Chery Freelander 8 Raup 5.000 Pemesanan dalam 12 Jam, Sinyal Pasar SUV Listrik China Makin Panas
Baca dalam 60 detik
- SUV anyar Chery-JLR, Freelander 8, mencatatkan 5.000 unit pesanan mengikat hanya dalam 12 jam sejak debutnya di China, dengan uang muka non-refundable.
- Respons pasar yang luar biasa ini menegaskan strategi harga agresif dan paket insentif besar yang digunakan Chery untuk menembus segmen kendaraan listrik premium.
- Kesuksesan Freelander 8 berpotensi mempengaruhi persaingan pasar otomotif Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang mulai dilirik merek China.

Chery Freelander 8, SUV listrik garapan perusahaan patungan Chery-Jaguar Land Rover, langsung mencatatkan 5.000 unit pemesanan pasti hanya dalam 12 jam setelah resmi meluncur di pasar China. Angka itu diumumkan melalui akun media sosial resmi Freelander, menunjukkan respons pasar yang luar biasa terhadap model terbaru yang mengusung nama ikonik Land Rover itu.
Setiap pemesan diwajibkan membayar uang booking sebesar 5.000 yuan atau setara Rp 13 jutaan yang tidak dapat dikembalikan. Skema ini menegaskan bahwa para konsumen benar-benar serius, bukan sekadar iseng. Freelander juga memberikan penawaran terbatas bagi pemesan hingga 30 September, mencakup bonus tukar tambah 15.000 yuan, potongan pajak pembelian 10.000 yuan, peningkatan fitur senilai 90.000 yuan, serta subsidi paket bantuan mengemudi Huawei ADS 5 sebesar 21.000 yuan. Total nilai insentif yang ditawarkan mencapai lebih dari 170.000 yuan, sebuah strategi agresif untuk menarik minat di tengah perang harga kendaraan listrik China.
Freelander 8 hadir dalam enam varian dengan banderol mulai 309.900 yuan (sekitar Rp 814 juta) hingga 399.900 yuan (Rp 1,05 miliar). Menariknya, SUV ini tidak memakai emblem Land Rover pada eksteriornya, menegaskan statusnya sebagai merek independen di bawah naungan Chery-JLR. Produksi perdana dilakukan pada 30 Juli 2026 di pabrik Changshu, Jiangsu, yang menandai babak baru bagi perusahaan patungan tersebut.
Dari sisi teknis, Freelander 8 mengusung sistem penggerak EREV 800V yang memadukan mesin 1.5T sebagai range extender dengan dua motor listrik. Total outputnya mencapai 610 kW atau setara 818 dk dengan torsi 813 Nm. Motor listrik belakang menggunakan sistem dua kecepatan, sementara baterai CATL Freevoy 60,3 kWh diklaim mampu menempuh 310 km dalam mode listrik berdasarkan pengujian CLTC. Pengisian daya 20-80 persen hanya butuh 12 menit berkat dukungan pengisian 6C. Dimensinya pun besar: panjang 5.118 mm, lebar 2.050 mm, tinggi 1.898 mm, dengan jarak sumbu roda 3.040 mm.
Fitur bantuan mengemudi Huawei Qiankun ADS 5 disebut sebagai perlengkapan standar, meski klaim tersebut belum diverifikasi secara independen. Langkah Chery mengadopsi teknologi Huawei menunjukkan tren kolaborasi antara produsen otomotif dan raksasa teknologi, yang semakin lazim di China.
Bagi pasar Indonesia, kesuksesan Freelander 8 menjadi sinyal penting. Chery telah lama menancapkan kuku di Tanah Air dengan model seperti Omoda dan Tiggo. Jika model ini nantinya masuk ke Indonesia, ia akan bersaing dengan SUV listrik premium seperti Hyundai Ioniq 5 dan Kia EV6. Namun, harga yang ditawarkan di China mungkin harus disesuaikan dengan daya beli dan kebijakan insentif kendaraan listrik di Indonesia. Pertanyaannya, akankah Chery berani membawa Freelander 8 dengan harga kompetitif untuk merebut pangsa pasar yang sedang bertumbuh?
Ke depan, respons pasar China akan menjadi barometer apakah strategi harga dan teknologi Chery mampu bersaing dengan pemain mapan seperti BYD dan Tesla. Jika Freelander 8 berhasil mempertahankan momentum, bukan tidak mungkin Chery memperluas jangkauannya ke pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang tengah gencar mendorong adopsi kendaraan listrik.



