De Rossi Akui Como Lebih Unggul: 'Mereka di Level Berbeda'
Baca dalam 60 detik
- Genoa menelan kekalahan ketiga beruntun di Serie A musim ini setelah ditundukkan Como dengan skor telak 4-1.
- Pelatih Genoa, Daniele De Rossi, secara blak-blakan mengakui keunggulan Como, menyebut tim lawan sebagai lawan terbaik yang pernah dihadapinya sejak menangani Grifone.
- Kekalahan ini menempatkan Genoa dalam posisi sulit di awal musim, dengan catatan sebagai start terburuk mereka di era tiga poin.

Genoa kembali menuai hasil pahit di Serie A. Bertandang ke markas Como, tim besutan Daniele De Rossi harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 1-4 pada laga pekan ketiga, akhir pekan lalu. Kekalahan ini menjadi yang ketiga secara beruntun bagi I Grifone di awal musim, sekaligus menegaskan krisis yang tengah melanda tim.
De Rossi, yang baru mengambil alih kursi kepelatihan Genoa, tidak menampik superioritas Como. Dalam wawancara usai pertandingan dengan DAZN, ia menyebut Como sebagai lawan yang paling memberinya kesan sejak ia menangani Genoa. "Mereka berada di level yang berbeda saat ini," ujarnya, mengakui kualitas kolektif dan individu pemain lawan.
Padahal, Genoa sempat unggul lebih dulu melalui gol perdana mereka musim ini yang dicetak oleh rekrutan anyar, Milutin Osmajic. Memanfaatkan umpan silang Lorenzo Colombo, striker asal Montenegro itu sukses menaklukkan kiper Como. Namun, keunggulan tersebut tidak bertahan lama. Como bangkit dan mencetak empat gol balasan melalui Assane Diao yang mencetak dua gol, serta Martin Baturina dan Nico Paz.
De Rossi mengakui bahwa timnya berusaha tampil agresif, namun tekanan yang mereka berikan justru mudah ditembus oleh permainan pendek Como. "Sulit melawan Como karena mereka bisa menguasai bola dengan baik. Jika garis pertahanan tidak sempurna, mereka akan membuat Anda membayarnya lebih mahal daripada tim lain," jelasnya. Ia juga menyoroti kualitas passing lawan yang jauh lebih bersih, membuat Genoa kesulitan untuk keluar dari tekanan.
Kekalahan ini menjadi catatan kelam bagi Genoa. Untuk pertama kalinya dalam era tiga poin, mereka memulai musim dengan tiga kekalahan beruntun tanpa meraih satu poin pun. Sebelumnya, mereka juga takluk dari Napoli dan Lazio. De Rossi sendiri mengakui bahwa beberapa kekalahan tersebut terasa berbeda; ia merasa timnya layak mendapat hasil lebih baik saat melawan Napoli, namun untuk laga melawan Como, ia jujur mengakui keunggulan lawan.
Bagi pengamat sepak bola Italia, pernyataan De Rossi ini menjadi sinyal bahwa Genoa tengah berada dalam masa sulit. Namun, ia tetap optimistis timnya bisa bangkit. "Skuad ini punya kemampuan untuk meraih poin di pertandingan yang kami butuhkan," tegasnya. Ia juga mengingatkan bahwa bursa transfer telah ditutup, sehingga mereka harus bekerja dengan pemain yang ada dan mengandalkan dukungan suporter untuk keluar dari zona bahaya.
Kekalahan ini juga menjadi pelajaran berharga bagi sepak bola Indonesia, khususnya dalam hal membangun tim yang solid. Como, yang baru promosi ke Serie A, mampu tampil impresif dengan merekrut pemain-pemain berkualitas dan menerapkan gaya bermain yang jelas. Hal ini berbeda dengan Genoa yang masih mencari bentuk permainan. Bagi klub-klub Indonesia, konsistensi dan perencanaan yang matang menjadi kunci untuk bersaing di level tertinggi.
De Rossi menutup dengan nada introspektif. "Kadang Anda kalah dan marah pada wasit, atau pada diri sendiri. Kadang Anda harus mengakui bahwa tim lain lebih baik, pelatih lain lebih baik," ujarnya. Pertanyaannya, akankah Genoa mampu bangkit dari keterpurukan ini? Atau akankah mereka justru terjerembab lebih dalam ke zona degradasi? Musim masih panjang, namun tekanan terhadap De Rossi dan anak asuhnya semakin besar.


