Tiafoe Akhiri Kutukan Medvedev, Melaju ke Perempat Final AS Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Frances Tiafoe menaklukkan Daniil Medvedev dalam straight set, membalikkan rekor buruk head-to-head mereka.
- Kemenangan ini menandai kebangkitan Tiafoe di hadapan publik sendiri, memperkuat statusnya sebagai harapan baru tenis Amerika.
- Langkah Tiafoe ke perempat final membuka peluang menarik bagi persaingan tenis putra, termasuk potensi kejutan di babak selanjutnya.

New York, AS — Frances Tiafoe akhirnya memecahkan kebuntuan panjang saat berhadapan dengan Daniil Medvedev. Pada babak keempat AS Terbuka, Minggu (8/9) waktu setempat, petenis tuan rumah itu menang telak 7-6(1), 6-4, 7-6(6) di Lapangan Louis Armstrong. Kemenangan ini sekaligus mengantarkannya ke perempat final, sebuah pencapaian yang terasa istimewa mengingat rekor buruknya melawan mantan juara turnamen itu.
Sebelum laga ini, catatan pertemuan kedua petenis memperlihatkan dominasi mutlak Medvedev. Tiafoe hanya sekali menang dari tujuh duel, itupun terjadi di ajang beregu Laver Cup yang tidak masuk dalam statistik resmi ATP. Namun, di hadapan publik sendiri, ia tampil dengan strategi berbeda: agresif menyerang dekat net dan memaksa lawan bermain di luar zona nyaman. Pendekatan ini terbukti efektif, terutama pada momen-momen kritis di tiebreak.
"Daniil selalu tampil luar biasa dan sering mengalahkan saya. Ini pertama kalinya saya menang dalam pertandingan reguler," ujar Tiafoe, yang kini unggul 11-7 dalam turnamen ini. "Semuanya terasa sangat baik. Saya bermain maju dan menikmati setiap momen." Pernyataan itu menggambarkan kepercayaan diri yang tengah ia bangun, berbeda dengan penampilannya yang kerap inkonsisten di musim-musim sebelumnya.
Kemenangan ini bukan sekadar statistik. Tiafoe menunjukkan kematangan taktik dengan memadukan servis-voli dan pukulan-pukulan presisi dari baseline. Pada set pertama, ia tertinggal 5-6 sebelum berhasil memaksa tiebreak dan memenangkannya dengan telak. Di set kedua, sebuah forehand menyilang yang keras memecah servis Medvedev di game kelima. Bahkan pada set ketiga, ia harus menyelamatkan set point lewat reli cepat di net yang berakhir dengan voli backhand sempurna—mendapat tepuk tangan dari lawannya sendiri.
Bagi penggemar tenis Indonesia, performa Tiafoe ini menarik untuk disimak. Ia mewakili generasi baru petenis Amerika yang agresif dan atraktif, gaya yang kerap menjadi tontonan menghibur. Di tengah dominasi petenis Eropa di papan atas, kebangkitan Tiafoe bisa menjadi angin segar bagi persaingan global. Namun, yang lebih penting, perjalanannya menunjukkan bahwa konsistensi dan adaptasi strategi adalah kunci untuk menembus level elite—pelajaran yang relevan bagi pengembangan tenis di Tanah Air yang sedang mencari bibit-bibit unggul.
Pertandingan ini juga menyoroti keistimewaan Lapangan Louis Armstrong. Meski kerap dianggap sebagai lapangan 'kelas dua' setelah Arthur Ashe, atmosfer di sana justru lebih hidup dan dekat dengan penonton. Tiafoe sendiri menyebutnya sebagai "lapangan rakyat" karena dukungan yang ia terima terasa luar biasa. "Energi di sini selalu luar biasa," katanya. "Seperti bermain di hadapan keluarga sendiri."
Medvedev, yang tampil solid sepanjang turnamen, harus mengakui keunggulan lawannya. Satu-satunya cela dalam permainannya adalah double fault di tiebreak penentu, yang membuka peluang bagi Tiafoe untuk menyelesaikan laga. Meski kalah, Medvedev tetap menunjukkan sportivitas dengan bertepuk tangan atas beberapa pukulan winner Tiafoe—sebuah pengakuan diam-diam atas kualitas permainan lawan.
Dengan hasil ini, Tiafoe melaju ke perempat final untuk menghadapi Alex Michelsen, petenis muda Amerika lainnya. Laga ini diprediksi berlangsung sengit, mengingat Michelsen tengah dalam performa impresif. Namun, jika Tiafoe mampu mempertahankan permainan agresifnya, bukan tidak mungkin ia akan melaju lebih jauh. Pertanyaannya, dapatkah ia menjaga konsistensi dan membawa gelar grand slam pertamanya di hadapan publik sendiri? Jawabannya akan terjawab dalam beberapa hari ke depan.



