Kapal Induk AS Tinggalkan Pattaya: 5.000 Awak Habiskan Rp30 Miliar, Bisnis Lokal Tersenyum
Baca dalam 60 detik
- USS Abraham Lincoln mengakhiri kunjungan pelabuhan pertamanya di Pattaya setelah sembilan bulan bertugas, dengan 5.000 awak kapal menikmati lima hari istirahat.
- Kedatangan kapal induk AS menjadi berkah bagi ekonomi Pattaya yang sedang lesu, dengan perkiraan belanja awak kapal mencapai 100 juta baht atau sekitar Rp45 miliar.
- Kunjungan ini terjadi di tengah sorotan atas kondisi hidup awak kapal yang memburuk, termasuk kelangkaan makanan dan masalah kesehatan mental, yang memicu kritik politik di AS.

Ribuan pelaut Amerika Serikat yang bertugas di kapal induk USS Abraham Lincoln akhirnya meninggalkan Pattaya, Thailand, setelah lima hari bersandar untuk memulihkan tenaga. Kepergian mereka menandai akhir dari kunjungan pelabuhan pertama kapal tersebut setelah menjalani misi panjang di Timur Tengah yang berlangsung sembilan bulan.
Kapal yang membawa sekitar 5.000 kru ini berlabuh di Pelabuhan Laem Chabang, sekitar setengah jam perjalanan dari Pattaya, sejak Rabu lalu. Selama berada di kota wisata yang terkenal dengan pantai dan kehidupan malamnya, para pelaut dan marinir AS terlihat berbelanja, mengunjungi tempat wisata, dan memulihkan kondisi fisik serta mental mereka. Bagi Pattaya yang sedang berada di musim sepi turis, kehadiran mereka menjadi angin segar bagi para pelaku usaha lokal.
Wali Kota Pattaya, Poramase Ngampiches, memperkirakan belanja para awak kapal selama kunjungan mencapai 100 juta baht atau setara dengan Rp45 miliar. Angka itu belum termasuk pendapatan dari penjualan perlengkapan seperti pasta gigi dan kebutuhan pokok lainnya yang dipasok ke kapal, yang nilainya mencapai jutaan baht. "Mereka terlihat merindukan keluarga dan ingin membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang," ujar Poramase, seperti dikutip dari laporan AFP.
Di balik gemerlap ekonomi, kunjungan ini juga menyimpan cerita kelam. Sebelum tiba di Pattaya, sejumlah anggota Kongres dari Partai Demokrat AS menyerukan investigasi terhadap kondisi kehidupan di atas kapal Lincoln. Laporan media menyebutkan para pelaut sempat kekurangan makanan, perlengkapan mandi seperti pasta gigi dan sabun, serta menghadapi krisis kesehatan mental. Presiden AS Donald Trump menepis kekhawatiran tersebut, namun kritik terus berlanjut seiring dengan meluasnya konflik dengan Iran yang melibatkan kapal induk ini. Sebagai gantinya, USS George Washington telah dikirim untuk menggantikan Lincoln di Timur Tengah.
Meski ada kekhawatiran akan potensi gangguan keamanan, Kepala Polisi Pattaya, Anek Srathongyoo, menegaskan bahwa kunjungan berlangsung lancar. "Tidak ada penangkapan atau pertengkaran, kecuali pada hari pertama ketika sekelompok warga Amerika terlibat argumen di antara mereka sendiri," katanya. Insiden kecil itu melibatkan dua pelaut yang dikirim kembali ke kapal setelah terlibat pertengkaran mabuk di dekat Walking Street, pusat hiburan malam Pattaya. Polisi setempat menyebut kejadian itu sepele dan hanya melibatkan warga lokal yang berusaha melerai.
Bagi Indonesia, kunjangan kapal induk AS di kawasan ini selalu menjadi perhatian, mengingat posisi geografis yang strategis dan hubungan diplomatik yang erat dengan Washington. Kehadiran kapal perang asing di perairan Asia Tenggara kerap memicu perdebatan tentang keseimbangan kekuatan di kawasan, terutama di tengah meningkatnya aktivitas militer China di Laut China Selatan. Namun, dari sisi ekonomi, momen seperti ini juga menjadi peluang bagi kota-kota wisata di Indonesia, seperti Bali atau Batam, yang memiliki daya tarik serupa bagi awak kapal asing yang sedang cuti.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah kunjungan kapal induk AS ke Pattaya akan menjadi agenda rutin di tengah ketegangan global yang masih tinggi. Bagi para pelaku usaha di Pattaya, mereka tentu berharap agar kapal-kapal perang AS kembali singgah, membawa berkah ekonomi yang sama. Namun, bagi para kritikus di Washington, insiden kekurangan pasokan di Lincoln menjadi pengingat bahwa kesejahteraan prajurit harus menjadi prioritas, terlepas dari tuntutan operasi militer yang berat.



