini bukan sekadar formalitas. Data historis menunjukkan bahwa abu vulkanik dari letusan Gunung Merapi pada 2010 dan Gunung Kelud pada 2014 sempat melumpuhkan aktivitas warga di Yogyakarta dan Jawa Timur, dengan gangguan pernapasan akut menjadi keluhan dominan di posko kesehatan. Pola serupa berpotensi terulang, terlebih sejumlah gunung api saat ini menunjukkan status siaga yang fluktuatif.
"Masker N95 memang dirancang untuk menahan partikel kecil, tetapi efektivitasnya akan menurun jika tidak dipasang dengan benar atau digunakan terlalu lama," ujar seorang praktisi kesehatan masyarakat yang enggan disebutkan namanya.
Selain memilih jenis masker yang tepat, Kemenkes juga membagikan sejumlah langkah mitigasi lain, seperti menutup rapat jendela dan pintu rumah, menggunakan kacamata pelindung, serta segera membersihkan abu yang menempel di tubuh dan pakaian. Instruksi ini menjadi penting mengingat banyak warga yang masih mengandalkan masker kain berbahan tipis yang nyaris tidak memberi proteksi terhadap partikel vulkanik.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana kesiapan logistik masker N95 di daerah-daerah terpencil yang paling dekat dengan gunung berapi. Distribusi alat pelindung diri yang lambat kerap menjadi celah dalam penanganan bencana, sementara masyarakat di lokasi terdampak justru membutuhkan akses paling cepat. Akankah pemerintah daerah merespons dengan stok masker yang memadai sebelum musim hujan tiba dan abu bercampur lumpur?



