Gasperini Buka Suara: Chelsea Tak Pernah Kirim Tawaran Resmi untuk Koné, Roma Gagal Gaet Greenwood
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Roma, Gian Piero Gasperini, membantah adanya tawaran resmi dari Chelsea untuk Manu Koné di hari terakhir bursa transfer, meski laporan media Italia menyebut angka €60 juta.
- Roma terpaksa mengubur mimpi mendatangkan Mason Greenwood dan Crysencio Summerville karena keterbatasan finansial dan regulasi gaji, meski para pemain antusias bergabung.
- Gasperini menegaskan skuadnya justru semakin solid setelah sejumlah pemain kunci rela memotong gaji demi bertahan, menjadi modal berharga untuk bersaing di puncak Serie A.

Pelatih AS Roma, Gian Piero Gasperini, akhirnya angkat bicara mengenai rumor transfer yang mengelilingi klubnya pada bursa musim panas lalu. Dalam wawancara eksklusif dengan Gazzetta dello Sport, ia menegaskan bahwa Chelsea tidak pernah mengirimkan tawaran resmi untuk gelandang asal Prancis, Manu Koné, pada hari terakhir jendela transfer. Pernyataan ini sekaligus meluruskan kabar yang beredar sebelumnya bahwa Roma menolak tawaran senilai €60 juta dari klub London Barat tersebut.
Gasperini dengan tegas membantah dirinya menjadi penghalang transfer Koné. "Oh tidak, itu kredit yang tidak adil jika diberikan kepada saya," ujarnya. Ia mengaku tidak mendengar apa pun tentang Koné hingga pertandingan melawan Lecce, yang digelar sehari sebelum tenggat waktu transfer. "Setelah itu, tidak akan ada waktu untuk negosiasi. Lagipula, kami tidak pernah menerima tawaran resmi," tambahnya. Pernyataan ini muncul setelah Sky Sport melaporkan bahwa Roma menolak tawaran €60 juta dari Chelsea, sebuah angka yang kini dibantah oleh pelatih berusia 67 tahun tersebut.
Di balik hiruk-pikuk bursa transfer, Gasperini juga mengungkapkan perjuangan Roma untuk mendatangkan pemain bintang. Ia mengakui bahwa klub sempat mencoba merekrut Mason Greenwood dan Crysencio Summerville, namun upaya tersebut kandas akibat keterbatasan finansial. "Pada bulan Juni, saya pikir masalah kami sudah selesai dengan uang dari kualifikasi Liga Champions," katanya. "Ketika kami mencoba menandatangani Greenwood dan Summerville, saya menyadari itu tidak terjadi. Musim panas itu adalah siksaan: terus-menerus meninjau ide pasar dan harus melepaskan pemain yang antusias datang ke Roma karena batasan gaji."
Keterbatasan ini tidak lepas dari sanksi UEFA yang diterima Roma pada bulan Juni karena gagal memenuhi persyaratan keuangan. Klub harus menjalani perjanjian penyelesaian dan membayar denda. Kondisi ini memaksa manajemen untuk berhati-hati dalam belanja pemain. Meski demikian, Gasperini menilai pemilik klub telah melakukan yang terbaik di tengah keterbatasan tersebut. "Kepemilikan melakukan segala kemungkinan dalam batasan keuangan. Dan bagaimanapun, penyesalan saya telah terkompensasi," ungkapnya.
Kompensasi yang dimaksud adalah keputusan sejumlah pemain kunci untuk bertahan dan bahkan rela memotong gaji demi cinta pada klub. Nama-nama seperti Paulo Dybala, Mario Hermoso, Gianluca Mancini, Bryan Cristante, Lorenzo Pellegrini, dan pemain muda Lulli disebut Gasperini sebagai contoh dedikasi yang luar biasa. "Semangat ini adalah kekuatan kami. Itu tidak terjadi di mana-mana," tegasnya. Sikap ini menjadi modal berharga bagi Roma yang berhasil mempertahankan skuad inti dan menambah beberapa rekrutan anyar seperti Santiago Castro, Rodrigo Mora, Konstantinos Koulierakis, Nahuel Molina, Leonardo Balerdi, dan Marten de Roon.
Gasperini juga mengungkapkan bahwa klub masih mencari tambahan pemain sayap, namun ia menolak mendatangkan pemain medioker. "Gittens dan Luiz Henrique adalah upaya terakhir. Mendatangkan pemain biasa, hanya untuk itu, tidak masuk akal," katanya. Keputusan ini menunjukkan sikap selektif Roma dalam membangun skuad, meski harus merelakan peluang mendatangkan pemain incaran.
Di atas lapangan, hasil positif mulai terlihat. Roma memenangkan dua laga perdana Serie A dengan skor telak 4-0 melawan Fiorentina dan Lecce. Performa impresif ini memicu pertanyaan apakah Roma mampu bersaing memperebutkan Scudetto musim ini. Gasperini menanggapi dengan optimisme hati-hati. "Gairah selalu ada; sekarang saya melihat antusiasme, tapi itu matang dan sadar," ujarnya. "Lebih dari yang dipercaya orang di luar Roma. Anda tidak bisa dengan mudah membodohi penggemar Roma. Mereka memiliki musim yang hebat, tim yang hebat. Mereka memahami sepak bola. Hari ini, mereka adalah pendukung yang puas. Itulah kepuasan terbesar saya. Melihat mereka puas."
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kisah Roma ini menjadi pelajaran tentang pentingnya manajemen keuangan yang sehat di tengah gempuran bursa transfer modern. Klub-klub besar Eropa kerap dihadapkan pada dilema antara ambisi olahraga dan kepatuhan terhadap regulasi finansial. Keputusan Roma untuk mempertahankan pemain kunci dan menolak tawaran menggiurkan menunjukkan bahwa kesetiaan dan stabilitas bisa menjadi fondasi kesuksesan jangka panjang. Pertanyaannya, akankah pendekatan ini mampu mengantarkan Roma meraih gelar yang sudah lama dinantikan? Musim ini akan menjadi ujian nyata bagi filosofi Gasperini dan manajemen klub.


