Fabregas Puji Mentalitas Como Usai Comeback 4-1: Identitas di Atas Segalanya
Baca dalam 60 detik
- Como membalikkan ketertinggalan 0-1 menjadi kemenangan 4-1 atas Genoa, dengan dua gol Assane Diao dan assist debut Moise Kean.
- Pelatih Cesc Fabregas menegaskan bahwa konsistensi identitas bermain lebih penting daripada hasil akhir, sebuah filosofi yang diuji di Serie A.
- Kemenangan ini menjadi modal berharga bagi Como menjelang laga perdana Liga Champions melawan RB Leipzig, sekaligus debut kandang musim ini.

Pelatih Como, Cesc Fabregas, menilai anak asuhnya menunjukkan kedewasaan dan kekuatan mental luar biasa saat berhasil membalikkan keadaan menjadi kemenangan 4-1 atas Genoa di Stadio Luigi Ferraris, akhir pekan lalu. Sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Milutin Osmajic, Como tidak panik dan justru tampil semakin percaya diri hingga menutup babak pertama dengan keunggulan.
Kemenangan ini menjadi sinyal kuat bahwa Como musim ini bukan sekadar peserta Serie A biasa. Setelah musim lalu yang penuh kejutan, kini mereka berusaha memantapkan diri di papan atas. Fabregas menegaskan bahwa timnya bermain dengan identitas yang jelas, tidak goyah meski tekanan datang. "Kami harus tetap menjadi diri kami sendiri dalam setiap situasi," ujarnya kepada DAZN Italia, seperti dikutip Football-Italia.
Empat gol Como masing-masing dicetak oleh Assane Diao yang mencetak dua gol, plus Martin Baturina dan Nico Paz. Menariknya, salah satu gol Diao lahir dari assist manis Moise Kean yang baru melakoni debutnya bersama Como. Kean, yang kerap dikritik karena dianggap egois, justru tampil solid dan membuktikan kualitasnya sebagai pemain tim.
Fabregas, yang dikenal sebagai pelatih muda dengan filosofi kuat, menekankan bahwa menikmati sepak bola bukan hanya tentang hasil akhir. "Anda menikmati saat melakukan segalanya dengan benar, memberikan segalanya, dan bermain dengan cara yang tepat," jelasnya. Ia menambahkan bahwa setiap tim memiliki jalan dan identitasnya masing-masing, dan Como berusaha konsisten dengan prinsip tersebut.
Mantan gelandang Arsenal dan Barcelona ini juga menggarisbawahi pentingnya reaksi setelah kebobolan. "Kebobolan itu menunjukkan bahwa di Serie A, jika lengah dua detik saja, Anda akan dihukum. Namun kami bereaksi dengan cara terbaik, menunjukkan kedewasaan dan kekuatan mental untuk kembali ke jalur yang benar," tuturnya. Pesan Fabregas kepada para pemainnya selalu sama: tetap jadi diri sendiri, apa pun yang terjadi di lapangan.
Ke depan, Como akan menghadapi tantangan terbesar mereka: debut di Liga Champions. Mereka akan menjamu RB Leipzig di Stadio Sinigaglia pada 10 September, yang juga menjadi laga kandang pertama musim ini setelah stadion direnovasi untuk memenuhi standar UEFA. Fabregas menyambut antusias tantangan ini. "Kami memiliki pemain-pemain kuat, dan begitu Liga Champions dimulai, ini akan menjadi perjalanan yang sangat menarik bagi kami," katanya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perkembangan Como menarik untuk disimak. Kehadiran Fabregas sebagai pelatih muda dengan ide-ide segar menjadi bukti bahwa sepak bola Eropa terus berevolusi. Filosofi yang ia tanamkan—menjaga identitas di tengah tekanan—bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia yang kerap kehilangan arah saat menghadapi situasi sulit. Pertanyaan besarnya: mampukah Como mempertahankan konsistensi ini sepanjang musim, terutama dengan padatnya jadwal Serie A dan Liga Champions? Atau justru tekanan ganda akan menguji sejauh mana filosofi Fabregas benar-benar tertanam?



