Studi Sabah: Trenggiling Sunda Rentan di Perkebunan Sawit, Hutan Alam Tetap Krusial
Baca dalam 60 detik
- Riset terbaru mengungkap trenggiling Sunda yang terancam punah lebih memilih hutan alami untuk berlindung, meski mampu melintasi perkebunan kelapa sawit.
- Temuan ini menegaskan bahwa keberadaan trenggiling di areal sawit tidak menjamin kelangsungan hidup jangka panjang mereka.
- Implikasi bagi Indonesia: pengelolaan konsesi sawit dan pelepasliaran trenggiling rehabilitasi harus mempertimbangkan ketersediaan habitat tidur yang aman.

KOTA KINABALU โ Trenggiling Sunda (Manis javanica) yang berstatus kritis terancam punah ternyata mampu menjelajahi perkebunan kelapa sawit komersial, namun tetap bergantung pada hutan alami untuk tempat berlindung yang aman. Temuan ini berasal dari studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports, menyoroti dilema konservasi di lanskap yang didominasi aktivitas manusia.
Penelitian yang dilakukan di Sabah, Malaysia, tepatnya di kawasan Lower Kinabatangan, melacak delapan trenggiling liar menggunakan radio telemetri VHF. Para ilmuwan mencatat lebih dari 1.200 observasi lokasi tidur yang tersebar di lebih dari 600 titik berbeda, mencakup area hutan dan lahan pertanian. Data ini menjadi dasar untuk memahami bagaimana spesies yang sulit diamati ini beradaptasi dengan lingkungan yang telah banyak diubah.
Hasilnya menunjukkan fleksibilitas perilaku trenggiling dalam menavigasi medan pertanian yang kompleks. Namun, ketika hutan alami tersedia, hewan ini secara konsisten memilihnya untuk beristirahat. Hutan menyediakan tempat perlindungan yang aman dan dapat digunakan kembali, seperti lubang pohon dan liang bawah tanah. Sebaliknya, trenggiling yang tinggal di perkebunan sering kali tidur di tajuk kelapa sawitโtempat bertengger yang terbuka dan minim perlindungan dari predator serta cuaca, dan jarang digunakan kembali.
Penulis utama studi, Jia Zhen Lim, peneliti di Danau Girang Field Centre (DGFC) dan Universitas Hong Kong, menegaskan bahwa kehadiran trenggiling di perkebunan tidak berarti habitat tersebut layak untuk kelangsungan hidup jangka panjang. โMereka tetap sangat bergantung pada hutan alami untuk berlindung yang layak,โ ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya membedakan antara koridor lalu lintas dan habitat inti.
Prof. Benoit Goossens dari Cardiff University, yang juga direktur DGFC dan rekan penulis studi, menekankan bahwa konservasi hutan tidak hanya tentang menjaga sumber makanan dan koridor satwa liar. โMemahami di mana dan bagaimana trenggiling tidur memberikan perspektif baru yang krusial,โ katanya. โMelindungi hutan juga berarti melestarikan situs istirahat penting yang dibutuhkan hewan untuk bertahan hidup.โ
Bagi Indonesia, yang memiliki luas perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia dan menjadi habitat penting bagi trenggiling Sunda, temuan ini memiliki relevansi langsung. Banyak konsesi sawit di Kalimantan dan Sumatera yang berbatasan atau bahkan tumpang tindih dengan kawasan hutan. Praktik pengelolaan yang mempertahankan patch hutan alam di dalam atau di sekitar perkebunan dapat menjadi kunci kelangsungan hidup spesies ini. Selain itu, bagi program rehabilitasi dan pelepasliaran trenggiling, pemilihan lokasi yang tepat harus mempertimbangkan ketersediaan tempat tidur yang aman, bukan hanya keberadaan pangan.
Penelitian ini juga membuka pertanyaan tentang demografi yang lebih luas. Goossens menyatakan bahwa studi lanjutan yang melibatkan trenggiling betina dan kelompok umur berbeda diperlukan untuk mengonfirmasi pola spasial ini di lanskap lain. Apakah temuan di Sabah akan sama di wilayah dengan tekanan deforestasi yang lebih tinggi atau struktur hutan yang berbeda? Ini menjadi agenda riset yang mendesak.
Ke depan, integrasi data perilaku tidur ke dalam perencanaan tata guna lahan dan strategi konservasi dapat menjadi langkah maju. Namun, akankah industri sawit dan pemerintah mau mengorbankan sebagian produktivitas demi melindungi situs istirahat satwa liar yang kritis? Jawabannya akan menentukan nasib trenggiling Sunda di tengah ekspansi pertanian yang terus berlanjut.



