Kabut Asap Melumpuhkan Dunia Lari Malaysia: Puluhan Event Dibatalkan, Atlet Beralih ke Latihan Indoor
Baca dalam 60 detik
- Indeks polusi udara (API) menembus 169 di Selangor, memaksa pembatalan PJ Half Marathon dan penundaan empat cabang Para Sukma.
- Para pelari mengubah strategi latihan, dari lari outdoor beralih ke treadmill dan latihan kekuatan demi menjaga performa.
- Dokter olahraga mengingatkan atlet untuk mematuhi panduan API, termasuk mengurangi intensitas latihan saat polusi tinggi.

Kabut asap lintas batas yang menyelimuti Malaysia kembali memporak-porandakan kalender olahraga. Sejumlah ajang lari bergengsi terpaksa dibatalkan atau ditunda, sementara para atlet dipaksa beradaptasi dengan kondisi udara yang semakin tidak sehat. Di tengah indeks polusi udara (API) yang menembus angka 169 di Selangor, gelaran PJ Half Marathon yang dijadwalkan Minggu (7/9) batal total, disusul penundaan empat cabang olahraga Para Sukma di negeri bagian tersebut.
Keputusan mendadak ini memicu kekecewaan di kalangan peserta, terutama karena biaya pendaftaran yang umumnya tidak dapat dikembalikan jika event batal karena kondisi di luar kendali penyelenggara. Sementara itu, di Kuching, Serawak, lari Merdeka Spirit Run yang sedianya digelar 6 September diundur ke 4 Oktober. Panitia menegaskan pengambilan race pack tetap berjalan sesuai jadwal, namun fokus utama adalah keselamatan peserta.
Fenomena ini bukan hanya soal tunda atau batalnya event. Di balik layar, para pelari yang masih bersiap menghadapi lomba di masa depan harus mengubah total kebiasaan latihan mereka. Rafiqha Mustaffa, pegawai IT berusia 34 tahun yang akan turun di kategori 10 km Ikhlas Half Marathon Desember mendatang, mengaku beralih ke latihan kekuatan di dalam ruangan dan treadmill. "Di luar itu pengap dan sulit bernapas, jadi kami memaksimalkan apa yang bisa dilakukan di dalam," ujarnya.
Senada, Evan Wong Hon Kitt (37) yang tengah mempersiapkan lari 30 km Coway Run akhir bulan ini, terpaksa memangkas frekuensi lari outdoor dari empat kali menjadi dua kali seminggu. "Saya sudah mencoba treadmill, tapi rasanya beda dengan lari di luar yang benar-benar mensimulasikan kondisi race day," katanya. Sebagai kompensasi, ia menambah porsi latihan kekuatan ringan di hari-hari yang seharusnya dipakai lari.
Tham Jo Yee (30), yang akan berlaga di kategori half-marathon Kuala Lumpur Standard Chartered Marathon, juga merasakan dampaknya. Ia mengurangi intensitas dan durasi lari outdoor, serta mengalihkan lari jarak jauh ke treadmill—meski ia mengaku tidak menyukainya. "Bagaimanapun, latihan harus terus berjalan," tegasnya. Steven Wang (29) dari Pulau Pinang, yang bersiap untuk Hyrox Singapura—lomba indoor yang membagi delapan segmen lari 1 km dengan latihan fungsional—mengaku kesulitan menjaga ritme latihan outdoor. "Kabut asapnya mencekik, jadi kami harus beradaptasi," katanya.
Ketua Persatuan Perubatan Sukan Malaysia, Dr. Ahmad Munawwar Helmi Salim, mengingatkan bahwa atlet, terutama yang memiliki penyakit bawaan seperti asma, berada dalam risiko lebih tinggi. Ia menegaskan pentingnya memodifikasi latihan saat API tinggi, merujuk pada pedoman Institut Sukan Negara. "Kabut asap tidak hanya memengaruhi performa, tetapi juga kesehatan. Prioritas utama harus selalu keselamatan dan kesehatan," katanya. Gejala seperti sesak napas, pusing, dan nyeri dada menjadi sinyal untuk segera menghentikan aktivitas di luar ruangan.
Menariknya, di tengah kekacauan ini, sejumlah event seperti Larian Anak Malaysia di Kuala Lumpur dan Larian Sawah Padi Tanjong Karang tetap digelar. Keputusan yang kontras ini memicu perdebatan: sejauh mana ambang batas polusi yang aman untuk berolahraga? Di Indonesia, polemik serupa kerap muncul saat kabut asap kebakaran hutan melanda Sumatra dan Kalimantan. Beberapa kota seperti Palembang dan Pekanbaru pernah mencatat API di atas 300, memaksa pemerintah setempat menutup sekolah dan membatasi aktivitas luar ruangan, termasuk olahraga.
Para ahli kebugaran di Indonesia pun menyarankan hal serupa: memindahkan latihan ke dalam ruangan atau menggunakan masker khusus saat beraktivitas di luar. Namun, tidak semua orang memiliki akses ke gym atau treadmill, sehingga banyak yang tetap memaksakan diri berlari di luar dengan risiko kesehatan. Ini menjadi pengingat bahwa polusi udara bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi industri olahraga dan gaya hidup aktif.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya kapan kabut asap akan hilang, tetapi bagaimana penyelenggara dan atlet dapat merancang strategi adaptif yang lebih matang. Apakah akan ada standar baku penundaan event berdasarkan API? Atau justru pergeseran tren menuju lomba indoor yang lebih terkontrol? Yang jelas, musim kabut asap tahun ini telah menjadi ujian nyata bagi ketahanan dunia olahraga Asia Tenggara.



