London City Lionesses Buktikan Diri di WSL: Kalahkan Manchester United 2-1 di Laga Pembuka
Baca dalam 60 detik
- Klub promosi London City Lionesses langsung mencuri perhatian dengan menaklukkan Manchester United 2-1 di pekan perdana WSL, di hadapan 5.402 suporter di Hayes Lane.
- Kemenangan ini menegaskan bahwa proyek ambisius pemilik Michele Kang dan pelatih Eder Maestre bukan sekadar deretan nama besar, melainkan tim yang solid dan cepat menyatu.
- Kekalahan ini menjadi sinyal bagi Manchester United yang tengah beradaptasi di bawah pelatih baru Eva Olid, sekaligus memicu pertanyaan tentang persaingan papan atas musim ini.

London City Lionesses, tim yang baru promosi ke Women's Super League (WSL), langsung memberikan pernyataan telak di laga perdananya dengan mengalahkan Manchester United 2-1 di Hayes Lane, Jumat malam. Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin, melainkan bukti bahwa proyek ambisius yang dibangun di belakang layar telah berbuah manis di atas lapangan.
Sejak menit awal, London City menunjukkan intensitas tinggi. Tekanan ketat yang mereka berikan membuat Manchester United kesulitan mengembangkan permainan. Gol pembuka lahir dari sundulan Alanna Kennedy yang membelok setelah mengenai pemain lawan, disusul gol Danielle van de Donk yang kembali tampil gemilang setelah musim lalu diganggu cedera. Manchester United hanya mampu memperkecil kedudukan lewat gol Simi Awujo di masa injury time babak kedua.
Kemenangan ini menjadi pembuktian bagi pelatih Eder Maestre yang ditunjuk untuk menyatukan skuad berisi bintang-bintang dunia. Dua peraih Ballon d'Or, Alexia Putellas, yang baru bergabung, tampil sebagai pengatur irama permainan di lini tengah. Kehadirannya, bersama pemain seperti Grace Geyoro dan Mapi Leon, membuat London City tampil cair dan berbahaya. Pemilik klub, miliarder asal Amerika Serikat Michele Kang, yang hadir langsung di stadion dengan jersey baru bernama punggungnya, tentu tersenyum puas.
Bagi Manchester United, hasil ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pelatih baru Eva Olid. Ditunjuk pada 5 Agustus lalu, Olid masih harus meramu strategi dan membangun kepercayaan diri pemainnya. Pada babak pertama, United tampil tanpa gigi, gagal melepaskan satu pun tembakan. Perbaikan di babak kedua datang terlambat. Olid mengakui bahwa masalah utamanya adalah mentalitas, bukan kualitas.
โIni adalah proses. Dalam tiga minggu, saya tidak berpikir kami bisa langsung mendominasi bola dan menyerang. Di babak pertama, para pemain tidak percaya diri. Saya katakan di jeda: 'Ini bukan kita.' Di babak kedua, kami membangun serangan dari tengah, memainkan bola di ruang kosong, dan bergerak melewati garis. Itulah tim saya,โ ujar Olid seperti dikutip BBC Sport.
Kekalahan ini menjadi sinyal bahwa persaingan di papan atas WSL musim ini akan semakin ketat. London City, yang musim lalu masih bermain di divisi dua, kini menjadi kuda hitam yang siap mengganggu dominasi tim-tim mapan. Kemenangan ini juga menjadi sorotan bagi perkembangan sepak bola wanita secara global, termasuk di Indonesia yang tengah mengembangkan kompetisi serupa.
Bagi pengamat sepak bola wanita di Indonesia, keberhasilan London City menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana investasi dan manajemen yang serius dapat mempercepat kemajuan sebuah klub. Meski kompetisi di Indonesia masih jauh dari level WSL, langkah London City bisa menjadi inspirasi bagi klub-klub lokal untuk berani bermimpi dan membangun fondasi yang kuat, baik dari segi pembinaan pemain maupun profesionalisme manajemen.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah London City mempertahankan performa ini sepanjang musim? Atau justru Manchester United yang akan bangkit dan menunjukkan taringnya di laga-laga berikutnya? Musim baru WSL baru saja dimulai, dan kejutan di pekan pertama ini menjadi awal yang menjanjikan untuk sebuah musim yang penuh drama.



