Dentuman Misterius di Bandung: Ahli Kaitkan dengan Erupsi Anak Krakatau, Ini Penjelasan Fisikanya
Baca dalam 60 detik
- Warga Bandung dan Sumedang dikejutkan dentuman keras disertai getaran pada Sabtu dini hari, memicu spekulasi publik.
- Ahli gempa Daryono menjelaskan fenomena itu sebagai gelombang infrasonik erupsi Anak Krakatau yang terperangkap dan diamplifikasi topografi Cekungan Bandung.
- BMKG masih melakukan kajian mendalam, sementara masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpancing isu yang belum terverifikasi.

Dentuman keras yang membangunkan warga Bandung dan sekitarnya pada Sabtu (5/9/2026) dini hari memicu tanda tanya besar: apakah ini pertanda aktivitas seismik atau sekadar fenomena atmosfer? Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih mengkaji sumber suara misterius itu, sementara para ahli mulai mengaitkannya dengan erupsi Gunung Anak Krakatau yang berjarak ratusan kilometer di Selat Sunda.
Fenomena serupa tidak hanya terdengar di Kota Kembang. Warga Sumedang, Jawa Barat, juga melaporkan getaran pada bangunan serta hembusan angin kencang yang menyertai dentuman. Kejadian ini sontak menjadi perbincangan hangat di media sosial, dengan beragam spekulasi mulai dari aktivitas gunung hingga fenomena langit. Namun, penjelasan ilmiah mulai mengerucut pada satu hipotesis: propagasi gelombang akustik dari letusan Anak Krakatau.
Dr. Daryono, ahli gempabumi dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), memberikan paparan teknis yang menarik. Menurut dia, energi termal dan mekanis yang dilepaskan saat erupsi dapat berkonversi secara mendadak menjadi gelombang kompresi akustik berfrekuensi sangat rendah, atau infrasound. Gelombang ini kemudian merambat melalui troposfer dan stratosfer, terbawa oleh saluran gelombang atmosferik yang terbentuk akibat perbedaan temperatur dan geseran angin.
Yang membuat kasus Bandung unik adalah topografinya. Daryono menjelaskan bahwa Cekungan Bandung, yang dikelilingi oleh pegunungan, bertindak seperti ruang resonansi akustik alami. Gelombang tekanan yang datang dari arah Selat Sunda mengalami refraksi berlapis, melompati daerah-daerah yang lebih dekat dengan sumber—yang oleh para ahli disebut sebagai acoustic shadow zone—dan kemudian 'jatuh' tepat di atas cekungan tersebut. Di sanalah energi suara terperangkap dan diamplifikasi, sehingga dentuman terdengar jelas meski sumbernya berada sangat jauh.
“Fenomena dentuman Bandung terjadi akibat konversi mendadak energi termal dan mekanis erupsi menjadi gelombang kompresi akustik berfrekuensi amat rendah (infrasound) yang merambat melalui troposfer dan stratosfer,” ujar Daryono dalam keterangan resminya.
Penjelasan ini sekaligus menjawab mengapa getaran yang dirasakan warga tidak terekam sebagai gempa bumi. Daryono menegaskan bahwa resonansi mekanis yang terjadi hanya memengaruhi struktur ringan seperti kaca jendela, tanpa melibatkan propagasi gelombang seismik di dalam tanah. Artinya, fenomena ini murni atmosferik, bukan indikasi aktivitas tektonik.
Bagi masyarakat Indonesia, fenomena ini bukan sekadar kehebohan sesaat. Ini adalah pengingat bahwa negara kita dikelilingi oleh gunung berapi aktif yang efeknya bisa terasa jauh melampaui radius bahaya langsung. Anak Krakatau, yang pernah meletus dahsyat pada 2018 dan memicu tsunami Selat Sunda, masih menjadi salah satu gunung dengan aktivitas tinggi. Meski erupsi kali ini tidak menimbulkan ancaman langsung, kemampuan gelombang suaranya mencapai Jawa Barat menunjukkan betapa kuatnya energi yang dilepaskan.
BMKG sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai penyebab pasti dentuman. Dalam situasi seperti ini, publik diimbau untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi. Yang lebih penting, fenomena ini membuka ruang diskusi tentang bagaimana kita membaca tanda-tanda alam dan mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana yang lebih besar.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah: apakah kejadian serupa akan terulang, dan seberapa sering kita harus waspada? Dengan aktivitas vulkanik yang dinamis di Indonesia, pemahaman tentang mekanisme propagasi gelombang akustik ini bisa menjadi kunci untuk mengembangkan sistem peringatan dini yang lebih canggih—bukan hanya untuk gempa dan tsunami, tetapi juga untuk fenomena atmosferik yang berpotensi menimbulkan kepanikan publik.



