Enam Bandara Masih Lumpuh, AirNav Perpanjang Penutupan Imbas Abu Krakatau
Baca dalam 60 detik
- AirNav menetapkan enam bandara di Jawa dan Sumatera masih ditutup hingga Senin pagi akibat sebaran abu vulkanik.
- Level Siaga III Gunung Anak Krakatau memaksa otoritas penerbangan memperpanjang NOTAM, mengganggu jadwal ribuan penumpang.
- Koordinasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci untuk memulihkan operasional dan keselamatan penerbangan.

AirNav Indonesia memperpanjang status penutupan enam bandara di wilayah barat Indonesia hingga Senin (7/9/2026) pukul 08.59 WIB, menyusul meluasnya sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Siaga Level III. Keputusan ini diambil setelah pemantauan BMKG menunjukkan abu vulkanik telah menyebar hingga Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu, mengancam keselamatan penerbangan di salah satu koridor udara tersibuk di tanah air.
Berdasarkan pembaruan Notice to Airmen (NOTAM) yang dirilis Minggu malam, bandara-bandara yang terkena dampak meliputi Soekarno-Hatta (CGK), Halim Perdanakusuma (HLP), Radin Inten II (TKG), Husein Sastranegara (BDO), Budiarto (RTO), dan Pondok Cabe (PCB). Penutupan ini bukan sekadar formalitas; otoritas menilai partikel abu vulkanik dapat mengganggu mesin pesawat dan mengurangi jarak pandang, sehingga langkah mitigasi menjadi keniscayaan.
EVP of Corporate Secretary AirNav Indonesia, Hermana Soegijantoro, menegaskan bahwa penutupan sementara ini merupakan upaya untuk mendukung keselamatan penerbangan. "Kami terus memantau perkembangan ruang udara dan sebaran abu vulkanik. Informasi akan diperbarui sesuai kondisi aktual," ujarnya dalam keterangan resmi. Pihaknya juga berkoordinasi dengan maskapai, otoritas bandara, dan BMKG untuk memastikan informasi tersampaikan tepat waktu.
Dampak dari penutupan ini langsung terasa bagi ribuan calon penumpang. Bandara Soekarno-Hatta, sebagai gerbang utama Indonesia, mencatat ratusan penerbangan dibatalkan atau ditunda sejak Minggu malam. Antrean panjang dan penumpukan penumpang tak terhindarkan di terminal, sementara maskapai berupaya menjadwalkan ulang penerbangan. Situasi serupa terjadi di Bandung dan Lampung, yang menjadi jalur vital bagi aktivitas bisnis dan logistik.
Bagi Indonesia, kejadian ini menyoroti kerentanan infrastruktur penerbangan terhadap bencana geologis. Anak Krakatau, yang terletak di Selat Sunda, memiliki sejarah erupsi dahsyat, termasuk tsunami pada 2018. Para ahli vulkanologi memperkirakan aktivitas saat ini masih fluktuatif, sehingga potensi perpanjangan penutupan tetap terbuka. Maskapai pun dihadapkan pada dilema: menahan biaya operasional atau mengambil risiko keselamatan.
Dari sisi regulasi, langkah AirNav sejalan dengan standar internasional yang dikeluarkan ICAO. Namun, koordinasi yang lebih erat antara BMKG, AirNav, dan operator bandara menjadi pelajaran penting. Keterlambatan informasi atau ketidakjelasan status dapat memicu kekacauan di lapangan, seperti yang terlihat pada penumpukan penumpang di beberapa bandara.
"Penutupan sementara pada bandar udara terdampak tersebut merupakan langkah mitigasi untuk mendukung keselamatan penerbangan dengan mempertimbangkan kondisi sebaran abu vulkanik di ruang udara," kata Hermana Soegijantoro.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa cepat bandara-bandara ini dapat beroperasi normal. Jika aktivitas vulkanik mereda dan arah angin berubah, NOTAM bisa dicabut lebih awal. Namun, jika erupsi berlanjut, bukan tidak mungkin penutupan diperpanjang, mengganggu arus mudik atau perjalanan bisnis yang padat di pekan ini. Para pelaku industri penerbangan dan penumpang pun berharap otoritas dapat memberikan kepastian lebih cepat, sembari tetap mengedepankan aspek keselamatan.



