Chairul Tanjung Bagi Resep Sukses di Lampung Financial Festival: Dari Singkong Menjadi Konglomerat
Baca dalam 60 detik
- LPS menggelar festival keuangan di Lampung, menyasar daerah dengan indeks literasi simpanan di bawah rata-rata nasional.
- Chairul Tanjung tampil dalam sesi inspiratif untuk memotivasi generasi muda memulai usaha dari nol.
- Acara ini menegaskan urgensi edukasi keuangan di luar Jawa, sejalan dengan target inklusi keuangan nasional 2026.

LAMPUNG, LYNDHUB โ Ribuan warga Lampung memadati arena Lampung Financial Festival 2026 pada Sabtu (5/9/2026), menyambut kehadiran Chairul Tanjung, pendiri CT Corp yang dikenal dengan julukan "Si Anak Singkong". Dalam sesi Inspirational Talks, pengusaha yang memulai karier dari berjualan buku dan kaos di masa kuliah itu membagikan peta jalan membangun usaha dari titik nol. Kehadirannya bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari strategi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk mendongkrak pemahaman publik terhadap produk keuangan dan skema penjaminan simpanan.
Festival yang berlangsung di Provinsi Lampung ini sengaja menyasar wilayah dengan tingkat literasi penjaminan simpanan yang masih tertinggal. Data internal LPS menunjukkan indeks literasi masyarakat Lampung berada di bawah rata-rata nasional, menjadikannya prioritas dalam peta edukasi keuangan 2026. Dengan menghadirkan figur seperti Chairul Tanjung, LPS berharap pesan tentang pentingnya menabung di bank dan memahami hak nasabah dapat tersampaikan secara lebih personal dan mengena, terutama bagi pelaku UMKM dan generasi muda yang selama ini enggan mengakses layanan perbankan formal.
Chairul Tanjung, yang namanya melejit setelah membangun Trans Corp dari bisnis kecil-kecilan, tidak hanya bercerita tentang kesuksesan. Ia menekankan bahwa kegagalan adalah bagian tak terpisahkan dari proses membangun usaha. "Jangan takut memulai dari hal kecil, karena dari sanalah kita belajar membaca peluang," ujarnya di hadapan peserta, sembari mengingatkan bahwa ketekunan dan kejujuran adalah modal yang tidak bisa dibeli oleh modal finansial semata. Pesan ini relevan bagi banyak anak muda Lampung yang memiliki potensi besar di sektor pertanian, perikanan, dan pariwisata, namun kerap terkendala akses permodalan dan literasi.
Setelah sesi inspiratif, acara berlanjut dengan Educational Class pada pukul 17.00โ18.00 WIB, di mana para pakar keuangan memberikan kiat praktis mengelola keuangan rumah tangga dan bisnis. Materi yang diangkat mencakup perencanaan dana darurat, strategi investasi sederhana, hingga cara memanfaatkan produk penjaminan LPS secara optimal. Penutupan festival dimeriahkan oleh penampilan musik Charly Setia Band, yang diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk lebih dekat dengan dunia finansial.
Pemilihan Lampung sebagai tuan rumah bukan kebetulan. Provinsi ini memiliki pertumbuhan ekonomi yang stabil, namun kesenjangan pemahaman produk keuangan antara daerah urban dan rural masih terasa. Padahal, penjaminan simpanan oleh LPS merupakan jaring pengaman yang krusial bagi nasabah perbankan, terutama di tengah gejolak ekonomi global. Dengan edukasi yang masif, diharapkan masyarakat tidak hanya menabung, tetapi juga memahami hak-hak mereka jika terjadi likuidasi bank.
Bagi Indonesia, festival semacam ini menjadi pengingat bahwa literasi keuangan bukan sekadar program seremonial. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat indeks literasi keuangan nasional baru mencapai 65,4 persen pada 2024, masih jauh dari target 90 persen pada akhir dekade ini. Kegiatan seperti ini menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat pencapaian target tersebut, terutama di luar Pulau Jawa yang kerap luput dari perhatian.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya menjangkau daerah terpencil, tetapi juga mengubah perilaku masyarakat agar tidak mudah tergiur investasi ilegal yang marak bermunculan. Pertanyaannya, mampukah LPS dan pemangku kepentingan lainnya menjadikan festival ini sebagai momentum berkelanjutan, bukan sekadar acara tahunan yang hilang ditelan hiruk-pikuk? Jawabannya akan menentukan apakah literasi keuangan Indonesia benar-benar naik kelas atau hanya menjadi angka di atas kertas.


