Runtuhnya Indekos Tua di New Delhi: Satu Tewas, Enam Selamat, Tim SAR Masih Sisir Reruntuhan
Baca dalam 60 detik
- Bangunan lima lantai di New Delhi ambruk saat renovasi, menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya.
- Usia bangunan yang diperkirakan 40-50 tahun menjadi sorotan utama atas kelayakan infrastruktur padat penduduk.
- Insiden ini memicu kembali diskusi tentang urgensi audit keselamatan bangunan tua di kota-kota besar Asia, termasuk Indonesia.

Sebuah bangunan indekos lima lantai di kawasan padat penduduk New Delhi, India, runtuh pada Minggu (6/9/2026), menewaskan satu orang dan memicu operasi pencarian besar-besaran terhadap kemungkinan korban yang masih tertimbun. Kejadian ini terjadi saat pekerjaan renovasi tengah berlangsung di ruang bawah tanah, mengindikasikan lemahnya pengawasan terhadap bangunan tua yang digunakan untuk hunian komunal.
Menurut keterangan kepolisian setempat, gedung yang telah berdiri sekitar 40 hingga 50 tahun itu roboh secara tiba-tiba, menjebak sejumlah penghuni di dalamnya. Enam orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat dan segera dilarikan ke rumah sakit, sementara tim penyelamat terus menyisir puing-puing untuk mencari korban lain yang mungkin masih terjebak. Hingga berita ini diturunkan, satu korban jiwa telah dikonfirmasi, yaitu seorang pasien yang dinyatakan meninggal saat tiba di fasilitas medis.
All India Institute of Medical Sciences (AIIMS) menerima empat pasien dari insiden tersebut. Dua di antaranya dilaporkan dalam kondisi kritis, sementara seorang petugas penyelamat yang ikut terluka telah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan. Kepala Menteri Delhi, Rekha Gupta, menyatakan bahwa seluruh sumber daya dikerahkan untuk mempercepat proses evakuasi dan memastikan bantuan segera disalurkan kepada keluarga yang terdampak.
Peristiwa ini kembali menyoroti kerentanan bangunan tua di kawasan urban Asia Selatan, di mana banyak struktur berdiri tanpa kepatuhan ketat terhadap kode bangunan modern. Di India, kasus runtuhnya bangunan bukanlah hal baru, terutama di musim hujan ketika tanah menjadi lunak dan struktur yang sudah rapuh semakin tidak stabil. Namun, yang membedakan kali ini adalah lokasi kejadian yang berada di ibu kota, pusat pemerintahan dan ekonomi, sehingga menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas regulasi tata kota.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi cermin yang relevan. Kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan memiliki ribuan bangunan tua yang kerap difungsikan sebagai rumah kos atau hunian padat penghuni. Minimnya inspeksi berkala dan lemahnya penegakan hukum terhadap pemilik bangunan yang tidak memperbarui izin sering kali menjadi celah yang membahayakan. Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, sebagian besar bangunan di Indonesia yang berusia di atas 30 tahun belum menjalani audit struktural menyeluruh, terutama di daerah dengan kepadatan tinggi.
Pakar tata kota dari Universitas Indonesia, yang enggan disebut namanya, menilai bahwa insiden di New Delhi seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah di Indonesia untuk segera mengidentifikasi bangunan-bangunan berisiko tinggi, khususnya yang digunakan untuk hunian bersama. "Kita tidak perlu menunggu tragedi untuk bertindak. Audit berkala dan sanksi tegas bagi pemilik bangunan yang lalai adalah kunci," ujarnya.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: akankah pemerintah India, khususnya Delhi, melakukan audit menyeluruh terhadap bangunan tua setelah insiden ini? Dan bagi Indonesia, langkah preventif apa yang akan diambil untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang di tengah maraknya pembangunan vertikal yang kurang terkontrol? Jawabannya akan menentukan keselamatan ribuan nyawa di perkotaan Asia.



