Mahasiswa UiTM Tewas Usai Ikut Lomba Ketahanan Fisik di Pahang: Tujuh Rekan Masih Dirawat
Baca dalam 60 detik
- Seorang mahasiswa UiTM berusia 21 tahun meninggal dunia setelah kolaps dalam ajang Komander Kesatria Endurance Challenge di kampus Jengka, Pahang, Jumat lalu.
- Tujuh peserta lain masih menjalani perawatan intensif di dua rumah sakit berbeda, dengan satu di antaranya berada di ICU.
- Pihak kampus membatalkan seluruh agenda outdoor KKEC dan membentuk tim audit untuk mengevaluasi prosedur keselamatan serta respons darurat acara.

Mahasiswa Universitas Teknologi Mara (UiTM) berusia 21 tahun meninggal dunia setelah mengalami komplikasi kesehatan saat mengikuti lomba ketahanan fisik di Pahang, Jumat (5/9). Peristiwa ini menyisakan duka mendalam sekaligus memicu pertanyaan besar tentang standar keselamatan penyelenggaraan acara olahraga ekstrem di lingkungan kampus.
Korban adalah Fadhlan Fakhry Solana Mohd Fellimal, mahasiswa Diploma Manajemen Olahraga dan Rekreasi dari kampus UiTM Negeri Sembilan. Ia ambruk saat berlaga dalam Komander Kesatria Endurance Challenge (KKEC) 2026 yang digelar di kampus UiTM Jengka, Maran. Fadhlan sempat dilarikan ke Rumah Sakit Sultan Haji Ahmad Shah (HOSHAS) di Temerloh, namun nyawanya tak tertolong dan ia dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 14.00 waktu setempat pada Sabtu (6/9).
Hingga berita ini diturunkan, polisi masih menunggu hasil autopsi untuk memastikan penyebab pasti kematian. Sementara itu, tujuh mahasiswa lain yang menjadi peserta masih menjalani perawatan intensif. Rektor UiTM, Prof. Datuk Dr. Shahrin Sahib @ Sahibuddin, mengonfirmasi bahwa satu orang masih berada di unit perawatan intensif (ICU) HOSHAS, yaitu Liya Zafirah Muhammad dari kampus Perak. Meor Aqil Wildan dari Perlis juga dalam pengawasan ketat di rumah sakit yang sama.
Lima peserta lainnya dirawat di Rumah Sakit Jengka, yakni Nur Nabihah Musyidah Md Nasri (Segamat, Johor), Nur Alia Farhana Abdul Fattah (Jengka, Pahang), Muhamad Adam Azfar Suzaini dan Muhammad Anas Shahrul Nizat (Johor), serta Izzharith Zafran Muhammad Zulkarnain (Pahang). Kondisi mereka bervariasi, namun seluruhnya masih membutuhkan pemantauan medis berkelanjutan.
Menanggapi insiden ini, UiTM langsung mengambil langkah darurat dengan membatalkan seluruh aktivitas luar ruangan KKEC yang dijadwalkan pada hari Minggu. Kampus juga membentuk tim khusus untuk mengaudit prosedur keselamatan, skrining kesehatan, manajemen risiko, serta sistem tanggap darurat acara. Rektor menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk bekerja sama penuh dengan aparat berwenang dalam penyelidikan.
Kabar duka ini tentu mengguncang keluarga korban. Sang ayah, Mohamad Fellimal Mohd Sulanah, mengenang putranya sebagai atlet yang bugar dan telah mempersiapkan diri dengan matang. Fadhlan bahkan pernah dua kali mengikuti KKEC sebelumnya dan meraih penghargaan bersama timnya. "Kami sempat berfoto bersama sebagai kenang-kenangan, tak pernah menyangka itu menjadi momen terakhir kami," ujarnya dengan pilu. Ia menambahkan bahwa Fadhlan baru saja menyelesaikan diploma dan berencana melanjutkan ke jenjang sarjana sebelum takdir berkata lain.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi penyelenggara acara olahraga ketahanan di kampus-kampus Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di tengah tren meningkatnya popularitas lomba lari dan tantangan fisik, aspek keselamatan peserta kerap kali luput dari perhatian. Pertanyaan mendasar pun mengemuka: seberapa ketat pemeriksaan kesehatan sebelum acara? Apakah tim medis siaga di lokasi? Dan bagaimana prosedur evakuasi jika terjadi keadaan darurat?
Fadhlan telah dimakamkan di Pemakaman Muslim Elmina, Denai Alam, pada Minggu pagi. Kepergiannya menyisakan duka yang mendalam, namun juga meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi dunia olahraga kampus untuk memastikan tragedi serupa tak terulang. Apakah standar keselamatan acara olahraga ekstrem di Indonesia sudah cukup ketat untuk melindungi para pesertanya? Pertanyaan ini layak direnungkan bersama.



