Dari Korban Bullying di Liverpool Menuju UFC Paris: Kurtis Campbell dan Janji untuk Orang Tua
Baca dalam 60 detik
- Petarung UFC asal Inggris, Kurtis Campbell, mengawali karier bela diri sebagai bentuk pelarian dari perundungan di masa sekolah dasar.
- Campbell akan menjalani laga keduanya di UFC Paris melawan Trevor Peek, setelah debutnya berakhir dengan kekalahan TKO pada Maret lalu.
- Kesuksesan Campbell menjadi sorotan bagi atlet muda Indonesia yang kerap menghadapi tekanan serupa, menunjukkan bahwa dukungan keluarga dan ketekunan dapat mengubah arah hidup.

Kurtis Campbell, petarung UFC asal Liverpool, akan melangkah ke oktagon UFC Paris akhir pekan ini dengan misi ganda: membalas kekalahan debutnya dan mewujudkan janji pribadi kepada orang tuanya. Pria berusia 24 tahun itu bukanlah nama yang asing di kalangan penggemar bela diri, namun perjalanannya menuju panggung terbesar MMA dunia justru dimulai dari pengalaman pahit sebagai korban perundungan di usia tujuh tahun.
Orang tua Campbell, Jay dan Michelle, mengambil keputusan drastis saat melihat anaknya tertekan di sekolah dasar. Mereka mendaftarkan Campbell ke kelas Muay Thai dengan harapan ia bisa belajar membela diri. Keputusan itu ternyata menjadi titik balik yang mengubah segalanya. "Sejak saat itu, saya tidak pernah menoleh ke belakang. Saya jatuh cinta dengan olahraga ini," ujar Campbell kepada BBC Sport. Tanpa dukungan orang tuanya, ia mungkin tidak akan pernah mengejar mimpi menjadi juara UFC.
Campbell mengakui bahwa dirinya bukan anak yang menonjol secara akademis. Ia sering berada di kelompok terbawah di sekolah dan para guru kerap menyarankannya untuk memiliki rencana cadangan. Namun, obsesinya pada bela diri membuatnya enggan mendengarkan nasihat tersebut. Ia bahkan rela berlari hampir delapan kilometer pulang-pergi ke sekolah demi latihan, dan pernah membolos saat masa GCSE untuk menghadiri seminar yang dipandu John Kavanagh, pelatih Conor McGregor. Dedikasi ekstrem ini menunjukkan bahwa hasrat sejati sering kali mengalahkan jalur konvensional.
Perjalanan Campbell tidak selalu mulus. Debutnya di UFC pada Maret lalu berakhir dengan kekalahan TKO dari Danny Silva, mengakhiri rentetan kemenangan yang telah ia pertahankan selama tujuh setengah tahun. Terakhir kali ia merasakan kekalahan adalah pada Desember 2018, saat masih berkompetisi di sirkuit amatir lokal. Namun, kegagalan itu justru menjadi bahan bakar baru. "Berdiri di UFC adalah tujuan dan mimpi saya sejak kecil," katanya. "Saya merasa anak gendut yang dulu melihat saya sekarang pasti bangga. Saya bangga pada diri sendiri, apa pun hasil debut saya, karena saya sudah sampai di titik ini."
Kemenangan demi kemenangan di ajang Full Contact Contender (FCC) โ lima gelar di tiga kelas berbeda โ akhirnya mengantarnya meraih kontrak UFC melalui Dana White's Contender Series pada September 2025. Kini, di Accor Arena, Paris, ia akan menghadapi Trevor Peek, petarung Amerika yang dikenal agresif. Ini akan menjadi ujian mental pertamanya untuk bangkit dari kekalahan di panggung sebesar UFC.
Kisah Campbell menyentuh realitas yang dekat dengan banyak atlet muda di Indonesia. Perundungan di sekolah sering kali meninggalkan luka mendalam, namun tidak sedikit yang berhasil mengubah trauma menjadi kekuatan. Fenomena serupa terlihat di dunia olahraga Tanah Air, di mana beberapa petarung MMA dan atlet nasional mengaku memulai latihan bela diri karena alasan serupa. Dukungan orang tua, seperti yang ditunjukkan Jay dan Michelle, menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan mental seorang atlet.
Bagi Campbell, kemenangan di UFC bukan sekadar soal gelar. Ia bertekad membalas jerih payah orang tuanya. "Saya tidak akan berhenti sampai ibu dan ayah saya duduk di pantai, menyeruput koktail, dan tidak melakukan apa pun selama sisa hidup mereka," ujarnya. "Mereka bisa menikmatinya karena tahu mereka telah menciptakan monster ini." Ambisinya tidak berhenti di sini. "Begitu saya mendapatkan sesuatu, saya selalu ingin lebih. Saya rasa perasaan itu tidak akan pernah hilang," tambahnya.
Pertanyaan yang kini menggantung: mampukah Campbell membuktikan bahwa kekalahan debut hanyalah batu loncatan, bukan batu sandungan? Laga melawan Trevor Peek akan menjadi jawaban awal, sekaligus panggung bagi seorang anak yang pernah dianggap remeh untuk menunjukkan bahwa mimpi yang dibangun dari rasa sakit bisa berujung pada kejayaan.



