Gagal Total: Maggie Gyllenhaal Buang Ide AI Ubah Dakota Johnson Jadi Marilyn Monroe
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Maggie Gyllenhaal menghentikan eksperimen AI yang mengubah wajah Dakota Johnson menjadi Marilyn Monroe untuk film pendek 'Flesh Impact'.
- Alasan pembuangan: hasil AI dinilai menghilangkan kedalaman emosi akting Johnson, yang justru lebih hidup dan manusiawi.
- Gyllenhaal juga menyoroti risiko AI terhadap industri film, termasuk potensi pemangkasan biaya produksi yang mengancam lapangan kerja kreatif.

Maggie Gyllenhaal, sineas yang tengah naik daun, mengaku sempat mencoba teknologi kecerdasan buatan untuk mengubah wajah Dakota Johnson menjadi ikon Hollywood, Marilyn Monroe, dalam film pendek terbarunya, Flesh Impact. Namun, percobaan itu berakhir dengan kekecewaan dan akhirnya dibuang total. Proyek yang digarap untuk memperingati seratus tahun kelahiran Monroe ini dijadwalkan tayang perdana di Festival Film Venesia akhir pekan ini.
Dalam sesi wawancara di festival, Gyllenhaal menceritakan bahwa pihak yang menugaskan proyek tersebut justru mendorongnya untuk menggunakan AI. Mereka tidak memakai OpenAI, melainkan perangkat lunak AI berlisensi yang dilatih khusus menggunakan film-film Monroe yang telah mereka lisensi. Awalnya, ia merasa penasaran dan bersedia mencoba. Namun, setelah melalui proses panjang, ia menyadari bahwa hasilnya justru menghilangkan esensi kemanusiaan dari akting Johnson.
โYang muncul dari Dakota saat memerankan Marilyn jauh lebih menyentuh, manusiawi, dan hidup,โ ujar Gyllenhaal. โAI justru mematikan semua alasan kami membuat proyek ini sejak awal.โ Pernyataan ini menegaskan bahwa teknologi secanggih apa pun belum tentu mampu menggantikan kepekaan artistik dan emosi yang dihadirkan aktor manusia.
- Film pendek Flesh Impact menandai peringatan 100 tahun kelahiran Marilyn Monroe.
- Gyllenhaal menggunakan AI berlisensi yang dilatih dari film-film Monroe, bukan OpenAI.
- Eksperimen AI dibuang karena dianggap gagal menangkap kedalaman emosi akting Dakota Johnson.
- Gyllenhaal menyoroti peringatan ilmuwan komputer Geoffrey Hinton tentang bahaya AI.
Lebih jauh, Gyllenhaal mengaitkan pengalamannya dengan kekhawatiran yang lebih luas tentang penggunaan AI di industri film. Ia menyebut Geoffrey Hinton, pelopor di bidang AI, yang terus membunyikan alarm bahaya. Hinton bahkan mengusulkan agar AI diprogram dengan naluri keibuan, dengan analogi bayi yang mengendalikan ibunya. Gyllenhaal mengaku gagasan itu menarik, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar tentang bagaimana menerapkannya.
Yang lebih mengkhawatirkan, Gyllenhaal menyoroti dampak ekonomi dari adopsi AI. Ia memperkirakan sebuah film yang biasanya menghabiskan biaya produksi 40 juta dolar AS bisa ditekan menjadi hanya 4 juta dolar, bahkan mungkin 40 ribu dolar di masa depan. Di satu sisi, ini membuka peluang demokratisasi bagi sineas independen. Namun, di sisi lain, ia mempertanyakan: jika film layak tayang bisa dibuat dengan biaya sangat murah, siapa yang masih mau mendanai produksi konvensional dengan puluhan juta dolar? โMungkin hanya ada pasar yang sangat kecil untuk itu,โ katanya.
Kekhawatiran Gyllenhaal ini relevan bagi industri film global, termasuk Indonesia. Di tengah gempuran produksi konten murah berbasis AI, para sineas lokal berpotensi kehilangan ruang kreatif dan lapangan kerja. Namun, kasus Flesh Impact justru menjadi pengingat bahwa nilai artistik dan sentuhan manusia tetap tak tergantikan. Pertanyaannya, akankah industri film Indonesia mampu bertahan dengan tetap mengedepankan kualitas, atau justru ikut tergoda memangkas biaya demi efisiensi?



