Trump Kembali Tekan The Fed: Ancaman Hentikan Perdagangan jika Suku Bunga Tak Dipangkas
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS mengaitkan kebijakan moneter The Fed dengan ancaman penghentian perdagangan terhadap negara-negara yang dinilai menyebabkan defisit.
- Tekanan politik terhadap bank sentral AS kembali mengemuka, menyoroti tarik-menarik antara independensi lembaga dan ambisi pertumbuhan ekonomi presiden.
- Langkah The Fed selanjutnya akan menjadi sinyal penting bagi pasar keuangan global, termasuk arus modal ke negara berkembang seperti Indonesia.

Washington, D.C. โ Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melancarkan tekanan politik terhadap bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dengan ancaman yang lebih keras: menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang dianggap menyebabkan defisit dagang AS, kecuali The Fed segera menurunkan suku bunga acuan. Pernyataan ini disampaikan melalui platform media sosialnya, Truth Social, pada Selasa (3/9/2025), menandai eskalasi konflik antara Gedung Putih dan bank sentral yang selama ini dijaga independensinya.
Dalam unggahannya, Trump secara eksplisit menuntut The Fed untuk bertindak "cerdas" dan menunjukkan sikap patriotik, sembari mengkritik kebijakan suku bunga yang dinilainya menghambat pertumbuhan ekonomi. Ia bahkan mengklaim bahwa Mahkamah Agung AS telah memberikan hak mutlak kepada presiden untuk mengambil tindakan perdagangan semacam itu, merujuk pada putusan yang ia sebut "konyol dan sangat merugikan" terkait tarif. Ancaman ini bukan sekadar retorika; Trump juga mengaitkannya dengan beban fiskal, menyebut setiap kenaikan satu poin suku bunga membebani negara hingga 650 miliar dolar AS per tahun.
Tekanan ini datang di tengah perubahan kepemimpinan di The Fed. Kevin Warsh, yang baru dikonfirmasi Senat sebagai Ketua The Fed pada 13 Mei lalu, kini berada di posisi yang tidak nyaman. Warsh, yang pernah menjadi anggota Dewan Gubernur The Fed termuda pada usia 35 tahun, sebelumnya berjanji menjaga independensi bank sentral. Namun, dengan Trump yang terus mendorong pemangkasan suku bunga, kredibilitas The Fed sebagai lembaga yang bebas dari intervensi politik sedang diuji. Sebelumnya, Trump juga kerap mengkritik mantan Ketua The Fed, Jerome Powell, karena dianggap lamban dalam melonggarkan kebijakan moneter.
Di balik tekanan ini, terdapat keyakinan Trump bahwa pertumbuhan ekonomi tidak serta-merta memicu inflasi. Ia justru menilai anggapan tersebut telah menghambat kemajuan ekonomi AS selama seperempat abad. Trump membayangkan pertumbuhan PDB AS bisa mencapai 15 hingga 20 persen, jauh di atas capaian aktual yang hanya berkisar 2-4 persen. Pandangan ini bertentangan dengan teori ekonomi arus utama yang menyatakan bahwa pertumbuhan yang terlalu cepat dapat mendorong inflasi, sehingga bank sentral biasanya menaikkan suku bunga untuk mendinginkan ekonomi.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi yang signifikan. Sebagai negara berkembang dengan ketergantungan pada arus modal asing, kebijakan suku bunga The Fed selalu menjadi penentu utama pergerakan rupiah dan pasar obligasi. Jika The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan yield obligasi domestik cenderung meningkat. Sebaliknya, jika The Fed memangkas suku bunga, peluang aliran modal masuk ke pasar keuangan Indonesia akan terbuka, yang dapat mendukung penguatan rupiah dan menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah. Namun, ketidakpastian politik di AS, terutama jika ancaman perdagangan Trump benar-benar dieksekusi, dapat memicu gejolak di pasar global dan meningkatkan sentimen risk-off, yang pada akhirnya juga berdampak pada Indonesia.
Analis pasar memandang bahwa pernyataan Trump ini merupakan bagian dari strategi politik untuk menekan The Fed, namun efektivitasnya masih diragukan. Independensi The Fed adalah pilar penting dalam sistem keuangan global, dan intervensi politik yang terlalu jauh dapat menggerus kepercayaan investor terhadap kredibilitas bank sentral AS. Sementara itu, Warsh dihadapkan pada dilema: memenuhi keinginan presiden yang menunjuknya, atau menjaga prinsip kehati-hatian dalam kebijakan moneter. Keputusan yang diambilnya dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi ujian bagi masa depan The Fed.
Pertanyaannya kini, apakah The Fed akan tunduk pada tekanan politik atau tetap berpegang pada mandatnya untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan? Jawabannya tidak hanya akan menentukan arah ekonomi AS, tetapi juga akan mengguncang pasar keuangan global, termasuk Indonesia, yang harus bersiap menghadapi berbagai skenario.



