Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla: BRIN Kaji Potensi Besar di Balik Pernyataan Presiden
Baca dalam 60 detik
- BRIN tengah meneliti formulasi pati singkong yang dikombinasikan dengan senyawa fosfat untuk menciptakan cairan pemadam kebakaran hutan yang lebih efektif dan ramah lingkungan.
- Teknologi yang diberi nama CASSA-P ini bekerja dengan mendinginkan bahan bakar, meningkatkan pembasahan, serta mengubah jalur dekomposisi termal vegetasi, bukan dengan menghilangkan oksigen.
- Keberhasilan riset ini dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan kimia impor dan membuka peluang ekonomi baru bagi petani singkong dalam negeri.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menguji coba formulasi cairan pemadam kebakaran hutan berbasis tepung singkong yang dikombinasikan dengan senyawa fosfat. Inovasi yang disebut CASSA-P ini digadang-gadang mampu menekan laju perambatan api secara lebih efektif dibandingkan metode konvensional, sekaligus menjawab arahan Presiden mengenai pemanfaatan komoditas lokal untuk penanggulangan bencana.
Periset Kimia Molekuler BRIN, Julinton, mengungkapkan bahwa gagasan penggunaan pati singkong sebagai bahan baku retardan api bukanlah sekadar wacana tanpa dasar ilmiah. Menurutnya, struktur polisakarida pada singkong kaya akan gugus hidroksil yang dapat dimodifikasi secara kimia untuk meningkatkan kemampuan pembentukan film, viskositas, dan retensi air. Namun, ia menekankan bahwa formulasi akhir masih memerlukan validasi ketat melalui uji laboratorium dan lapangan sebelum dapat dipastikan efektivitas serta dampak lingkungannya.
"Pernyataan Presiden soal singkong untuk pemadaman kebakaran punya landasan ilmiah yang kuat, tetapi kita tidak bisa langsung mengklaim tanpa data. Uji toksisitas, biodegradabilitas, dan kinerja di lapangan masih harus dilakukan," ujar Julinton dalam keterangan resminya, Sabtu (5/9/2026).
Secara teknis, CASSA-P dirancang tidak hanya mengandalkan air sebagai pendingin. Pati singkong yang telah dimodifikasi berfungsi meningkatkan daya rekat cairan pada permukaan vegetasi, sehingga air tidak mudah menguap atau mengalir sebelum sempat mendinginkan bahan bakar. Sementara itu, ammonium polyphosphate (APP) yang dicampurkan akan bereaksi saat terkena panas, menghasilkan asam fosfat yang memicu pembentukan lapisan arang (char) pada permukaan bahan bakar. Lapisan ini menjadi penghalang yang membatasi kontak antara oksigen dan material yang mudah terbakar, sekaligus memperlambat pelepasan senyawa volatil yang menjadi pemicu utama perambatan api.
Julinton menjelaskan bahwa mekanisme kerja CASSA-P berbeda dengan anggapan umum yang menyebut pemadaman dilakukan dengan menghilangkan oksigen. "Kami justru memanfaatkan kombinasi pendinginan, peningkatan pembasahan, dan modifikasi jalur dekomposisi termal. Ini pendekatan yang lebih holistik dan berpotensi lebih efisien dalam penggunaan air," tambahnya.
- Formulasi CASSA-P terdiri dari pati singkong termodifikasi, ammonium polyphosphate (APP), air, dan wetting agent konsentrasi rendah.
- Teknologi ini dirancang untuk aplikasi udara, darat, hingga drone dengan penyemprotan presisi pada titik api awal.
- BRIN belum menetapkan konsentrasi optimum; penelitian lanjutan diperlukan untuk menghindari viskositas berlebih yang bisa menyumbat pompa.
- Klaim "100% biodegradable" belum dapat dipastikan sebelum uji fitotoksisitas dan dampak terhadap organisme tanah/air dilakukan.
Bagi Indonesia, pengembangan CASSA-P memiliki nilai strategis ganda. Di satu sisi, teknologi ini menawarkan alternatif pemadaman yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan kimia impor yang selama ini digunakan. Di sisi lain, pemanfaatan singkong sebagai bahan baku utama berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian dalam negeri dan membuka pasar baru bagi petani. Jika riset ini berhasil, bukan tidak mungkin Indonesia bisa memproduksi sendiri fire retardant yang selama ini masih bergantung pada produk luar negeri.
Meski demikian, Julinton mengingatkan bahwa CASSA-P bukanlah solusi tunggal untuk kebakaran berintensitas tinggi. Teknologi ini lebih tepat diposisikan sebagai pendukung respons awal, pengendalian penyebaran, dan perlindungan area strategis. "Untuk api besar, kita tetap butuh personel darat, water bombing, dan sistem terintegrasi lainnya. CASSA-P hanya salah satu alat di gudang senjata kita," katanya.
Ke depan, BRIN berencana melakukan uji lapangan skala terbatas untuk mengukur efektivitas CASSA-P pada berbagai tipe vegetasi dan kondisi cuaca. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah inovasi ini menjadi game changer dalam pengendalian karhutla yang setiap tahun melanda Indonesia, atau justru menambah panjang daftar riset yang mandek di laboratorium? Jawabannya akan sangat menentukan apakah singkongโkomoditas yang kerap dipandang sebelah mataโbisa menjelma menjadi pahlawan lingkungan.



