Apple Pay Express Mode Resmi Meluncur di MRT Singapura, Target Tuntas 2027
Baca dalam 60 detik
- Fitur tap-in/tap-out tanpa membuka kunci perangkat kini aktif di jaringan MRT dan LRT Singapura sejak pertengahan Agustus.
- Otoritas transportasi setempat menargetkan integrasi penuh ke seluruh moda angkutan umum, termasuk bus, paling lambat akhir 2027.
- Langkah ini mempercepat adopsi pembayaran nirsentuh dan berpotensi menjadi tolok ukur bagi sistem transportasi di kawasan Asia Tenggara.

Sejak pertengahan Agustus lalu, pengguna transportasi umum di Singapura sudah bisa memanfaatkan layanan Apple Pay Express Mode di jaringan MRT dan LRT. Otoritas Transportasi Darat (LTA) menegaskan bahwa fitur ini akan diperluas ke seluruh jaringan transportasi publik hingga akhir 2027.
Fitur ini memungkinkan penumpang cukup mendekatkan iPhone atau Apple Watch ke pembaca kartu tanpa perlu membangunkan perangkat, membuka kunci, atau melakukan autentikasi biometrik seperti Face ID maupun Touch ID. Dengan begitu, proses tap-in dan tap-out menjadi lebih cepat dan praktis, terutama di jam sibuk ketika antrean kerap terjadi.
Namun, untuk moda bus, layanan ini baru beroperasi pada mesin pembaca kartu yang disempurnakan. Perangkat tersebut pertama kali diumumkan melalui kanal media sosial LTA pada Juni lalu dan kini tengah dipasang secara bertahap di seluruh armada bus. LTA menyebut pembaca kartu anyar ini memiliki layar lebih besar, visual lebih tajam, serta pembaruan transaksi SimplyGo yang lebih responsif. Penumpang juga bisa menempelkan kartu di area mana pun pada layar untuk membayar.
LTA menggarisbawahi pentingnya uji coba di kondisi nyata sebelum penerapan massal. "Menguji pembaca baru di lingkungan operasional sesungguhnya memungkinkan kami mengevaluasi performa dan keandalannya sebelum dipasang di seluruh armada. Ini akan memastikan pengalaman yang lebih mulus dan ramah pengguna bagi penumpang," demikian pernyataan resmi LTA.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa adopsi pembayaran digital di transportasi publik semakin matang di kawasan. Sistem serupa sebenarnya sudah berjalan di sejumlah moda seperti KRL Commuter Line dan MRT Jakarta melalui integrasi dengan berbagai dompet digital. Namun, skala dan kepastian waktu yang ditetapkan LTA bisa menjadi pembanding penting bagi pengelola transportasi di dalam negeri untuk terus berinovasi.
Langkah LTA ini sejalan dengan tren global menuju integrasi pembayaran yang lebih mulus. Dengan menghilangkan hambatan autentikasi, waktu transaksi bisa ditekan hingga hitungan detik, mengurangi kepadatan di gerbang masuk dan keluar stasiun. Efisiensi ini penting bagi kota yang menjadikan transportasi massal sebagai tulang punggung mobilitas warganya.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana ekosistem pembayaran ini akan berinteraksi dengan layanan lain, seperti integrasi dengan dompet digital pihak ketiga atau perluasan ke moda transportasi lain seperti taksi dan ride-hailing. LTA sendiri belum merinci teknis lebih lanjut, tetapi menyatakan akan mengumumkan detail tambahan saat persiapan rampung.



