Erupsi Anak Krakatau Tak Ganggu Penerbangan, Kemenhub Jamin Bandara Tetap Normal
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Perhubungan memastikan seluruh bandara beroperasi normal pasca erupsi Gunung Anak Krakatau yang memuntahkan abu vulkanik ke sejumlah wilayah udara.
- Pemantauan ketat dilakukan di Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, dan Pondok Cabe; hingga kini tidak ada partikel abu yang terdeteksi mengganggu jadwal penerbangan.
- Erupsi dengan intensitas tertinggi sepanjang 2026 ini masih berlangsung, menuntut kewaspadaan maskapai dan otoritas penerbangan dalam beberapa hari ke depan.

Kementerian Perhubungan memastikan operasional penerbangan di sejumlah bandara tetap berjalan normal meski Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan erupsi menerus sejak Jumat malam. Jaminan ini disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, di tengah kekhawatiran publik akan terganggunya jadwal perjalanan udara, khususnya di kawasan Jakarta dan sekitarnya.
Berdasarkan laporan awal yang diterima dari BMKG Bandara Soekarno-Hatta, erupsi yang terjadi Sabtu pagi (5/9) itu memicu penyebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah udara. Namun, hasil pengamatan menggunakan paper test di Bandara Internasional Soekarno-Hatta menunjukkan tidak ada partikel abu yang terdeteksi. "Operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta tetap berjalan aman, normal, dan lancar," ujar Lukman dalam keterangan resminya.
Data ASHTAM Nomor VAWR3739 yang diterbitkan pukul 09.10 WIB mencatat jarak sebaran abu dari pusat erupsi ke beberapa bandara, yakni sekitar 31,4 kilometer dari Soekarno-Hatta, 18,5 kilometer dari Pondok Cabe, dan 31,4 kilometer dari Halim Perdanakusuma. Meski jarak tersebut relatif dekat, otoritas menilai konsentrasi abu belum mencapai level yang membahayakan keselamatan penerbangan.
Kendati operasional dinyatakan normal, Kemenhub tidak tinggal diam. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus berkoordinasi intensif dengan BMKG, AirNav Indonesia, pengelola bandara, serta maskapai untuk memantau perkembangan. Maskapai penerbangan juga diimbau meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi informasi resmi melalui NOTAM/ASHTAM yang diterbitkan secara berkala.
Erupsi Gunung Anak Krakatau kali ini tercatat sebagai yang terkuat sepanjang tahun 2026. Pengamat gunung api, Muhammad Dika Nurzaman, menyebutkan letusan yang berlangsung sejak pukul 23.07 WIB itu terindikasi sebagai lava fountain dengan durasi mencapai 21.600 detik. "Rangkaian letusan pada 4 hingga 5 September ini menjadi yang tertinggi secara intensitas sejak gunung berstatus siaga," jelasnya.
Bagi para pelaku industri penerbangan dan penumpang, kabar ini tentu melegakan. Namun, perlu diingat bahwa status siaga gunung yang masih berlanjut membuka peluang terjadinya erupsi susulan. Pengalaman pada erupsi besar tahun 2018 yang memicu tsunami Selat Sunda menjadi pengingat bahwa dampak letusan tidak hanya mengganggu transportasi udara, tetapi juga berisiko terhadap keselamatan masyarakat pesisir.
Otoritas terkait, termasuk BNPB, telah mengimbau masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada. Koordinasi lintas instansi menjadi kunci dalam menghadapi situasi yang dinamis ini. Pertanyaannya, apakah maskapai dan pengelola bandara di luar Jakarta, seperti yang berada di Sumatra dan Jawa bagian barat, juga telah menyiapkan langkah antisipasi jika sebaran abu meluas? Kesiapan infrastruktur dan protokol darurat akan menentukan sejauh mana sektor penerbangan nasional mampu bertahan menghadapi ancaman vulkanik yang sewaktu-waktu dapat meningkat.



