Trump Ancam Hancurkan Iran: Eskalasi Selat Hormuz dan Dampaknya ke Harga Minyak
Baca dalam 60 detik
- Washington melancarkan serangan militer baru ke target IRGC di sekitar Selat Hormuz, memicu ancaman pembalasan dari Teheran.
- Presiden AS menegaskan tidak tertarik pada perjanjian damai dan mengklaim kendali penuh atas jalur minyak strategis tersebut.
- Konflik ini mendorong harga minyak mentah global naik 7% dalam sepekan, berpotensi menekan anggaran energi Indonesia.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru yang lebih berbahaya. Gelombang serangan militer AS yang menyasar instalasi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di sekitar Selat Hormuz pada pekan ini tidak hanya memicu ancaman pembalasan dari Teheran, tetapi juga mengguncang pasar energi global. Presiden AS, Donald Trump, bahkan mengeluarkan peringatan bahwa serangan terbesar masih "menunggu di sayap" jika Iran berani merespons.
Operasi militer yang dikonfirmasi Komando Pusat AS ini berjalan paralel dengan strategi tekanan ekonomi yang digagas Menteri Keuangan Scott Bessent. Sebelumnya, Bessent menyatakan ambisinya untuk "mencekik" perekonomian Iran hingga mereka bersedia kembali ke meja perundingan. Namun, Trump dengan tegas membantah narasi tersebut. Dalam pernyataannya, ia justru mengaku lebih menyukai posisi militernya saat ini yang dinilainya jauh lebih menguntungkan dibandingkan kesepakatan apa pun.
"Saya tidak peduli jika mereka menandatangani perjanjian yang tidak berharga bagi mereka. Saya jauh lebih menyukai posisi kami sekarang, dengan kendali hampir total atas Selat Hormuz, dan ekonomi mereka benar-benar runtuh," ujarnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Gedung Putih tidak lagi menargetkan negosiasi, melainkan kehancuran total rezim yang berkuasa di Teheran. Ancaman Trump semakin tegas: "Ketika ini selesai, hanya akan ada sedikit yang tersisa dari Republik Islam Iran!"
Di lapangan, laporan dari kantor berita pemerintah Iran, IRNA, menyebutkan ledakan dahsyat terjadi di sejumlah kota seperti Bandar Abbas, Sirik, Jask, dan Qeshm. Wakil Gubernur Provinsi Hormozgan, Ahmad Nafisi, bahkan menuduh serangan AS menghantam sebuah pesta pernikahan di desa Kuhestak, menewaskan lima orang termasuk seorang anak, serta melukai 68 lainnya. Tuduhan ini langsung dibantah keras oleh militer AS. "Kami menyadari laporan tersebut, yang berasal dari media pemerintah Iran. Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti IRGC," demikian pernyataan resmi Komando Pusat AS.
Eskalasi ini merupakan kelanjutan dari serangan sebelumnya ke fasilitas peluncur roket di Pulau Larak. Sebagai buntut, Iran meluncurkan rudal balistik ke pangkalan AS di pesisir Teluk Aqaba, Yordania. Sebagian besar rudal berhasil dicegat, tetapi tiga di antaranya jatuh di area kosong. Sementara itu, otoritas Uni Emirat Arab (UEA) mengklaim telah menembak jatuh drone Iran. Juru Bicara IRGC, Brigjen Hossein Mohebbi, melontarkan ancaman balasan: "Hukuman berat menanti para agresor dan Amerika akan menyesali serangan barunya."
Bagi Indonesia, konflik ini memiliki implikasi langsung terhadap anggaran energi dan stabilitas harga domestik. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga minyak mentah global akan membebani subsidi energi dan berpotensi memicu inflasi. Pemerintah perlu mengantisipasi gejolak harga BBM di dalam negeri, mengingat APBN telah dirancang dengan asumsi harga minyak yang lebih rendah. Jika eskalasi terus berlanjut, tekanan fiskal akan semakin berat.
Di sisi lain, konflik ini juga menguji ketahanan diplomasi Indonesia di kawasan. Meskipun tidak terlibat langsung, stabilitas Selat Hormuz sangat vital bagi keamanan jalur perdagangan dan pasokan energi nasional. Indonesia, melalui ASEAN dan forum multilateral, dapat mendorong de-eskalasi untuk mencegah dampak ekonomi yang lebih luas. Namun, dengan sikap Trump yang semakin agresif, peluang untuk meredakan ketegangan dalam waktu dekat tampak tipis.
Departemen Luar Negeri AS telah mengeluarkan peringatan perjalanan baru untuk seluruh kawasan Timur Tengah, meminta warganya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan balasan. Langkah ini mengindikasikan bahwa Washington sendiri memperkirakan situasi akan semakin memburuk. Pertanyaannya, sejauh mana Iran akan menahan diri? Dan apakah serangan "pamungkas" yang dijanjikan Trump akan benar-benar diluncurkan, membawa kawasan pada konflik yang lebih luas?



